Follow detikFinance
Selasa 07 Jul 2015, 07:28 WIB

Mentan Amran, Ciptakan Racun Tikus yang Datangkan Uang Miliaran

Suhendra - detikFinance
Mentan Amran, Ciptakan Racun Tikus yang Datangkan Uang Miliaran
Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, yang merupakan pendiri Grup Tiran, dikenal sebagai sang penemu racun hama tikus. Tiran dibangun dari sebuah proses yang cukup panjang yang menentukan arah hidupnya sebagai pengusaha.

Tiran berasal dari kependekan kata 'Tikus Mati Diracun Amran'. Saat Amran datang ke kantor detikcom dan CNNIndonesia, kemarin (6/7/2015), akhirnya ia menceritakan kisah awalnya menemukan racun tikus, yang kini membuatnya sebagai pengusaha sukses dari royalti penemuannya. Pendapatan royalti dari racun tikus yang diterima Amran rata-rata hingga Rp 100 miliar per tahun.

"Awal kisahnya terjadi serangan tikus di Indonesia termasuk di Sulawesi pada 1992. Waktu saya berpikir bagaimana menciptakan bom untuk tikus berbasis fumigasi. Butuh 13 tahun baru tembus (paten). Itu waktu masih kuliah," kata Amran.

Amran mengaku, butuh waktu kurang lebih 3 tahun untuk menciptakan sebuah formula racun tikus 'Tiran' yang sempurna.

"Saya berpikir, apa ya yang bisa meracuni tikus dari hidungnya, yang bisa asap monoksida, ini semacam bom tikus," kata Amran.

Ia punya prinsip, apa pun yang telah dikendaki oleh Tuhan, maka sesuatu yang awalnya tak berharga pun bisa menghasilkan uang. Amran mengaku, menciptakan formula racun secara otodidak, dengan semangat untuk membantu petani yang terkena serangan hama tikus.

"Allah yang berkehendak, batu pun dijual jadi uang. Saya dapat royalti Rp 100 miliar setahun," katanya merendah.

Namun, awalnya Amran tak mudah untuk mendapatkan hasil yang kini dinikmatinya. Produk racun tikusnya tak begitu saja diterima oleh pasar.

"Satu batang waktu itu saya jual Rp 100 nggak laku, aku beri gratis pada kabur (pembeli makin curiga). Sekarang harganya Rp 7.000 per batang laku keras, bagus itu," kata Amran tertawa.

Ia mengatakan, percobaan dan temuan racun tikus bukan satu-satunya produk yang dikembangkannya. Amran sempat mengembangkan beberapa alat inovasi, seperti mesin panen padi atau harvester. Namun masalah modal menjadi kendala dirinya saat melakukan inovasi pada waktu itu.

"Prinsip saya bagaimana menggunakan logika," katanya.

Amran merupakan lulusan S1, S2, S3 Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar dan pernah bekerja sebagai Pegawai PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV, Dosen Universitas Hasanuddin, serta Direktur dan Founder Tiran Group.

Sepuluh perusahaan yang masuk dalam unit bisnis Tiran Group adalah sebagai berikut: PT Tiran Indonesia (tambang emas), PT Tiran Sulawesi (perkebunan tebu dan sawit), PT Tiran Makassar (distributor Unilever), PT Tiran Bombana (emas, timah hitam), PT Tiran Mineral (tambang nikel), PT Amrul Nadin (SPBU percontohan Maros), CV Empos Tiran (produsen rodentisida), CV Profita Lestari (distributor pestisida), CV Empos (distributor Semen Tonasa), PT Bahteramas (pabrik gula di Konawe Selatan).

Selain soal keberhasilannya menemukan dan mengembangkan racun tikus, Amran juga menjadi pengusaha penambangan emas. Kisah awalnya cukup menarik, Amran mengaku awalnya membeli lahan namun secara kebetulan terkandung emas.

"Saya beli lahan ada emasnya," kata Amran tertawa.

(hen/dnl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed