ADVERTISEMENT

China Sedang Krisis Properti, Wanita Ini Kehilangan Rp 155 Triliun

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 29 Jul 2022 21:15 WIB
Yang Huiyan
Foto: ist
Jakarta -

Salah satu wanita terkaya di Asia, Yang Huiyan mengalami penurunan kekayaan menjadi US$ 11 miliar atau setara dengan Rp 165 triliun (asumsi kurs Rp 15.000). Padahal sebelumnya jumlah hartanya mencapai US$ 24 miliar atau setara dengan Rp 360 triliun.

Penyebabnya adalah China saat ini sedang dilanda krisis properti. Sehingga mengganggu pergerakan roda bisnisnya.

Dikutip dari CNN Business disebutkan dia saat ini memiliki Country Garden Holdings yang merupakan perusahaan pengembang real estat terbesar di China.

Tahun ini saham perusahaanya merosot karena real estat di China juga sedang tertekan. Mulai dari penurunan harga rumah, penurunan jumlah pembeli hingga gagal bayar yang terjadi pada beberapa perusahaan sejak tahun lalu.

Walaupun jumlah kekayaanya turun, Yang tetap menduduki posisi wanita terkaya di Asia berdasarkan Bloomberg Billionaires Index.

Pada tahun lalu memang salah satu perusahaan properti raksasa di China Evergrande gagal bayar obligasi yang mereka terbitkan dalam dolar AS. Kemudian Kaisa dan Shimao Group juga sedang menghadapi masalah keuangan.

Krisis di sektor real estat ini terus mengalami peningkatan karena ribuan orang yang membeli rumah merasa tak puas karena pembangunan yang molor. Bahkan para pembeli itu mengancam akan menghentikan pembayaran jika pembangunan tak bisa tpat waktu.

Perusahaan Yang Country Garden sedang mengalami tekanan likuiditas yang kuat. Pada Rabu lalu pengembang mengumumkan akan menjual saham dengan potongan harga yang besar hampir 13%. Demi mengumpulkan dana segar US$ 361 juta.

Dana yang terkumpul ini nantinya akan digunakan untuk pembayaran utang luar negeri perusahaan. Seorang analis di Capital Economics mengungkapkan ancaman boikot pembayaran angsuran dari konsumen akan menjadi ancaman besar untuk para pengembang.

Apalagi saat ini para pengembang kesulitan untuk menjual rumah karena banyaknya orang yang menunda pembelian rumah baru.

Dalam laporan S&P Global Ratings memprediksi pnjualan properti di China bisa turun hingga sepertiga pada tahun ini. "Tanpa penjualan properti para pengembang akan kesulitan, ini jadi ancaman untuk keuangan dan perekonomian," ujarnya.

(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT