Duh! Evergrande Jadi Perusahaan Properti Dengan Utang Terbesar di Dunia

Iffa Naila Safira Widyawati - detikFinance
Kamis, 17 Feb 2022 13:18 WIB
Raksasa Properti China Evergrande Terancam Bangkrut
Foto: Raksasa Properti China Evergrande Terancam Bangkrut (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan China telah membekukan 640,4 juta yuan (US$ 101 juta atau Rp 1,4 miliar) aset yang dimiliki oleh anak perusahaan China Evergrande Group.

Pembekuan ini dikarenakan kontraktor Shanghai Construction Group menggugat unit Evergrande di kota barat daya Chengdu pada Desember akibat biaya konstruksi yang terlambat.

Mengutip putusan Pengadilan Rakyat Menengah Guangzhou melalui Reuters, Kamis (17/2/2022), bahwa aset yang akan dibekukan akan mencakup deposito bank dan real estat.

Kemudian, Shanghai Construction Group mengatakan pekan lalu pengadilan lokal di Guangzhou telah membekukan 361,5 juta yuan aset unit Evergrande yang berbeda di provinsi tengah Jiangsu.

Ternyata banyak pemasok dan kontraktor telah meluncurkan tindakan hukum kepada Evergrande. Hal itu menjadikan Evergrande sebagai pengembang properti paling banyak punya utang di dunia dengan kewajiban lebih dari US$ 300 miliar atau Rp 4,29 triliun (kurs 14.300) atas pembayaran yang terlewat atau terlambat.

Semakin banyak perusahaan konstruksi juga melakukan penghapusan aset atau mengeluarkan peringatan keuangan mereka karena masalah utang dengan Evergrande.

Untuk lebih mengawasi dan mengelola utang Evergrande oleh pihak berwenang, semua tuntutan hukum terhadap pengembang di seluruh negeri telah ditangani secara terpusat di Pengadilan Rakyat Menengah Guangzhou sejak Agustus 2021.

Evergrande menolak mengomentari gugatan dengan Grup Konstruksi Shanghai.

Chairman Evergrande, Hui Ka Yan mengatakan pada pertemuan internal awal bulan Februari, bahwa perusahaan bertujuan untuk sepenuhnya memulihkan pekerja konstruksi di seluruh China pada Februari. Dibanding dengan 93,2% pada akhir tahun lalu, dengan tujuan memberikan 600.000 apartemen pada tahun 2022.

Dia menambahkan perusahaan perlu melunasi utangnya dengan memulihkan sepenuhnya kegiatan konstruksi dan penjualan dan bukan dengan menjual aset dengan harga murah.



Simak Video "Gimmick Marketing"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)