Sempat Lesu Gegara Corona, Industri Properti Mulai Menggeliat

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 03 Sep 2020 19:15 WIB
meikarta
Ilustrasi Industri Properti
Jakarta -

Industri properti terlihat mulai menggeliat setelah mendapatkan stimulus dari pemerintah RI. Setelah beberapa bulan sejak pandemi virus Corona melanda bisnis properti mengalami tekanan besar pada bisnisnya.

Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan pada era new normal ini industri properti mulai ada peningkatan.

"Jadi kalau sebelumnya yang laku hanya rumah sederhana, sekarang mulai ada peningkatan pada segmen dengan nilai di bawah Rp 1,5 miliar," ujar Totok.

Sebagaimana diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerapkan kebijakan pemberian stimulus bagi perekonomian dengan menerbitkan POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease (Covid) - 2019.

Stimulus yang berlaku sejak 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021 itu ditujukan untuk debitur khususnya UMKM dan sektor yang paling rentan terkena dampak seperti industri pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, pengolahan, maupun pertanian.

Paulus mengakui, masa PSBB selama 4 bulan kemarin merupakan pukulan berat bagi para pelaku industri properti. Penjualan tidak menghasilkan pendapatan, sementara tetap harus menanggung beberapa pengeluaran.

"Seperti biaya langganan listrik, cicilan bunga dan pokok ke perbankan, termasuk biaya operasional karyawan karena pemerintah melarang pemutusan hubungan kerja (PHK). Tidak ada yang free," paparnya.

Kini pihak REI tetap minta tambahan relaksasi untuk sektor properti. Antara lain dalam bentuk penghapusan PPh21, pengurangan PPh Badan, Penurunan PPh final sewa dari 10% menjadi 5%, sampai penurunan PPh final transaksi dari 2,5% menjadi 1% berdasarkan nilai actual transaksi dan bukan berdasarkan NJOP (nilai jual Obyek Pajak).

Paulus menjelaskan bahwa selama masa pandemi ini, performa sektor properti di segmen bisnis mal turun 85%, hotel anjlok 95%, perkantoran berkurang 74,6%, dan perumahan komersil ada penurunan sekitar 50-80%.

"Khusus rumah masih tertolong karena masih ada yang subsidi pemerintah," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2