Walini Senasib Dengan Jonggol, Spekulan Tanah Gigit Jari

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 20 Okt 2021 06:30 WIB
Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sampai saat ini masih terus dilakukan. Pembangunan yang paling terlihat di kawasan Walini, Jawa Barat.

Kawasan Walini akan dibangun hunian dan pusat bisnis yang terintegrasi dengan stasiun mengadopsi konsep Transit Oriented Development (TOD). Hotel hingga pertokoan juga akan dibangun di kawasan ini.
Ilustrasi/Foto: Ardan Ahid Chandra
Jakarta -

Spekulan tanah di Walini, Bandung Barat bakal gigit jari. Sebab PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memutuskan untuk tidak jadi membangun stasiun di Walini.

Bagaimana tidak, semenjak muncul rencana Walini bakal menjadi salah satu stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung tanah di sana sudah naik gila-gilaan.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit menilai, kawasan Walini bakal bernasib sama dengan Jonggol yang juga pernah dikerubungi para spekulan.

"Itu kan spekulasi, itu risiko dari pembelinya, karena dulu juga Jonggol dibikin seperti kota baru, terus nggak jadi. Bisa bernasib sama dengan Jonggol, karena Walini ini sebagai konsep pengembangan, kalau nggak jadi entah karena over run cost atau apapun ya itu nilai propertinya akan turun," tuturnya saat dihubungi detikcom, Selasa (19/10/2021).

Jonggol sendiri memang beberapa kali menarik perhatian para spekulan karena adanya beberapa rencana pengembangan. Pernah disebut menjadi ibu kota baru hingga yang terbaru adanya rencana pengembangan Jonggol menjadi kota baru.

Panangian menilai kenaikan harga yang sudah terjadi di Walini maupun Jonggol akan terus turun hingga lebih rendah dari harga awal.

"Wah lebih parah (penurunannya), karena sudah naik tinggi. Biasanya kalau spekulan begitu. Spekulan inikan bukan hanya tingkat individu, tingkat perusahaan juga banyak. Mereka mainnya bisa puluhan hektare," ucapnya.

Tidak hanya menanggung kerugian dari segi penurunan harga, menurut Panangian tanah di Walini juga akan sulit untuk dijual.

"Ya bakalan susah dijual, pertanyaannya siapa yang mau beli? Karena kalau di sana nggak ada manfaatnya ya pembeli nggak akan ada yang mau, walaupun diiming-imingi apapun," ucapnya.