Stok Rumah Membludak, Jakarta Paling Banyak

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 16 Feb 2021 16:20 WIB
KPR
Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah menurunkan permintaan terhadap properti menurun. Anomali juga ditandai dengan adanya penurunan harga properti atau harga rumah. Hal dibarengi dengan membludaknya stok properti di Indonesia.

Rumah.com Indonesia Property Market Index - Suplai (RIPMI-S) menunjukkan adanya lonjakan suplai di tahun 2020. Di tengah penurunan harga, semua area terus menunjukkan peningkatan suplai hunian yang ingin terjual.

Dalam dua kuartal terakhir, yakni kuartal III-2020 dan kuartal IV-2020, suplai properti mengalami peningkatan dengan rata-rata 37% per kuartal. Peningkatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kuartalan dalam lima tahun terakhir, sebesar 11,2% per kuartal.

Data Rumah.com menunjukkan bahwa suplai properti residensial terbesar masih datang dari DKI Jakarta, yakni sebesar 32% dari total suplai nasional. Sementara itu, Jawa Barat menyumbang suplai sebesar 30%, diikuti Banten (17%), dan Jawa Timur (12%).

RIPMI-S Q4 2020 untuk Jawa Barat mengalami kenaikan sebesar 19,5% (quarter-on-quarter), sekaligus yang terbesar di antara provinsi lainnya. Banten mengalami kenaikan sebesar 13%, sedangkan DKI Jakarta juga mengalami kenaikan yang hampir sama besarnya yakni sebesar 12,9% (quarter-on-quarter). Peningkatan suplai juga terjadi di Jawa Timur yakni sebesar 9% (quarter-on-quarter).

Indeks suplai Jawa Barat mengalami kenaikan karena didukung naiknya suplai di masing-masing wilayah seperti Bekasi pada Q4 2020 berada pada angka 183,8 atau naik 25,2% dari kuartal sebelumnya. Tren suplai ini meningkat baik pada tipe apartemen maupun rumah tapak. Adapun dari segmen rumah tapak Bekasi mengalami kenaikan sebanyak 25,7% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 173,3, sedang dari apartemen naik sebanyak 10,2% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 85,8.

Sedangkan indeks suplai Kota Tangerang Selatan berada pada angka 113,7 dengan kenaikan 16,3% (quarter-on-quarter), sementara Kabupaten Tangerang dengan indeks sebesar 227,3 mengalami kenaikan sebesar 12,1% (quarter-on-quarter). Kota Tangerang sendiri juga mengalami kenaikan sebanyak 16,7% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 157,6.

Menurut Country Manager Rumah.com Marine Novita, kenaikan suplai properti di wilayah satelit DKI Jakarta ini menjadi indikasi bahwa pengembang memfokuskan pembangunan hunian untuk kelas menengah dan menengah atas di kawasan-kawasan alternatif dengan harga yang lebih terjangkau.

"Harga properti di Kabupaten Tangerang saat ini berada pada kisaran Rp 7,4 juta/m2, sementara Bekasi masih Rp 8,7 juta/m2. Harga ini tentu jauh lebih rendah jika dibandingkan harga properti di DKI Jakarta yang minimal berada di kisaran Rp 22 juta/m2. Sama seperti Kota Tangerang, kawasan ini juga mengalami pembangunan infrastruktur transportasi yang pesat sehingga aksesnya menjadi lebih mudah," katanya.



Simak Video "Guru Honorer di Jabar Bakal Dapat Rumah Bersubsidi"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)