Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada para peternak untuk mengurangi produksi DOC (Days Old Chicken) atau anak ayam umur sehari sebanyak 15% pada pertengahan April 2014 lalu.
Kebijakan ini otomatis mengurangi jumlah stok ayam hidup umur dewasa di tingkat peternak, sedangkan permintaan tinggi sehingga harga ayam merangkak naik. Bayu berharap dengan adanya kebijakan ini, peternak tidak menaikan harga yang cukup tajam menjelang Puasa dan Lebaran 2014 mendatang.
"Sekarang dia (peternak) sudah lebih dari biaya pokoknya dan peternak sudah mendapatkan keuntungan di situ dan tidak memaksa kenaikan tertinggi saat Lebaran. (jelang Lebaran) harganya turun tidak, naiknya tidak terlalu tinggi," kata Bayu saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (28/05/2014).
Bayu mengatakana alasan kebijakan ini ditempuh karena Lebaran tahun lalu, harga daging ayam naik terlalu tinggi. Pada tahun lalu, harga ayam di tingkat peternak naik dari Rp 14.000/kg ke Rp 17.000/kg, lalu naik Rp 19.000-an/kg. Sehingga di tingkat konsumen naik dari Rp 26.000/kg ke Rp 29.000/kg nanti menjadi Rp 30.000/kg menjadi Rp 31.000/kg.
Menurut Bayu kebijakan ini menolong nasib para peternak yang sering rugi karena harganya jatuh. Sehingga untuk menutup kerugian itu, para peternak mengabil tindakan ambil untung saat jelang Lebaran karena tingginya permintaan ayam.
"Ada kebijakan kita kurangi DOC 15%, itu kita inginkan pada saat Lebaran harganya tidak loncat naik terlalu tinggi. Peternak diberikan ruang untuk naik dulu sekarang, sedikit naik dan terjadi kenaikan," katanya.
Ia menuturkan para peternak sudah terus rugi selama 4 bulan terakhir. Jika masalah ini tak disiasati, maka ada peluang para peternak memanfaatkan kesempatan saat ada permintaan tinggi.
"Dia akan genjot harga sekali dan merugikan konsumen," tuturnya.
Untuk jangka panjang, pihaknya akan mengatur secara keseluruhan rantai pasok produksi ayam di dalam negeri. Pengaturan tidak hanya dilakukan dengan pembatasan produksi DOC tetapi dengan menekan impor indukan ayam atau Grand Parents Stock (GPS).
"Sekarang yang akan diambil membuat satu kebijakan yang komprehensif mulai dari importasi GPS-nya sampai ke ritel jadi kita kelola secara terpadu. Diatur dalam bentuk Permendag, seluruh rantai pasok dari ayam akan diatur," jelasnya.
(wij/hen)











































