Saatnya Jadi Bos

Andika Ramadhan, Anak Jalanan yang Bisnis Skincare Beromzet Miliaran

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 17:28 WIB
Andika Ramadhan: dari Anak Jalanan hingga Sukses Bisnis Skin Care
Foto: Dok. Pribadi
Jakarta -

Andika Ramadhan Febriansah seorang mantan anak jalanan kini sukses menjalankan usaha perawatan kulit atau skincare untuk pria. Bersama teman kuliahnya, Andika mendirikan Clorismen skincare khusus pria pada 2016.

Kepada detikcom dia menceritakan sebelum sukses di Clorismen Andika juga berjualan risol dan roti di kampus. Kemudian mendirikan Clorismen bersama teman-temannya dia menjalankan tugas di bagian packing produk sampai sales.

"Dari situ saya mulai paham penjualan dan bagaimana membaca market, sampai akhirnya mengerti Clorismen secara keseluruhan," kata dia Selasa (2/3/2021).

Clorismen didirikan karena saat 2016 produk perawatan kulit khusus pria ini masih jarang ditemukan. Saat itu para pria terlihat enggan dan malu untuk membeli produk skincare karena memang paling banyak skincare hanya untuk perempuan.

Sebenarnya banyak pria yang peduli dengan penampilan. Nah dari sinilah Andika dan teman-temannya terinspirasi membuat produk untuk pria tersebut. "Kita hadirkan produk skincare agar pria lebih percaya diri," ujarnya.

Andika Ramadhan, Anak Jalanan yang Bisnis Skincare Beromzet MiliaranAndika Ramadhan, Anak Jalanan yang Bisnis Skincare Beromzet Miliaran Foto: Dok. Pribadi

Saat awal, penjualan dilakukan melalui online ke komunitas dan teman-teman mereka di kampus. Modal awal yang digunakan untuk membangun Clorismen ini sekitar Rp 50 juta yang merupakan hasil patungan dari 4 orang. Saat ini omzet per bulan mencapai Rp 1,5-2 miliar.

Pria yang gemar membaca ini menyebut sekarang reseller Clorismen sudah ada dari Aceh sampai Papua. Dia mengungkapkan dalam menjalankan bisnis ini, memang tidak selalu mulus. Ada kendala yang ditemui namun kendala bukanlah menjadi alasan untuk terus maju.

Dia mengungkapkan untuk anak-anak muda yang ingin memulai usaha jangan pernah ragu. "Kalau mau usaha bisa mulai aja dulu. Karena kalau mau usaha walaupun sudah disiapkan seperti apapun akan ada trial error atau rugi, itu biasa. Kalau kebanyakan takut di awal nggak akan pernah mulai," jelas dia.

Setelah menjalankan maka akan bisa membandingkan dan memikirkan untuk yang lebih baik ke depannya. "Memang pasti ada ketakutan rugi, namanya usaha pasti ada aja salahnya lebih baik habiskan waktu untuk mencoba dan mempelajari. Istilahnya habiskan jatah kegagalannya sekarang," ujar dia.

Bagaimana ceritanya sebagai anak jalanan? Klik halaman berikutnya.

Lihat juga Video: Waspada Kandungan 2 Bahan Berbahaya di Skincare

[Gambas:Video 20detik]



Pria kelahiran 26 Februari 1993 ini juga menceritakan dia pernah merasakan kerasnya kehidupan jalanan. Saat itu tahun 2008 dia dikeluarkan oleh sekolahnya karena sering tawuran dan sering bolos.

"Karena saya bukan anak yang berprestasi dulu, tapi lebih ke bermasalah suka tawuran akhirnya sekolah formal itu mengeluarkan saya. Saya minta ke orang tua mau sekolah lagi, tapi ibu bapak saya tidak sanggup membiayai akhirnya saya keluar dari rumah dan hidup di jalanan," ujar dia.

Selama hidup di jalanan Andika mengamen, mencuci piring di rumah makan sampai berdagang selama satu tahun. Setelah itu dia kembali ke rumah dan ingin kembali bersekolah.

"Bapak bilang dia belum punya uang, saya diminta masuk ke sekolah Master (Masjid Terminal) Depok, sambil bapak carikan uang. Saya kaget banget karena tidak seperti bayangan saya sekolahnya," kata dia.

Saat pertama kali ke Master, Andika melihat banyak anak-anak tidak memakai seragam dan bahkan tak ada ruang kelas. Ketika itu hanya ada kontainer bekas yang dicat warna hijau dan disulap menjadi ruang kelas.

Namun tekad ingin menebus kesalahannya membuat Andika bersemangat untuk sekolah. Di Sekolah Master ini Andika seperti menemukan dirinya kembali. Prestasi-prestasi mulai ia raih.

"Saya punya motivasi kuat saat itu ingin jadi orang yang berhasil. Alhamdulillah dapat guru yang baik. Founder sekolah Master pak Rohim juga sangat baik. Akhirnya saya bisa masuk kuliah di UNJ, meski sempat kesulitan membayar uang di awal masuk kampus akhirnya saya bisa," jelas dia.

(kil/ara)