Follow detikFinance
Jumat, 27 Apr 2018 11:29 WIB

Sofyan Djalil, Guru Agama Bolak-Balik Jadi Menteri

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir-detikFinance Foto: Eduardo Simorangkir-detikFinance
Jakarta - Setiap manusia bisa menjadi ahli di bidang apapun, namun tidak ada satu pun manusia yang bisa ahli dalam hidup. Menjadi manusia yang terus belajar merupakan kunci kelancaran karir dari Menteri Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil.

Sosok ini mungkin sudah tidak asing, karena Sofyan pernah bolak balik menjadi pembantu dua presiden dalam beberapa periode. Beberapa jabatan yang pernah ditugaskan padanya yaitu menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2004-2007. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu di 2007 - 2009.

Sofyan juga kembali menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi di Kabinet Kerja di tahun 2014- 2015. Setelah ramai resufle menteri kabinet kerja, Sofyan di tahun 2015 Sofyan kembali menduduki kursi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia atau Kepala Bapenas di tahun 2015-2016. Kemudian di tahun 2016 hingga kini Sofyan Djalil tengah ditugasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mensertifikatkan bidang tanah di seluruh Indonesia untuk mengepalai Kementerian ATR/ BPN.


Dengan daftar panjang perjalanan karir yang bolak balik jadi menteri, siapa sangka lelaki kelahiran Aceh Timur 64 lalu itu dulunya merupakan guru agama di sebuah sekolah dasar?

Siang itu detikFinance berbincang ringan dalam wawancara khusus dengan Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil saat kunjungannya ke Kabupaten Siak Provinsi Riau. Setelah paginya lelaki ini membagikan 1.000 sertifikat tanah kepada masyarakat Siak melalui program reforma agraria.

Dalam perjalanan saat berbincang dengan Sofyan di mobil dinasnya, ia mengaku segala hal yang ia raih saat ini tidak terlepas dari pembelajaran hidup yang ia ambil setiap hari.

"Prinsip saya dimanapun saya berada saya harus menciptakan nilai tambah di manapun berada. Bahkan itu prinsip yang ada di dalam hidup ini. Dulu saya sekolah PGA, khotbah itu profesi saya yang sebenarnya yang lain hobi saja. Pernah jadi guru agama 2 tahun di SD, saya disekolahkan di madrasah sanawiyah kemudian disekolahkan lah saya ke PGA, dan jadi guru agama," kata dia bercerita kepada detikFinance.


Usai lulus dari sekolah guru di Aceh ia kemudian bercerita mengenai perjalanan dan pengalamannya saat mengajar. Sofyan bahkan pernah dibayar Rp 50 per bulan atau saat ini setara dengan Rp 400.000 selama dua tahun bahkan sampai harus tinggal di belakang sekolah selama menjadi guru SD.

"Saat jadi guru PGA di Aceh gaji saya dulu Rp 50 per bulan itu kalau sekarang mungkin Rp 400.000. Itu Rp 50 rupiah zaman dulu. Tapi kalau dilihat sekarang pun masih banyak guru madrasah TK yang gajinya Rp 400- 500 makanya kita harus bangun agar negeri ini makmur biar nggak ada lagi orang yang dikasih honor 400-500 ribu," ujar dia.

Setelah dua tahun menjadi guru honorer daerah, Sofyan tidak juga diangkat menjadi PNS. Kemudian Sofyan beralih profesi untuk bekerja di pabrik karet, selama bekerja Sofyan tetap aktif mengikuti organisasi mahasiswa hingga akhirnya memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Perjalanan karir yang terus berkembang dimulai di Jakarta. Sofyan dimulai mengambil jurusan Hukum di Universitas Indonesia, tidak hanya itu setelah banyak bergaul dan memiliki wawasan luas dari teman sejawat dan senior di kampus lelaki asal Aceh ini berhasil mengejar impian untuk sekolah di luar negeri.

Berkat keuletan dan jeli melihat peluang Menteri ATR melanjutkan sekolahnya ke Amerika dengan mengambil jurusan public policy. Setelah itu ia juga melanjutkan kuliahnya sampai ke tingkat S3 dalam Master Hubungan Ekonomi Internasional yaitu Pasar Modal.

"Saya kalau khotbah itu profesi yang sebenarnya. Jadi setelah ngajar di SD 2 tahun saya nggak diangkat jadi pegawai negeri. Pegawai 'honda', honorer daerah. Jadi di belakang sekolah itu ada ruangan saya tinggal di situ gaji saya itu hanya cukup untuk masak beli beras nggak diangkat jadi PNS saya pindah kerja ke pabrik karet 2 tahun saat itu saya aktif organisasi PII," beber dia.

Sofyan yang dulunya begitu mengagumi Menteri Luar Negeri Era Soeharto yaitu Adam Malik mengaku tidak pernah terfikir akan mengikuti jejak sosok yang dikaguminya untuk bolak-balik menjadi menteri.


Sebagai informasi, Adam Malik juga merupakan sosok pejabat yang beberapa kali menjadi menteri, yaitu Menteri Perdagangan di era Soekarno, Menteri Luar Negeri di era Soeharto bahkan Adam Malik pernah menjadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto di tahun 1978-1983.

"Saya dulu mengagumi Adam Malik. Dulu dia menlu ya bersyukur meskipun nggak jadi Menlu, bisa jadi menteri menteri yang lain. Makanya buat cita-cita besar karena cita-cita itu adalah doa. Saya selalu pikir optimistis saja, jadi menteri enggak jadi menteri kita harus berbuat sesuatu yang baik untuk masyarakat untuk orang banyak keluarga dalam posisi apapun itu yang harus kita tanamkan," jelas dia.

Karena pernah bolak-balik jadi menteri tentunya Sofyan harus mengalami proses adaptasi yang cepat. Dari segi sistem sampai teknik, Sofyan mengaku seseorang tidak perlu jadi ahli dalam bidang apapun. Untuk bisa maju dan berusaha, seseorang hanya perlu mendengar dan terus belajar.

"Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Selalu ada nilai tambah setiap hari. Kalau hari ini sama seperti kemarin bisnis ussual mereka rugi, orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin itu orang yang beruntung," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed