Saatnya Jadi Bos

Modal Rp 5 Juta, Penjual Keripik di Nabire Keruk Omzet Rp 15 Juta/Bulan

Inkana Putri - detikFinance
Sabtu, 22 Mei 2021 18:56 WIB
penjual kripik
Foto: bri
Jakarta -

Punya usaha yang berkembang tentu menjadi impian banyak orang, seperti yang diinginkan wanita asal wanita asal Manokwari, Papua, Wulaningsih. Sejak belasan tahun lalu, Wulan ingin memiliki sendiri usaha pembuatan keripik keladi dan kerupuk. Keinginan ini muncul karena sejak muda dirinya sudah terbiasa membantu kakaknya menjual keripik di Nabire.

Usaha keripik juga dapat dibilang bisnis turun temurun di keluarga Wulan. Berkat dua alasan inilah akhirnya pada 2009, Wulan memberanikan diri membuka usaha penjualan keripik keladi karena tak ingin menganggur setelah menikah.

"Daripada habis menikah nganggur mending saya punya usaha saja, siapa tahu nanti ke depannya baik. Alhamdulillah, ternyata berjalan baik," ujar Wulan dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/5/2021).

Wulan bercerita awal merintis usaha, dirinya sempat kesulitan modal. Beruntung, saat itu ia mendapat bantuan pinjaman modal usaha dari BRI sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut lantas digunakan untuk mengembangkan usahanya sedikit demi sedikit.

Berkat ketekunan dan kegigihannya, Wulan pun sukes mengembangkan usaha keripik keladinya. Bahkan, kini ia mampu memiliki tiga petak tanah di kampungnya. Keberhasilan Wulan juga terlihat dari plafon pembiayaan yang semakin besar.

Saat ini, Wulan mengaku sudah dapat memperoleh bantuan modal usaha hingga Rp 200 juta dari BRI. Adapun pinjaman sebesar itu digunakan Wulan untuk membeli bahan baku, peralatan usaha, dan mengembangkan bisnis keripiknya.

"Saya waktu memulai usaha itu mendapat bantuan modal dari BRI, awalnya dapat pinjaman Rp 5 juta terus saya pinjam lagi dan sekarang Alhamdulillah BRI sudah memberi kepercayaan kepada saya, BRI memberi pinjaman untuk modal hingga Rp 200 juta," katanya.

Pesatnya perkembangan bisnis Wulan terlihat dari luasnya distribusi produk buatannya. Saat ini, keripik keladi milik Wulan sudah dijual hingga kota-kota besar di luar Papua seperti Makassar, Surabaya, hingga Solo.

Setiap bungkus keripik keladi tersebut dijual dengan harga Rp 14 ribu. Biasanya, Wulan mampu memproduksi hingga 80 pieces kerupuk per hari, atau sesuai pesanan.

"Harganya dari saya Rp 14 ribu, kalau dari toko yang menjual kembali ada yang seharga Rp 15 ribu ada juga reseller menjualnya Rp 18 ribu. (Omzet bisnis ini) per bulannya sekitar Rp 15 juta," ujarnya.

Selama berbisnis keripik keladi, Wulan mengaku tidak pernah menemukan kesulitan. Ia menyebut hanya beberapa kali harus menghadapi kendala dalam mencari bahan baku keladi jika mendapat pesanan cukup banyak.

"Pas kita keliling cari keladi tidak ada dan pesanan banyak saya pusing cari bahan baku utamanya. Kalau singkong kan banyak, sedangkan keladi itu susah adanya diambil di gunung. Saya biasanya beli langsung dari petani keladinya, langsung saya beli dan dibawa ke rumah untuk di produksi," ungkapnya.

Untuk membantunya menjaga kelancaran usaha, Wulan kini sudah mempekerjakan 5 pegawai yang masing-masing digaji Rp 2,5 juta per bulan. Para pekerja bisnis Wulan adalah warga sekitar tempat tinggalnya.

Wulan menjelaskan selama ini bisa sukses mengembangkan dan mempertahankan usahanya, bahkan di tengah pandemi sekalipun. Hal ini mengingat dirinya kerap mendapat pelatihan dan pendampingan dari BRI.

Wulan yang telah menjadi nasabah BRI sejak 2010 ini mengaku pelatihan dan pembinaan BRI banyak membantu dirinya untuk memperluas jangkauan usaha serta memberi solusi urusan pemasaran dan hal lain terkait bisnisnya.

"Saya sangat terbantu dalam modal usaha saya, sehingga saya bisa belanja dan berkat bantuan modal usaha dari BRI tersebut saya sudah membeli tanah di 3 lokasi dan rencananya mau buka kos-kosan," paparnya.

"Omzet saya jadi naik, bisa terbantu, saya di BRI bersyukur dan berterimakasih orang-orangnya baik kepada saya," tambah Wulan.

Ke depan, Wulan berharap pinjaman modal dan pendampingan dari BRI dapat diberikan dengan jumlah yang lebih besar. Ia pun menargetkan dapat memperoleh KUR dengan plafon Rp 500 juta, agar mempermudah mewujudkan keinginan membuka bisnis kos-kosan di Nabire.

Terakhir, Wulan berpesan kepada para pelaku UMKM, khususnya perempuan agar tidak pantang menyerah dalam berusaha. Menurutnya, perempuan juga dapat sukses menjalani usaha. "Pantang menyerah sebagai kunci kesuksesannya," tandasnya.



Simak Video "Para Srikandi Tangguh di Perairan Demak"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/hns)