Yuk Dilirik, Reksa Dana Diramal Jadi Primadona Investasi saat Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2020 12:06 WIB
Ilustrasi Reksa Dana
Foto: Dok Bank Mega
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi secara global memberikan dampak besar untuk pasar modal sejak awal tahun ini. Pada semester pertama, ekonomi Indonesia juga mengalami kontraksi akibat tertundanya investasi pada sektor riil dan permintaan domestik yang turun cukup drastis karena COVID-19.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana menyampaikan bahwa ekonomi secara global akan pulih secara bertahap atau membentuk U-shape dimulai pada kuartal ketiga ini.

Hal ini terlihat dari mulai meningkatnya aktivitas manufaktur beberapa negara Asia serta mulai pulihnya harga minyak meskipun masih disokong oleh permintaan yang terbatas.

"Kami masih optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup baik dan dari sisi pasar saham Indonesia menawarkan potensi imbal hasil cukup menarik bagi investor asing dimana PE (Price to Earning) ratio rata-rata saat ini cukup murah di level 12,4 per 10 Juli 2020, ditambah komitmen BI untuk menjaga kestabilan moneter dan mata uang rupiah," ujar Jemmy dalam acara diskusi BizInsight online yang diadakan oleh Bank Commonwealth, Selasa (14/7/2020).

Dia mengaku optimis reksa dana akan menjadi primadona investasi ke depannya. Menurutnya, industri reksa dana masih akan terus berkembang melihat tren pertumbuhan jumlah investor baru yang semakin meningkat dan bertambah meleknya masyarakat terhadap produk-produk reksa dana, terutama pada kalangan milenial.

Meski demikian, dengan adanya berbagai tekanan sentimen negatif yang masih melanda pasar baik dari domestik maupun eksternal, ia memperkirakan pertumbuhan industri reksa dana mencapai single digit di tahun ini.

Menurut Jemmy, pasar modal dikenal sebagai salah satu leading economic indicator sehingga pergerakan pasar modal cenderung akan mengikuti perubahan pandangan dan ekspektasi pada pertumbuhan ekonomi dan bisnis ke depannya.

Di sisi lain, Jemmy menambahkan, pertumbuhan NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksa dana seperti pasar uang dan pendapatan tetap masih tinggi. "Dalam kondisi pasar saat ini investor cenderung beralih ke reksa dana dengan profil risiko yang konservatif," jelasnya.



Simak Video "Airlangga: 143 Perusahaan Asing Mau Investasi ke RI"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)