Peluang Rumah Nempel Stasiun di Tengah Pandemi, Masih Diburu?

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 24 Agu 2021 11:59 WIB
PT Adhi Karya menghadirkan Royal Sentul Park. Kunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD) ini terintegrasi dengan Light Rail Transit (LRT).
Foto: Citra Fitri Mardiana
Jakarta -

Hunian bertema Transit Oriented Development (TOD) diproyeksikan akan menarik minat konsumen di kota besar seperti Jakarta dan kawasan penyangganya seperti Bekasi, Bogor, Depok, serta Tangerang. Hal ini seiring konsep hunian yang berada di kawasan transportasi publik, ditambah adanya insentif dari pemerintah.

Head of Advisory Services of Colliers International Indonesia, Monica Koesnovagril menyebutkan, saat ini pemerintah tengah gencar mendukung proyek kepemilikan hunian melalui pemberian sejumlah insentif dan fasilitas pendanaan. Termasuk untuk proyek-proyek hunian berbasis TOD hasil sinergi berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejumlah insentif tersebut diperkirakan menambah tingkat keterjangkauan hunian berbasis TOD oleh konsumen.

Monica menjelaskan, jika dijalankan dengan baik, TOD akan menjadi sebuah konsep hunian yang ideal bagi masyarakat. TOD merupakan hunian terintegrasi dengan sarana transportasi publik di tengah atau dekat dengan pusat kota sehingga bisa membantu masyarakat memangkas waktu perjalanan yang biasanya menjadi persoalan.

"Perjalanan menjadi lebih dekat, apalagi kalau misalnya TOD-nya ini LRT," ungkap Monica seperti dikutip Senin (23/8/2021).

Belum lama ini, pemerintah memperpanjang jangka waktu pemberian insentif pajak pertambahan nilai (PPN) yang ditanggung negara untuk penyerahan rumah tapak atau satuan rumah susun bagi rumah komersial dengan harga di bawah Rp 2 miliar per unit di pasar perdana.

Per Maret lalu, Bank Indonesia juga melonggarkan rasio Loan to Value (LTV) untuk mendorong sektor properti bangkit dari pandemi. Di luar itu, lembaga pembiayaan juga memberikan sejumlah keringanan.

Analis Samuel Sekuritas, Olivia Laura menambahkan, keberadaan insentif menjadi motor penggerak penjualan properti tahun ini. Hal ini terefleksikan dari penjualan marketing seluruh emiten properti yang mencapai lebih dari 50 persen pada semester I-2021.

"Pertumbuhan tinggi karena basis tahun 2020 rendah. Kalau dibandingkan dengan sebelum pandemi di 2019, pertumbuhan di semester I 2021 juga cukup signifikan untuk beberapa emiten," kata dia.

Berbagai insentif pemerintah terbukti mampu mendorong kinerja sektor properti di Indonesia. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Pasar Primer Bank Indonesia mengindikasikan indeks harga properti residensial - salah satu ukuran penjualan properti - terus naik. Pada kuartal II-2021, indeks harga properti tercatat 215,77 dan diperkirakan akan naik menjadi 215,88 pada kuartal III 2021. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang hanya berada di kisaran 211-213.

Bersambung ke halaman selanjutnya.