Strategi UMKM Makrame yang Penjualannya Naik hingga 450% Saat Pandemi

Nurcholis Ma'arif - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 15:09 WIB
Makrame
Foto: Instagram Dewa Collection Bali
Jakarta -

Pandemi yang membuat ambruk perekonomian dunia ternyata tidak berlaku buat usaha Dewa Collection Bali. UMKM yang menjual berbagai produk makrame ini malah mengalami kenaikan penjualan hingga 450%.

Dewanti Amalia Artasari (28), pemilik Dewa Collection Bali, menyebut omzet yang tadinya pada bulan Maret hanya Rp 2 juta per bulan menjadi naik puluhan juta hanya dalam kurun waktu empat bulan. Ia bahkan merekrut pegawai baru di tengah pagebluk ini.

Adapun produk makrame yang dihasilkan Dewa Collection Bali, yaitu mulai dari sarung bantal, hiasan dinding, kap lampu, gantungan pot, hingga ayunan. Sebagian besar bahannya menggunakan benang katun dan sisanya menggunakan benang nilon dan rotan.

"Basic-nya semua dari benang. Jadi kayak hiasan dinding, pokoknya home decor (dekorasi rumah). Kami juga membuat hiasan berbahan rotan, namun tetap dikombinasikan dengan benang," ujar Dewanti dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2020).

Awal Mula Usaha Makrame

Pada tahun 2017, Dewanti ikut pindah ke kampung halaman suami di Denpasar, Bali. Di sana, ia bekerja di toko seni yang menjual kerajinan makrame, tetapi hanya bertahan selama tiga bulan. Alasannya, ia merasa enggan bekerja jadi pegawai atau bekerja untuk orang lain.

Ia lalu mencari peruntungan dengan membuka warung nasi dan kedai, tetapi gagal. Dari sinilah ia memutuskan untuk belajar makrame dan memulai usaha yang sampai saat ini digelutinya. Ternyata modal belajar Dewanti hanya lewat video online dan mengamati cara kerja perajin di Bali.

"Saya enggak punya basic sama sekali bikin makrame, merajut, atau mengolah benang, enggak tahu sama sekali. Tapi, saya melihat cara membuat makrame di YouTube dan mengamati warga setempat. Tukang-tukang itu tertutup, enggak mau ngajarin," ujar dia.

Awalnya, Dewanti memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil produk makrame buatannya. Namun, karena banyak kasus penipuan, ia memutuskan hijrah menjual dagangannya ke marketplace Tokopedia. Dari sinilah kerja keras itu dimulai. Sang suami bahkan rela mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk membantu Dewa Collection Bali.

"Dulu waktu saya belum punya perajin, saya mengerjakan semuanya sendiri, baru tidur jam tiga malam karena harus menggarap pekerjaan. Pagi-pagi buka mata, benang lagi yang dipegang. Jadi semuanya enggak instan. Untungnya, suami saya juga mendukung," ujarnya.

Strategi Melawan Corona

Kerja keras Dewanti membuahkan hasil karena ia akhirnya mampu mengumpulkan modal dan membuat toko sendiri di Denpasar sejak bulan Januari silam. Namun, pagebluk yang melanda dunia, ternyata ikut membuat toko barunya itu sepi pengunjung.

Untuk bertahan, ia memutuskan menurunkan harga jual dan menawarkan berbagai promosi, baik berupa voucher dan cashback serta menerapkan sistem ready stock. Ini dilakukan untuk menarik lebih banyak orang pembeli dan membantu mereka yang mengalami masalah finansial akibat pandemi.

Hasilnya, produk sarung bantal dan hiasan dinding menjadi favorit para pembeli. Dewa Collection Bali kini kebanjiran order dan ia merekrut perajin guna memenuhi permintaan yang masuk. Saat ini Dewa Collection Bali mempekerjakan 30 karyawan yang terdiri dari perajin dan pengepul.

"Saya enggak mau buru-buru mengerjakan makrame karena hasilnya tidak bagus. Untuk perajin yang sudah profesional, target pengerjaan sebenarnya bisa 4-5 hiasan dinding per hari untuk produk standar, namun kami menggarap 2-3 produk (per hari)," jelasnya.

Masalah yang muncul selanjutnya ialah soal bahan baku. Selama pandemi, pengiriman bahan baku khusus kap lampu dan hiasan dinding dari Jawa mengalami kendala karena sulitnya moda transportasi. Jika sebelumnya pengiriman memakan waktu satu hingga dua hari, kini membutuhkan waktu tiga hingga empat hari.

"Di tengah Corona, saya justru merekrut beberapa orang, yakni untuk melakukan pengiriman dari Jawa dan tukang. Rencananya ingin merekrut admin juga, tapi masih sayang karena bisa di-handle sendiri. Saya bahagia bisa buka lapangan pekerjaan buat sekitar saya," katanya.

Dewanti menyebut sudah mengirimkan produk makramenya ke seluruh Indonesia. Sebagian besar pelanggannya berasal dari Jakarta, Bandung, Aceh hingga Kalimantan dan Sulawesi. Bahkan, beberapa pelanggannya adalah orang asing yang tinggal di Indonesia.

"Ke depannya ingin usaha ini lebih besar lagi sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan. Kalau banyak order, bisa merekrut banyak perajin. Saya ingin semakin dikenal oleh banyak orang. Yang penting orderannya banyak, bisnis semakin meningkat," ujarnya.

(mul/mpr)