Saatnya Jadi Bos

Berawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari Tempe

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 11:55 WIB
Berawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari Tempe
Benny Santoso/Foto: Dok. iniTempe
Jakarta -

Nama Benny Santoso tidak asing lagi bagi pecinta kuliner di Bali. Perantau dari pulau Jawa ini dikenal menjadi juragan tempe di Bali. Pemuda berusia 25 tahun ini sukses meraup cuan puluhan juta lewat usahanya, iniTempe.

Pemuda asal Solo ini bercerita awalnya menjadikan tempe sebagai tugas kuliah, kebetulan dirinya merupakan salah satu mahasiswa bidang kuliner. Dari proyek kecil tugas itu lah dia pertama kali bersinggungan dengan tempe, mulai dari belajar membuat tempe, hingga membuat olahan dari tempe itu sendiri.

"Itu saya sampai mesti observasi ke pabrik, cara bikinnya gimana, kemudian saya latihan lah di rumah sampai akhirnya bisa bikin," kisah Benny kala berbincang dengan detikcom, ditulis Selasa (12/1/2020).

Tugas kuliahnya waktu itu bertujuan untuk membuat olahan-olahan baru dari tempe. Dia dan teman-temannya membuat tempe dengan rasa baru, yaitu keju.

"Usaha ini memang awalnya cuma tugas kuliah. Kebetulan kan saya anak kuliner, saya bikin tempe. Tempe rasa keju, karena kalau kita lihat kan tempe ya rasanya begitu-begitu aja. Nah ini yang diterusin jadi usaha sampai sekarang," kata Benny.

Setelah lulus kuliah, sebenarnya Benny pernah bekerja menjadi juru masak, namun menurutnya waktu kerjanya cukup menyita waktu. Maka dari itu, dia memilih berbisnis berbekal pengalamannya dan membuat merek iniTempe.

Usahanya dibuka pada 2016, saat dirinya berusia 21 tahun. Dengan modal Rp 3,5 juta dia mendirikan iniTempe untuk membeli alat pengupas kedelai dan bahan baku kedelai untuk membuat tempe.

"Kebetulan ya saya anak kuliner, jadi udah punya banyak alat. Ya sudah mulai dulu saja, daripada proyeknya juga sayang dari kuliah," kata Benny.

Beruntungnya Benny tinggal di Bali, dia bisa memasarkan produknya sebagai oleh-oleh, baik untuk wisatawan asing maupun lokal. Sejak awal membuka usaha, dia banyak bekerja sama dengan restoran hingga ritel untuk memasarkan produknya.

"Sejak awal buka memang saya banyak kerja samanya ke ritel, restoran, hotel gitu buat jualin. Ya lumayan lah bisa jadi oleh-oleh," kata Benny.

Berawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari TempeBerawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari Tempe Foto: Dok. iniTempe

Kini rata-rata Benny mendapat omzet hingga Rp 50 juta sebulan. Bahkan ia juga pernah mendapatkan omzet hingga ratusan juta.

"Kita ya selama 4 tahun itu pernah paling besar Rp 100 (juta), pernah. Sekarang ya kira-kira puluhan juta, Rp 50 juta nyampe lah," kata Benny.

Benny mengatakan secara tidak langsung, produk tempenya ini sebetulnya sudah mendunia. Bagaimana tidak, dengan banyaknya turis yang menjadikan iniTempe sebagai oleh-oleh, bisa membuat produk Benny dikenal di negara lain.

"Mostly, di sini banyak orang asing yang beli, jadi dibawa ke Eropa, Amerika sebagai oleh-oleh oleh mereka sendiri. Memang pasar kita jadinya lokal dan internasional, kalau lokal tuh yang tempe mentah banyak yang cari, kalau turis asing bisa olahannya, apalagi kue kering," kata Benny.

Produk unggulannya ada dua, yaitu tempe mentah dan sederet olahan tempe. Sedangkan yang paling jadi andalan adalah kue kering alias cookies yang dibuat dari tempe. Yang jelas semua produknya merupakan olahan rumahan diproduksi sendiri.

Olahan tempe terbarunya adalah panganan sehat untuk orang yang ingin membentuk badan di gym ataupun diet.

"New product-nya tempe jadi tepung dan dijadikan energy ball. Jadi kalau makan itu bisa cepat kenyang, cocok buat yang mau gym bisa nyemil itu," katanya.

Dia menjual produk-produk olahan tempenya di kisaran dari Rp 20-50 ribuan per kemasan dengan ukuran 50-200 gram. Khusus untuk tempe mentah dengan beragam rasa, pihaknya menjual Rp 20 ribuan per pak yang terdiri dari 3 tempe dengan ukuran 90 gram.

Bagaimana kisah Benny bertahan di tengah pandemi? Klik halaman berikutnya.

Namun, kini di tengah serangan pandemi Corona yang menghantam industri pariwisata Bali membuat usaha Benny mengalami tantangan besar. Dagangan tempenya cukup sulit terjual karena sedikitnya wisatawan. Dia pun mengaku omzetnya merosot hingga 30%.

Namun tak mau menyerah, dirinya kini mengakali kondisi ini dengan fokus menjual produknya langsung kepada konsumen. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan channel distribusi online, dia merambah berjualan lewat sosial media, website, hingga ke marketplace.

"Penurunan kita kan sampai 30%, ini kita mikir lah agar survive gimana ya? Ya kita jadi fokus ke online, kita main ke website, sosmed, marketplace. Semua itu malah baru sebulan dua bulan lho," kata Benny.

Bagi yang berminat untuk memesan iniTempe bisa melalui Instagram @initempeid ataupun mengunjungi toko online iniTempe di beberapa marketplace seperti Shopee hingga Tokopedia.

Tantangan lain yang dirasakan Benny adalah kebosanan dan kecemasan sebagai anak muda yang menjadi pengusaha. Kadang bila mendapat masalah dirinya tak jarang mengeluh dan ingin menyerah. Bila sudah begitu, Benny mengatakan dirinya akan langsung berpikir apa alasan dirinya melakukan hal itu semua.

"Kalau tantangan sejauh ini lebih ke diri sendiri, bagaimana handle usaha, karena saya ini kan masih muda, jadi ada rasa bosan, cemas, sampai wah aku mau nyerah aja lah ini. Kayak lebih ke internal sih kalau kena masalah," kisah Benny.

"Kalau udah begitu aku akan inget lagi why, kenapa aku mau mulai ini, wah aku dulu mau apa tujuannya," sambungnya.

Berawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari TempeBerawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari Tempe Foto: Dok. iniTempe

Ada tiga hal yang jadi pegangan Benny sebagai pengusaha yang merintis usaha sendiri. Pedoman itu dia sebut 3P, pertama adalah passion alias keinginan dan hasrat untuk jadi pengusaha.

Kemudian yang kedua adalah patience atau kesabaran dan rasa tidak pernah bosan dalam memulai usaha. Lalu yang terakhir adalah persistence alias kegigihan dalam melakukan usaha. Ketiga hal itu menurutnya harus dimiliki oleh semua pengusaha muda yang mau merintis usahanya.

Benny juga mengungkapkan salah satu hal yang membuat dirinya yakin menekuni usaha tempe adalah hasrat untuk membanggakan produk-produk lokal. Menurutnya, tempe merupakan produk lokal, namun pengembangannya di masyarakat itu-itu saja, sehingga anak-anak muda pun tak terlalu tertarik untuk mengkonsumsi tempe.

Di sisi lain, harusnya tempe bisa juga menjadi makanan yang semakin dikenal di dunia dan menjadi representasi bangsa Indonesia. "Ini kan sayang ya banyak produk lokal nggak dikembangkan, biar bisa internasional gitu lho jadi kan jelas ya Indonesia punya budaya sendiri. Makanan Eropa aja bisa gitu masuk ke mana-mana. Buat anak muda juga harus bangga makan tempe," kata Benny.

Berawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari TempeBerawal dari Tugas Kuliah, Perantau Ini Raup Puluhan Juta dari Tempe Foto: Dok. iniTempe

Di sisi lain, dia mengatakan usahanya ini juga mendorong petani lokal kembali bergairah menanam kedelai, karena masih ada pasarnya. Pasalnya, belakangan ini banyak petani lokal yang tidak mau menanam kedelai karena kebanyakan produsen tempe pun menolak pakai produk lokal. Alhasil kedelai impor membanjiri pasar lokal.

"Jadi kita kan pakai kedelai lokal, kita ingin fokus back to local. Agar petani juga yuk nanem lagi kedelai. Kan selama ini peminat kedelai ini menurun, produsennya banyak yang nggak mau pakai. Kalau nggak ada yang tanam kedelai bisa punah," ungkap Benny.

"Bedanya kita dengan tempe lain itu gimana? Kita bikin tempe itu kedelainya dari Grobogan dan kedelai Bali itu di Bali Barat," sebutnya.

(ara/ara)