ADVERTISEMENT

Harga Emas Turun Terus Bikin Pengin Nyerok? Eits, Tahan Dulu

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 19 Sep 2022 07:00 WIB
Gold ingots in the Siberian city of Krasnoyarsk, Russia, on Nov 22, 2018. A search of the woman led to the discovery of eight pieces of gold weighing a total of nearly 1.9kg.PHOTO: REUTERS
Ilustrasi Emas. Foto: REUTERS
Jakarta -

Harga komoditas emas terus mengalami penurunan. Mungkin sebagian orang menilai ini waktu yang tepat untuk membeli emas sebelum harganya melambung lagi. Tapi tahan dulu.

Harga logam mulia 24 karat keluaran Antam per 16 September kemarin berada pada level Rp 933.000 per gram, atau turun Rp 9.000 dari harga perdagangan kemarin.

Jika ditarik dalam sepekan terakhir, pergerakan harga emas Antam terpantau bergerak di rentang Rp 933.000.000/gram - Rp 950.000/gram. Sementara dalam sebulan terakhir pergerakannya ada di rentang Rp 933.000/gram - Rp 980.000/gram.

Biang Kerok Harga Emas Anjlok

Analis Komoditas Ariston Tjendra menjelaskan, penurunan harga emas erat kaitannya dengan rencana kebijakan kenaikan suku bunga acuan AS. Bank Sentral AS, Federal Reserve menegaskan akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuannya selama inflasi AS masih tetap tinggi.

"Kisaran inflasi AS saat ini masih di atas 8%, sementara targetnya adalah 2%. Belakangan muncul ekspektasi bahwa Bank Sentral AS akan menaikkan sebesar 100 bp, lebih tinggi dari sebelumnya 75 basis poin," ungkap Ariston, kepada detikcom.

Dari ekspektasi tersebut lah, lanjutnya, mendorong penguatan dollar AS sehingga menekan harga emas yang dinilai dalam dollar AS.

Tidak hanya itu, Ariston menambahkan, aktivitas para pelaku pasar yang memilih keluar dari aset emas dan masuk ke aset dollar yang naik tingkat imbal hasilnya juga membuat harga emas tertekan.

Turut menanggapi kondisi yang menimpa pasar komoditas emas saat ini, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, tingkat inflasi AS pada kuartal 3 tahun ini diprediksi akan terkontraksi 0,6%. Apabila itu terjadi, AS berarti masuk ke resesi dan bank sentralnya akan berkemungkinan menaikkan suku bunganya di bulan ini.

"Kenaikan suku bunga tidak hanya di September ini saja. Di November, Desember, kemungkinan besar Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga lebih ketat lagi, berarti di atas 75 basis point," terang Ibrahim.

Rusia yang akan menghentikan aliran minyak dan gasnya ke Eropa juga mempengaruhi harga komoditas emas ini. Kondisi ini, kata Ibrahim, mengindikasikan Eropa yang berkemungkinan besar akan mengalami inflasi cukup tinggi. Dengan demikian akan berimbas pada resesi di negara besar seperti Jerman.

"Kenaikan suku bunga 75% di Eropa ini bukan berarti harga emas ini naik tapi harga emas jatuh. Karena kondisi resesi ini membuat negara-negara Eropa kacau balau. Ini yang membuat inject dolar terus mengalami penguatan," jelas Ibrahim.

Apa Ini Waktu yang Tepat Untuk Beli Emas?

Menurut Ibrahim saat ini belum menjadi waktu yang tepat untuk membeli emas. Sebab dia memperkirakan harga emas akan kembali turun.

"Ini banyak orang yang terjebak. Banyak yang mengatakan ini sudah turun, ini waktu yang tepat untuk melakukan pembelian, belum," terangnya.

Saat ini, harga emas telah menyentuh US$ 1.664/oz atau Rp 797.127/gr. Ia memprediksi, harga emas ini akan terus mengalami penurunan hingga akhir tahun 2022.

"Harga ini masih akan terus jatuh. Ada kemungkinan besar harga ini akan di US$ 1.650/oz. Itu kenapa saya katakan, technical ini masih akan terus jatuh. Kalau seandainya tembus di US$ 1.650/oz, bisa saja harga ini akan terus turun," katanya.

Lanjut ke halaman berikutnya.



Simak Video "Harga Emas Naik, Warga di Parepare Ramai-ramai Jual Emas"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT