Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 22 Nov 2018 10:32 WIB

Cerita Sukses

Kisah Bocah Korban Bully hingga jadi 'Iron Man' (2)

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Elon Musk dijuluki sebagai pengusaha "nyentrik" dan futuristik sehingga sering diasosiasikan sebagai sosok Tony Stark di dunia nyata. Tony Stark adalah salah satu tokoh dalam film besutan Marvel yang menciptakan Iron Man.

Julukan sebagai Tony sangat cocok disematkan pada Musk lantaran keduanya merupakan miliuner yang sukses dengan bisnis teknologi, yakni SpaceX - perusahaan transportasi luar angkasa. Musk bahkan berambisi bisa mengirim manusia ke Mars dengan roket buatannya.

Setelah berhasil mendirikan PayPal hingga akhirnya menjualnya pada 2001, Musk mengambil langkah untuk mewujudkan misi mengeksplorasi ruang angkasa.

Dia sampai pergi ke Moskow untuk berbelanja rudal balistik antarbenua Soviet (ICBMs) yang dapat dipasang kembali untuk mengirimkan muatan ke luar angkasa. Namun Musk gagal mewujudkan niatnya tersebut karena malah dianggap tidak serius oleh perusahaan kedirgantaraan Rusia yang menangani mereka.

Pada tahun 2002, dia mencoba lagi. Kali ini membawa mantan kapitalis ventura CIA. Tetapi perusahaan-perusahaan kedirgantaraan Rusia menginginkan terlalu banyak uang untuk roket mereka.

Musk akhirnya memutuskan untuk memulai sebuah perusahaan yang akan membangun roket berbiaya terjangkau, menggunakan integrasi vertikal dan pendekatan modular rekayasa perangkat lunak. Ide-ide itu memuncak dalam peluncuran SpaceX pada tahun 2002, yang misinya menciptakan ruang tanpa batas yang sebenarnya.

Space-X lebih dari sekadar hobi buat Musk. Dia berinvestasi hingga US$ 100 juta untuk memulainya.



Perusahaan menamai roket pertamanya Falcon 1, mengambil nama Millennium Falcon dari Star Wars. Falcon 1 mencatatkan sejarah pada tahun 2009 sebagai roket berbahan bakar cair pertama yang didanai swasta untuk menempatkan satelit ke orbit Bumi.

Sejak peluncuran yang menentukan itu, SpaceX terus membuat sejarah. Ketika kendaraan SpaceX Dragon-nya berlabuh dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2012, itu adalah perusahaan komersial pertama yang pernah melakukannya.

Pada bulan Desember 2015, perusahaan berhasil mendaratkan kembali roket Falcon tahap pertama di landasan peluncuran. Tahap ini untuk mempelajari roket dan melihat apa yang bisa direplikasi selanjutnya.

Space-X bukannya perusahaan tanpa laba. Pada 2006, NASA memberi SpaceX kontrak untuk mengembangkan kendaraan peluncur Falcon 9, yang ditindaklanjuti dengan kontrak lain senilai US$ 1,6 miliar pada 2008. Namun, di luar keuntungan yang dicarinya, Musk melihat SpaceX adalah kebutuhan vital.

"Jika Anda melihat ke masa depan, peradaban antara manusia dan luar angkasa, bagaimana bisa kita selamanya dikurung di Bumi sampai akhirnya nanti peristiwa kepunahan terjadi," katanya.

Pada bulan September 2016, Musk menguraikan rencana untuk mengeksplorasi dan akhirnya menjajah Mars.

Selain itu, Musk juga membawa idealisme yang sama dengan berekspansi ke usaha teknologi besar lainnya, yakni Tesla Motors Inc. (TSLA). Perusahaan itu pertama kali didirikan pada tahun 2003 oleh Martin Eberhard dan Marc Tarpenning.

Pada saat itu, Musk masuk sebagai investor terkemuka, memasukkan US$ 7,5 juta ke perusahaan mobil yang baru lahir tersebut. Musk juga mengambil peran aktif di perusahaan, di antaranya mengelola desain Tesla Roadster.



Dia terus berinvestasi di tahun-tahun berikutnya hingga akhirnya diangkat sebagai CEO Tesla Motors pada tahun 2008. Mobil pertama perusahaan, Tesla Roadster, terjual 2.500 kendaraan di 31 negara.

Salah satu masalah yang dihadapi mobil listrik adalah kekurangan stasiun pengisian, terutama jika dibandingkan dengan jaringan stasiun gas nasional. Pada 2013, Musk mengatakan Tesla berinvestasi dalam penciptaan stasiun pengisian lebih banyak di pantai Timur dan Barat.

Dia juga mengumumkan bahwa Tesla Motors akan memungkinkan produsen mobil lain untuk menggunakan paten teknologinya untuk mempercepat pengembangan mobil listrik di seluruh dunia.

Untuk mengatasi produksi energi tersebut, Musk muncul dengan ide pembentukan SolarCity, perusahaan yang merancang, membiayai dan memasang panel surya. Dia juga akan membangun stasiun pengisian mobil listrik bekerja sama dengan Tesla Motors.

Pada 2014, SolarCity memiliki lebih dari 6.000 karyawan. Musk telah berjanji untuk membangun pabrik SolarCity di Buffalo, New York, yang akan berukuran tiga kali lebih besar dari pabrik tenaga surya terbesar di Amerika Serikat. Perusahaan ini telah berkembang menjadi penyedia sistem tenaga surya terbesar kedua di Amerika Serikat, dan Musk masih merupakan pemegang saham terbesar.

Musk terus berinvestasi untuk masa depan. Pada 2013, ia merilis proposal untuk mesin hipotetis yang akan membawa penumpang dari Los Angeles ke San Francisco dalam 35 menit atau bahkan kurang. Dia menyebutnya Hyperloop, yang diperkirakan memakan biaya US$ 6 miliar untuk membangunnya.

Pada 2015, ia mengumumkan rencana untuk membangun jalur Hyperloop 5-mil. Proyek ini pum masih terus berlanjut hingga saat ini.

Tidak puas untuk berinovasi dalam dunia keuangan, otomotif, dan luar angkasa, Musk dalam beberapa tahun terakhir juga mengalihkan perhatiannya ke kecerdasan buatan atau artificial inteligent.

Pada bulan Desember 2015, ia mengumumkan pengembangan OpenAI, sebuah lembaga penelitian yang bertujuan mengembangkan kecerdasan buatan umum yang aman dan bermanfaat yang dapat diakses secara luas.

Bersamaan dengan proyek ini, Musk juga telah mengembangkan Neuralink, yang ia dirikan pada tahun 2016. Neuralink adalah startup neuroteknologi yang meneliti bagaimana mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan otak manusia.

Musk benar-benar seperti seorang Iron Man (Tony Stark) dalam dunia nyata. Berbagai karya yang dihasilkannya tentu tak pernah terpikirkan di masa lalu, atau bahkan hanya pernah terpikirkan dalam mimpi.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed