Apartemen 'Hantu' Mulai Bermunculan, Pandemi Biang Keroknya

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 10 Feb 2022 18:00 WIB
Pertumbuhan harga harga hunian mewah di Jakarta pada kuartal II 2013 terus meningkat. Menurut Indeks Residensial yang dikeluarkan Jones Lang LaSalle Asia Pasifik, pertumbuhan harga hunian mewah di Jakarta melebihi Beijing.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Sektor properti mulai mengalami kemunduran akibat pandemi COVID-19. Bahkan saat ini banyak kondominium hingga apartemen yang kosong tanpa penghuni. Fenomena ini biasa disebut apartemen 'hantu'.

Perusahaan properti, Knight Frank Indonesia mengungkap ada 9.818 unit hunian seperti kondominium di central business district (CBD) belum terjual.

"Secara kumulasi akan bergabung dengan pasokan baru yang akan hadir di tahun ini dan 3 tahun ke depan," ungkap Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat dalam konferensi pers, Kamis (10/2/2022).

Harga dari hunian kondominium juga mengalami kemerosotan, rerata harga kondominium di central business district (CBD) Jakarta mengalami pelemahan hingga -5,1%.

"Pelemahan terjadi pada submarket CBD. Jadi untuk kondominium kami coba menganalisanya menjadi submarket prime CBD dan Non CBD. Harga unit baru 0,6% relatif lebih sedikit," jelasnya.

Sementara tingkat hunian untuk sewa apartemen menurun hingga menjadi 58,4%. Penurunan itu seiring dengan tidak bertambahnya pasokan unit apartemen sewa, angkanya masih stagnan 8.919 unit.

Untuk harga, terkoreksi cukup jauh dibandingkan kondominium. Harga sewa apartemen menurun -1% hingga -12%.

"Rerata harga sewa apartemen ini masih di bawah tekanan. Rerata pertumbuhan harga sektor apartemen CBD Jakarta memang cenderung melemah," ungkapnya.

Kemudian, sewa ruang kantor juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Syarifah mengungkap ada sekitar 2 juta meter persegi (m2) ruang kantor kosong di CBD Jakarta.

Tidak hanya itu, serapan ruang kantor di CBD Jakarta pada 2021 menurun hingga -97.047 m2. Kedua kondisi tersebut terjadi akibat pandemi terutama pada masa PPKM Darurat.

"Kita melihat ada hampir 2 juta m2 ruang kantor kosong di CBD Jakarta. Sarapan ruang kantor CBD di 2021 ini menurun -97,047 m2 akibat pandemi terutama pada PPKM Darurat. Ini juga pernah terjadi pada 2014 karena pada saat itu terjadi krisis ekonomi global," paparnya.

Dalam paparannya, penurunan memang telah terjadi sejak 2019, artinya sejak awal pandemi COVID-19 melanda. Pada 2019 turun menjadi 118.882 m2 dari sebelumnya di 2018 mencapai 155.177 m2. Kemudian anjlok lagi pada 2020 menjadi hanya 28.814.

Sementara tingkat hunian ruang kantor saat ini sebesar 71,8%, dengan koridor Thamrin yang menjadi yang tertinggi.



Simak Video "Sederet Fakta Kebakaran di Apartemen Bassura Jaktim Hanguskan 41 Motor dan 5 Mobil"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)