Awal Mula Kejatuhan Sektor Properti China hingga Cekik Ekonominya

ADVERTISEMENT

Awal Mula Kejatuhan Sektor Properti China hingga Cekik Ekonominya

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 05 Okt 2022 15:01 WIB
Raksasa Properti China Evergrande Terancam Bangkrut
Foto: Raksasa Properti China Evergrande Terancam Bangkrut (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

China sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia nampaknya tengah dilanda masalah besar. Sektor properti yang menjadi sektor terbesar negara itu sedang sekarat-sekaratnya.

Melansir dari Financial Times, Rabu (5/10/2022) kejatuhan sektor properti dimulai dari gonjang-ganjing permasalahan pengembang properti ternama China Evergrande setahun lalu. Saat itu, utang perusahaan tersebut sudah jatuh tempo.

Bahkan, 'penyakit' utang itu juga menular ke perusahaan properti lainnya di China. Akibatnya, masalah tersebut menjadi beban ekonomi China dan menghambat pertumbuhan ekonomi negara itu juga.

Untuk diketahui, Evergrande adalah sebuah grup perusahaan induk investasi, yang bergerak dalam pengembangan, investasi, dan pengelolaan properti real estate. Perusahaan ini didirikan pada 26 Juni 2006 dan berkantor pusat di Shenzhen, China.

Dalam catatan detikcom, dari laporan CNN diketahui Evergrande memiliki utang yang terlampau amat besar yakni mencapai US$ 300 miliar atau setara Rp 4.551 triliun (kurs 15.172).

Permasalahan utama Evergrande adalah dari utang dan bunga yang membengkak. Ternyata selama ini mereka menutupi biaya operasional dari utang. Dengan total utang sebesar itu, Evergrande pun mendapat reputasi buruk dan di cap sebagai pengembang China yang paling banyak berutang di dunia.

Menurut para ahli, ambisi agresif perusahaan sendiri yang membuatnya terjerumus. "Perusahaan itu menyimpang jauh dari bisnis intinya, yang merupakan bagian dari bagaimana mereka masuk ke dalam kekacauan ini," kata Mattie Bekink, Direktur Unit Intelijen Ekonomi China.

Sanking perusahaan tidak bisa membayar utang tersebut, berbagai macam upaya dilakukan. Mirisnya, perusahaan sampai memberikan pilihan kepada karyawannya antara memberikan pinjaman kepada perusahaan atau tidak mendapatkan bonus gaji selama bekerja.

Setidaknya ada 70-80% karyawan Evergrande di seluruh China diminta untuk memberikan uang kepada perusahaan untuk membantu mendanai operasi Evergrande.

Selain itu, perusahaan juga telah menjual seluruh sahamnya di perusahaan streaming film dan televisi HengTen seharga US$ 273 juta.

Masalah ini juga sampai membuat pemerintah China turun tangan langsung. Pemerintah berusaha meyakini publik bahwa utang Evergrande dapat diatasi. Namun, sampai pemberitaan akhir tahun lalu, perusahaan masih kelewatan jatuh tempo untuk membayar sebagian utangnya.

Pengadilan China juga telah membekukan 640,4 juta yuan (US$ 101 juta atau Rp 1,4 miliar) aset yang dimiliki oleh anak perusahaan China Evergrande Group.

Permasalahan Evergrande juga menular ke perusahaan properti lainnya di China. perusahaan properti China Shimao Group yang menyatakan gagal bayar utang luar negeri senilai US$ 1 miliar. Utang itu telah jatuh tempo pada hari Minggu (3/7).

Selain itu, Kaisa Group (1638.HK) dan Sunac China (1918.HK) - telah gagal membayar obligasi luar negeri mereka.



Simak Video "3 Astronaut China Mendarat di Bumi"
[Gambas:Video 20detik]
(ada/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT