Bukit Algoritma 'Silicon Valley' RI Gimmick Doang?

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 15 Apr 2021 07:00 WIB
Jakarta -

Proyek Bukit Algoritma digadang-gadang akan menjadi 'Silicon Valley'-nya Indonesia. Namun banyak yang menyangsikan proyek yang menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Salah satunya adalah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang khawatir proyek hanya gimmick belaka. Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko, yang sekaligus juga memimpin proyek tersebut menanggapi pandangan tersebut.

"Pertama saya bukan ahli gimmick. Beberapa pekerjaan saya di masa lalu juga bukan gimmick," tegasnya kepada detikcom, Rabu (14/4/2021).

Kedua, lanjut Budiman, proyek Bukit Algoritma juga juga sudah memiliki seluruh aspek. Mulai dari sumber daya manusia (SDM) seperti peneliti, tanah, investor, dan pasarnya.

Bukit Algoritma dibesut oleh PT Amarta Karya (Persero) atau Amka, PT Bintang Raya Lokalestari, dan Kiniku Bintang Raya KSO.

Proyek ini akan dibangun di lahan seluas 888 ha di Cikidang dan Cibadak Sukabumi. Amarta Karya bertindak sebagai mitra yang membangun Bukit Algoritma, sedangkan Bintang Raya Lokalestari sebagai pemilik lahan.

Untuk tahap awal pembangunan selama tiga tahun ke depan, nilai total proyek diperkirakan bakal menghabiskan 1 miliar euro atau setara dengan Rp 18 triliun.

Untuk SDM sendiri menurut Budiman ada anak-anak Indonesia yang lulusan Silicon Valley juga sudah berminat untuk ikut berpartisipasi dalam Bukit Algoritma. Selain itu dia juga mengumpulkan putra-putri bangsa lulusan luar negeri dan dalam negeri yang fokus dalam teknologi dan riset.

"Saya sedang kumpulkan, banyak ada 200-an lebih. Mereka butuh pulang ke Indonesia. Mereka dapat beasiswa tapi mereka bingung pulang ilmunya kepake nggak? Saya bilang kepake nanti asal berkoneksi dengan desa-desa yang nanti akan beli produk inovasi kamu, dan diharapkan desa berinvestasi pada kecerdasan dan keahlianmu," terangnya.

Budiman mengatakan di Bukit Algoritma pihak yang menampung hasil risetnya adalah desa. Saat ini desa sangat membutuhkan teknologi pertanian, perikanan hingga penerapan IT.

Berlanjut ke halaman berikutnya.