Bisnis Kos Eksklusif Turun 15% Imbas COVID, Kapan Pulih?

Pradito Rida Pertana - detikFinance
Senin, 02 Nov 2020 21:35 WIB
DParagon
Foto: D'Paragon (Istimewa/D'Paragon)
Yogyakarta -

Dampak pandemi virus Corona atau COVID-19 turut dirasakan pelaku usaha di bidang kos eksklusif. Okupansi kos eksklusif yang menyasar wisatawan dan pelaku perjalanan dinas disebut turun sekitar 15 persen.

Menurut salah satu pengusaha jaringan guest house dan kos eksklusif di Indonesia, M Syarif Hidayat, sejak Maret 2020 atau awal COVID-19 masuk di Indonesia, usahanya mengalami penurunan 10 sampai 15 persen.

"Usaha kos eksklusif masih stabil dan terbilang cukup aman dari dampak pandemi COVID-19. Tapi memang sejak Maret ada penurunan 10-15 persen," kata Syarif Hidayat kepada wartawan di Yogyakarta, Senin (2/11/2020).

Hal itu berkaca dari operasional jaringan kos eksklusif yang dikelolanya dengan target pasar mereka yang membutuhkan hunian untuk keperluan pekerjaan, perjalanan dinas, maupun mereka yang tengah melakukan urusan bisnis.

''Ya dampaknya karena sektor wisata kan menurun, tetapi itu tidak signifikan, tetapi kita masih eksis karena tertutupi oleh konsumen long okupansi, atau hunian bulanan. Sebagian besar datang dari luar kota,'' ungkap pemilik Royal D'Paragon Land ini.

Dari pengamatannya, diprediksi tahun 2021 permintaan pasar akan hunian kos eksklusif makin meningkat. Sehingga pihaknya memilih terus berinisiatif melakukan pembangunan.

"Kami sangat optimis, penambahan aset harus dilakukan karena permintaan kamar bulanan yang tinggi saat ini meskipun kondisi pandemi kami sering kekurangan supply kamar, jika tidak membangun maka di tahun 2021 kami tidak bisa memenuhi permintaan pasar, terlebih jika pandemi selesai, takut pasar membeludak," ujar Dayat.

D'Paragon sendiri saat ini sedang menargetkan merampungkan pembangunan di Jakarta sebanyak 2 building, Yogyakarta 2 building, dan Solo 1 building. Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan lokasi baru di Pontianak, Kalimantan Barat.

''Bagi pelaku usaha, proses pembangunan ini tidak berarti memanfaatkan situasi namun kondisinya diuntungkan karena banyak yang menjual aset-aset murah sehingga lebih menguntungkan dalam bisnis hospitaly property kos ekslusif,'' sambungnya.

Di tengah situasi pandemi COVID-19, menurutnya, pelaku usaha dipicu untuk memiliki celah strategi untuk tetap bertahan. Salah satunya dalam memilih pasar yang tepat, kemudian manajemen yang lebih adaptif dengan kondisi saat ini, termasuk mempertajam spesialisasi dan differensiasi bisnis dilandasi dengan integritas, menjadi kunci agar usaha bisa tetap berjalan.

''Dunia usaha sejatinya merupakan bisnis kepercayaan yang berkesinambungan, bagaimana membuat konsumen itu lebih percaya dan tidak lagi dipusingkan dengan ketakutan-ketakutan COVID-19. Pelanggan harus yakin jika berbisnis dengan anda di tempat andalah yang paling tepat,'' ujarnya.

Pihaknya sendiri sejak awal menyadari pentingnya kenyamanan bagi konsumen, sehingga dengan fasilitas sesuai protokol kesehatan yang memadai telah disiapkan untuk pola kehidupan baru, termasuk pengawasan di lapangan yang dijalankan secara disiplin, yang menambah tingkat kepercayaan pelanggan dan konsumen tinggal lebih lama.

"Para pelaku bisnis optimis, dengan treatmen yang tepat untuk menggeliatkan perekonomian bangsa dan tidak membiarkan pandemi Covid-19 terus mendera sektor ekonomi," imbuhnya.

(dna/dna)