Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 13 Mar 2018 15:25 WIB

Laporan dari Boston

Mahasiswa Harvard Penasaran dengan Gaya Komunikasi Susi

Ari Saputra - detikFinance
Foto: Ari Saputra/detikFoto Foto: Ari Saputra/detikFoto
Boston - Ketegasan dan cara kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang fenomenal terdengar hingga ke negeri Paman Sam. Sejumlah kebijakan seperti penenggelaman kapal, mengusir kapal asing ilegal dan pemberantasan penyelundupan menjadi sorotan.

Namun, salah seorang mahasiswa di Universitas Harvard justru tertarik bukan pada alasan berbagai kebijakan itu. Melainkan pada cara komunikasi Susi yang dinilai unik dan terdengar menyenangkan.

"Kita membutuhkan masyarakat. Dan kita membutuhkan publisitas. Lakukan itu dengan fun (menyenangkan). Buat sesuatunya dengan fun," kata Susi menjawab pertanyaan mahasiswa di di Harvard Kennedy School, Boston, AS, Senin (12/3) waktu setempat.

Ia mencontohkan, untuk mengkampanyekan anti illegal fishing, maka dipopulerkan kata 'tenggelamkan'. Kata tersebut menunjuk ke kebijakan penenggelaman kapal ikan ilegal yang menjadi viral, dibuat mural, meme, atau berbagai plesetan lain.

Akibatnya, kata tenggelamkan yang berarti serius melawan mafia perikanan menjadi lebih komunikatif, ringan, dan tak seseram aslinya.

"Tenggelamkan, bagi anak muda itu fun. Menjadi mural, meme, spanduk. Di sebuah rumah makan, ada tulisan 'Tidak Makan Ikan, Tenggelamkan'," imbuh Susi.

Belakangan, setelah kebijakan penenggelaman kapal dievaluasi, Susi tetap santai saja.

"Ya sudah, kapal Anda tidak saya tenggelamkan. Tetapi saya bikin monumen, (atau) kelililing Indonesia untuk pembelajaran, nanti dipasang spanduk 'Ini Kapal Pencuri Ikan'," ucap Susi yang disambut tawa para mahasiswa.


Bahkan, ke internal kementrian, Susi memberi contoh komunikasi yang tidak birokratis dan diganti yang lebih sederhana, efektif dan tepat sasaran.

"Kata-katanya complicated. Penguatan, pengembangan pengawasan, perencanaan, pendampingan, pengkajian. Baru akhirnya diberi kata seminarnya, misalnya pembuatan kapal. Satu kata itu satu seminar. Nggak boleh ada lagi," kata Susi mencontohkan.

Susi memberi gambaran bagaimana ia pernah menolak bantuan sampai puluhan miliaran rupiah hanya karena proposal tersebut penuh dengan kata-kata yang berbunga-bunga itu.

"Saya bilang, daripada duitnya untuk seminar-seminar, pengawasan, perencanaan, apa bisa duitnya langsung saja buat beli kapal ikan, buat kesejahteraan nelayan. Dia bilang tidak bisa, ya saya kembalikan uang itu ke negara," ucapnya dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos.


Dengan berbagai pengalaman itu, ia memberi tips kepada para mahasiswa untuk berkomunikasi dengan baik.

"Untuk benar-benar terbuka ke publik, lakukan dengan menyenangkan," pungkas Susi dalam sesi pidato dan diskusi sekitar satu jam tersebut. (Ari/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed