Bisnis Sewa Rumah di China Lagi Naik Daun, Ada Angin Apa?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 15 Agu 2021 17:54 WIB
Apartemen di China
Foto: Salmah Muslimah
Jakarta -

Para investor menyerbu pasar properti sewaan di China. Beberapa pemodal besar mulai meningkatkan 'taruhan' mereka di bisnis properti sewaan China.

Dilansir dari Reuters, Minggu (15/8/2/2021), Beijing sedang merayu pemodal untuk membantu menyediakan perumahan sewa dan menarik banyak minat institusional. Di China, orang perlu tempat tinggal, tetapi rumah menjadi terlalu mahal untuk dibeli.

"Orang di China perlu memiliki perumahan untuk disewakan," kata Graeme Torre, direktur pelaksana APG Asset Management.

Pihak Torre sendiri kemungkinan akan mengucurkan sekitar US$ 1,17 miliar atau sekitar Rp 16,8 triliun (kurs Rp 14.400) ke dalam pasar perumahan sewaan di China selama 3-5 tahun ke depan.

Apartemen sewa jangka panjang terpusat adalah solusi terbaik untuk masalah keterjangkauan perumahan di kota-kota kosmopolitan China saat ini. Raksasa pemodal swasta AS sendiri mulai mendukung merek sewa apartemen China termasuk Mofang, Ziroom, TULU dan Base.

Beberapa langkah telah diluncurkan China untuk mengubah pasar yang didominasi oleh tuan tanah ritel. Dua insentif baru-baru ini dikeluarkan, mulai dari keringanan pajak besar yang efektif Oktober ini, dan peluncuran pasar untuk perwalian investasi real estat.

Peningkatan kepadatan penduduk dan mobilitas di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing, pembatasan pembelian rumah, serta pernikahan yang melahirkan anak di kemudian hari akan meningkatkan permintaan perumahan multi-keluarga.

Lembaga asing yang sudah terlibat dalam pasar perumahan sewa China termasuk dana kekayaan negara Singapura GIC dan Dewan Investasi Rencana Pensiun Kanada (CPPIB).

Total populasi penyewa China akan melebihi 240 juta pada tahun 2022. Di Shanghai saja, pasar multikeluarga kelas menengah dan atas akan menghasilkan setidaknya US$ 23 miliar pendapatan sewa tahunan.

(hal/dna)