China Krisis Properti, Warga Ogah Bayar Cicilan KPR!

ADVERTISEMENT

China Krisis Properti, Warga Ogah Bayar Cicilan KPR!

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Rabu, 05 Okt 2022 17:41 WIB
Krisis bisnis properti terjadi di China, apa dampaknya bagi negara lain?
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Sektor properti China menghadapi kondisi buruk. Aktivitas real estate melemah, terjadi sentimen negatif yang menyebabkan pertumbuhan properti China melambat.

Kondisi ini sangat memukul ekonomi China. Sebab, properti dan sektor industri lainnya berkontribusi atas sepertiga Produk Domestik Bruto China (PDB) China.

Banyak pembangunan gedung apartemen mangkrak. Akibatnya para konsumen menolak membayar hipotek atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk bangunan yang belum selesai.

Bahkan banyak yang meragukan kalau bangunan yang mangkrak bakal diselesaikan. Permintaan untuk rumah baru turun sehingga jumlah bahan konstruksi yang diimpor berkurang.

"Ketika kepercayaan di pasar perumahan melemah, itu membuat orang merasa tidak yakin tentang situasi ekonomi secara keseluruhan," kata Louis Kuijs, chief Asia economist S&P Global Ratings seperti dikutip dari BBC, Rabu (5/10/2022).

Terlepas dari upaya Pemerintah China untuk menopang pasar real estat, harga rumah di puluhan kota telah menurun lebih dari 20% tahun ini. Dengan pengembang properti di bawah tekanan, analis mengatakan pihak berwenang mungkin harus berbuat lebih banyak untuk memulihkan kepercayaan di pasar real estat.

Melansir dari CNA, pasar properti cukup sensitif terhadap kasus apartemen mangkrak. 90% rumah baru di China dibeli saat masih dalam masa pembangunan.

"90 persen rumah baru yang dibeli di China dibeli di luar rencana saat masih dalam pembangunan," kata Yan Yuejin, direktur riset di Shanghai E-House.

Sejak Juni lalu ribuan pembeli rumah di 100 kota China mengancam akan menyetop pembayaran kredit KPR. Ini akibat tidak jelasnya kelanjutan pembangunan proyek yang mangkrak.

Ekonomi China memang lambat setelah terdampak COVID-19. Meski tidak sedang berjuang melawan inflasi tajam seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, China menghadapi banyak masalah seperti pada sektor properti.

Tingkat penjualan produk China menurun di level domestik dan internasional. Ketegangan perang dagang dengan AS semakin menghambat pertumbuhan.



Simak Video "Rumah atau Nikah, Ini Jawaban Vidi Aldiano "
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT