Saatnya Jadi Bos

Inspiratif! Kisah Pengamen Tanpa 4 Jari Jadi Bos Gitar Beromzet Rp 300 Juta

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 12 Feb 2021 17:38 WIB
Tonny Mahardika pengusaha gitar
Foto: Tonny Mahardika
Jakarta -

Setiap orang yang mau berjuang, tidak akan sulit untuk mendapatkan kesuksesannya. Apapun kondisi dan kekurangan yang dialami pun tidak akan menjadi halangan.

Seperti Tonny Mahardika, pria 35 tahun asal Bogor ini memulai perjuangannya sebagai bos toko gitar dari seorang pengamen jalanan. Kondisi fisik Tonny juga tak sempurna, dia tak lagi memiliki 4 jari jemari pada tangan kirinya.

Sudah belasan tahun Tonny kehilangan 4 ruas jari jemarinya, namun hal itu justru menjadi kilas balik hidupnya. Perjalanan panjang dimulai sejak dirinya kehilangan bagian tubuhnya itu.

"Awalnya saya kerja di pabrik sejak 2004, suatu waktu di 2006 saya kecelakaan kerja, putus jari saya empat ini karena mesin," kata Tonny mengawali perbincangannya dengan detikcom.

Dua tahun setelah kecelakaan itu, pabrik tempat Tonny bekerja melakukan PHK besar-besaran, Tonny pun berhenti bekerja sebagai pegawai pabrik. Sejak saat itu, Tonny pun memilih menjadi pengamen untuk menyambung hidup.

Bukan tanpa perjuangan, Tonny memilih menjadi pengamen pun sambil mencari pekerjaan. Namun kondisi fisiknya nampaknya menyulitkan untuknya mendapat pekerjaan.

"Jadi pengangguran nih, saya iseng lah ngamen tuh buat makan lah, sambil nyari kerja tapi. Itu rasanya susah banget dapat kerja apalagi ngeliat kondisi saya begini kan," ujar Tonny sambil menunjuk jarinya yang hilang.

Tiba lah di suatu hari dia merasa mendapatkan peringatan untuk tidak lagi jadi pengamen. Di hari itu dia mendapati sebuah selebaran dari dealer motor, di dalamnya bertuliskan promo untuk kredit motor dengan uang muka cuma Rp 500 ribu.

Dari situ dia langsung merasa nampaknya angkutan umum yang menjadi sasarannya untuk ngamen akan berkurang seiring dengan bertambahnya kepemilikan motor yang murah meriah. Tonny pun berpikir mencari cara untuk mendapatkan pekerjaan lain.

"Nah di situ saya pikir ini banyak orang bakal punya motor nih, angkutan umum pasti bakal kurang, tempat ngamen saya hilang dong. Nggak bisa jadi pengamen lagi kalau gini," ungkap Tonny.

Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi sales sparepart motor. Profesi baru ini dia geluti di akhir tahun 2012, dia mengaku cukup sukses dalam menjalani usahanya kali ini.

Dia bercerita dalam waktu empat bulan saja dirinya sudah mampu membeli motor sendiri. Motor baru, cash pula. Dia juga mengatakan aset yang dijualnya pun sudah pernah mencapai Rp 100 juta.

"Saya bilang cukup sukses di situ, saya jalan 2012 akhir, empat bulan kemudian saya bisa beli motor baru, cash lho itu, di awal 2013. Aset saya juga sudah hampir Rp 100 juta," kata Tonny.

Namun, kesuksesan itu bagaikan hilang dalam sekejap setelah di sekitar tahun 2015 Tonny menghadapi serangan barang impor dan perang harga. Masyarakat saat itu beralih ke produk impor yang lebih murah, barang milik Tonny tak lagi laku.

Padahal suatu ketika Tonny baru saja membelanjakan uangnya hingga puluhan juta untuk membeli stok barang baru. Saat dia mau mengirimkannya ke toko langganan tidak ada yang mau menerima.

Pada saat itu Tonny sudah sangat optimis barangnya akan laku, sehingga hampir seluruh uangnya dibelanjakan membeli stok dan hanya menyisakan Rp 1,2 juta di dalam sakunya. Itu pun Rp 500 ribunya digunakan untuk membayar kost. Otomatis sisa uang di tangannya cuma Rp 700 ribu.

"Stress dah saya di situ. Barang kita nggak laku, nggak kena harganya. Terus uang saya waktu itu juga mentok Rp 1,2 juta, bayar kosan Rp 500 ribu sendiri, sisa Rp 700 ribu lah di situ," ujar Tonny.

lanjut ke hamaman berikutnya