Fakta Tanah Ibu Kota Baru: Harga Naik 10 Kali Lipat hingga Marak Sengketa

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 19 Jan 2022 07:36 WIB
Rancangan Ibu Kota Baru Indonesia Terungkap, Ini 4 Hal yang Diketahui
Foto: Istana Negara di Ibu Kota Baru (Dok. Instagram Nyoman Nuarta)
Jakarta -

Seiring dengan pemindahan ibu kota negara (IKN) baru ke Kalimantan Timur, harga tanah kian meroket. Fenomena ini mulai terasa di kawasan Sepaku, Penajam Paser Utara yang bakal jadi area ibu kota baru.

Sekretaris Kecamatan Sepaku Adi Kustaman mengatakan sejak pengumuman perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur 2019 silam, harga tanah di Sepaku mulai menanjak. Sampai saat ini kenaikan harga tanah kira-kira sudah terpantau 5-10 kali lipat dibandingkan sebelum adanya pengumuman perpindahan ibu kota baru.

"Paska pengumuman di 2019, Agustus waktu itu, diumumkan Pak Jokowi sebagian Penajam dan Kukar Kaltim sebagai ibu kota negara, itu ya sudah mulai kenaikan. Langsung saat itu juga. Kenaikannya ini dari 5 sampai 10 kali lipat," kata Adi kepada detikcom, Selasa (18/1/2022).

Fakta itu tidak sembarang diungkapkan olehnya. Pasalnya menurut Adi, ada data transaksi dan dokumen pertanahan yang dilakukan oleh masyarakat di kecamatan. Belum lagi ada beberapa kabar-kabar tawaran tanah yang dia dengar dari masyarakat.

Camat Sepaku Risman Abdul juga membenarkan hal tersebut. Dia bilang saat ini harga tanah di Sepaku sudah menyentuh Rp 250 ribu per meter, padahal dulu cuma Rp 50 ribu. Kalau satu hektarenya bisa mencapai Rp 2,5 miliar. Itu untuk harga tanah yang letaknya dekat dengan jalan utama.

"Nah kalau di pinggir jalan itu lebih tinggi lagi, dulu hanya Rp 50 ribu per-meter, kalau sekarang Rp 250 ribu per meter, jadi kalau satu hektare bisa sekitar Rp 2,5 miliar," kata Risman kepada detikcom.

Sementara itu, bila merujuk penuturan Adi, untuk lahan kawasan perkebunan di Sepaku harganya naik menjadi Rp 300-500 jutaan per hektare. Bahkan menurutnya masih ada yang harganya di atas itu. Padahal dulunya cuma Rp 75-100 jutaan saja.

"Sebelum pengumuman itu, tanah itu ya kayak perkebunan dan produktif itu cuma 75-100 juta saja per hektare. Kami di sini nggak bicara per meter, bicara hektare-an. Nah sekarang ini, kemarin aja sebelum disahkan UU hari ini, itu sudah sampai Rp 300-500 juta, beberapa ada yang di atas itu juga," ungkap Adi.

Adi percaya kenaikan harga tanah itu tidak akan berhenti sampai saat ini, bahkan akan makin besar jumlahnya di kemudian hari seiring dengan semakin nyatanya rencana perpindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur.

Maka dari itu, tren yang terjadi di tengah masyarakat adalah menahan tanahnya untuk dijual meskipun sudah ada tawaran yang masuk. Menurut Adi, masyarakat ingin menunggu kepastian lebih lanjut soal perpindahan ibu kota dan juga kenaikan harga lebih banyak di kemudian hari.

"Saya dengar kabar langsung juga pada menahan memang, mungkin menunggu benar-benar tinggi harganya dan ada kepastian (IKN baru) baru melepas," jelas Adi.

Lanjut ke halaman berikutnya

Simak Video 'UU IKN Disahkan-Ibu Kota Baru Bernama Nusantara':

[Gambas:Video 20detik]