Raksasa Properti China Evergrande Krisis, Apa Dampaknya ke RI?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 21 Sep 2021 17:24 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Raksasa properti asal China Evergrande terancam bangkrut dan telah memicu protes dari para investor di kantor pusat Shenzhen China.

Kondisi ini bahkan disebut-sebut menjadi ujian berat untuk pemerintah China. Bahkan krisis Evergrande ini juga diprediksi bisa mengulang kejadian Lehman Brother pada 2008 lalu.

Menanggapi hal tersebut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan kejadian-kejadian seperti ini terus dipantau oleh bank sentral. Mulai dari perkembangan ekonomi dan pasar keuangan tak cuma di Amerika Serikat tetapi juga perkembangan di belahan dunia.

Menurut Perry dampak krisis Evergrande ini memang berpengaruh terhadap ketidakpastian pasar keuangan global. "Tentu saja ketidakpastian yang sejak dulu memang tinggi sempat mereda, kemudian jangka pendek terpengaruh oleh apa yang terjadi di China, khususnya kegagalan bayar korporasi (Evergrande) tadi," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (21/9/2021).

Dia mengungkapkan pengaruh ke global dan ke Indonesia lebih kepada faktor eksternal dan bukan faktor domestik. Bahkan menurut Perry kondisi ini tidak mempengaruhi investasi portofolio di Indonesia.

Hingga saat ini sudah terjadi net inflow per 17 September sebesar US$ 1,5 miliar. Ini tentu saja dampaknya terhadap investasi portofolio dan terus mengikuti kondisi pasar modal.

"Pada Indonesia terutama di awal pengaruh pasar modal berangsur mereda dan di pasar SBN dan nilai tukar dampaknya memang tidak banyak," imbuh dia.

Dia menyebut neraca pembayaran dan transaksi berjalan diperkirakan membaik. Neraca perdagangan pada Agustus 2021 tercatat surplus sebesar US$ 4,7 miliar, tertinggi sejak Desember 2006.

"Terutama dipengaruhi oleh peningkatan ekspor komoditas utama seperti CPO, batubara, besi dan baja, serta bijih logam, di tengah kenaikan impor seiring dengan perbaikan ekonomi domestik," ujar dia.

Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2021 meningkat menjadi sebesar US$ 144,8 miliar dolar, setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta melampaui kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Ke depan, defisit transaksi berjalan pada 2021 diperkirakan tetap rendah di kisaran 0,6%-1,4% dari PDB, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia," ujarnya.

(kil/eds)