Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 29 Nov 2019 16:21 WIB

Pengamat: Jakarta Sudah Tidak Pas untuk Mobilitas Presiden

Anisa Indraini - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan ibu kota didukung oleh Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna. Menurutnya, lokasi Jakarta sudah tidak pas untuk berpindah kemana-mana karena kondisinya yang macet.

Yayat mengatakan, Presiden Jokowi menginginkan fungsi pelayanan pemerintah yang mudah diakses ke mana-mana. Sedangkan Jakarta dinilai sudah tidak mampu.

"Presiden itu menginginkan fungsi pelayanan pemerintah yang mudah diakses ke mana-mana, dan dia melihat lokasi Jakarta memang sudah tidak pas dalam konteks untuk mobilitas seorang Presiden, masyarakat, mau siapapun karena persoalan kemacetan," kata Yayat saat dihubungi detikcom, Jumat (29/11/2019).


Selain itu, alasan pemindahan ibu kota dinilai karena kerugiannya yang sudah hampir mencapai Rp 100 triliun.

"Nah kerugian itu juga bagian dari pertimbangan karena masa setiap tahun kita rugi terus. Maka pertimbangan Presiden itu adalah dia berpikir bagaimana sebuah ibu kota mudah diakses kemana-mana, mudah bergerak ke mana-mana," ucapnya.

"Bayangkan di Jakarta ini kelola perjalanannya di Jabodetabek itu sudah mencapai di atas 80 juta perjalanan. Nah jadi bisa kita bayangkan dengan kondisi seperti itu rasanya sulit untuk kita mudah kemana-mana," sambungnya.



Simak Video "Terjebak Macet, Jokowi: Itulah Kenapa Ibu Kota Dipindah"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com