Kisah Inspiratif

Sarjana Teknik dan Dior di Balik Louis Vuitton yang Mendunia

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 10 Nov 2020 09:30 WIB
PARIS - MARCH 05:  Charlize Theron and Bernard Arnault attend the Christian Dior Ready to Wear show as part of the Paris Womenswear Fashion Week Fall/Winter 2011 at Espace Ephemere Tuileries on March 5, 2010 in Paris, France.  (Photo by Francois Durand/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Siapa yang tak mengenal merek Louis Vuitton? Di seluruh dunia, merk ini terkenal sebagai raksasa barang fesyen mewah dengan harga selangit. Lalu, siapa sosok dibalik merek tersebut?

Dia adalah Bernard Arnault. Berkat bisnis barang mewahnya tersebut, Arnault tercatat sebagai orang terkaya ketiga di dunia, tepat di bawah CEO Amazon Jeff Bezos dan pendiri Microsoft Bill Gates. Bahkan, tahun lalu, Arnault sempat menyalip Bill Gates dengan total kekayaan saat itu US$ 108 miliar.

Meski tak lagi berada di posisi kedua orang terkaya di dunia, kekayaan Arnault tetap bertambah. Mengutip Forbes, Selasa (10/11/2020), kekayaan Arnault kini mencapai US$ 134,1 miliar atau naik sekitar 7,47% dari kekayaan sebelumnya.

Latar belakang pendidikan dan karier awal Arnault sebenarnya jauh sekali dari bidang fesyen maupun bisnis.

Ia merupakan lulusan teknik dari École Polytechnique di Palaiseau pada tahun 1971. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan ayahnya, mengembangkan perusahaan yang juga mengembangkan perusahaan di bidang konstruksi bernama Ferret-Savinel.

Tak lama setelah itu, tepat di usianya yang ke-25 tahun, Arnault mengambil alih bisnis keluarganya tersebut. Ambisi membesarkan perusahaan itu pun muncul. Tak hanya ingin jadi perusahaan nomor wahid di Prancis tapi jadi perusahaan kelas dunia.

Benar saja, tepat saat Presiden Prancis Francois Mitterrand memimpin pada tahun 1981, Arnault langsung pindah ke Amerika Serikat (AS) dan mencoba membangun divisi baru di sana. Namun, kemudian ambisinya itu sedikit berubah. Ia tiba-tiba ingin mengubah fokus perusahaan keluarganya tersebut. Akhirnya, bisnis fesyen menjadi pilihan hatinya.

Idenya masuk ke bisnis fesyen sebenarnya datang tanpa disengaja. Saat ia mengobrol dengan seorang sopir taksi New York, ia iseng bertanya. "Apakah kau mengenal siapa Presiden Prancis?"

Lantas, sopir itu menjawab, "Tidak, tapi saya mengenal Christian Dior."

Dari situlah, Arnault sadar bahwa Prancis dikenal karena fesyennya. Bila ia berambisi memiliki perusahaan kelas dunia, bisnis inilah yang paling tepat untuk dikembangkan.

Pada 1984, ia pun mulai merambah bisnis fesyen mewah. Saat itu, ia tahu Christian Dior akan dijual pemiliknya. Dengan cepat kilat, ia langsung memburu perusahaan itu.

Begitu menguasai Christian Dior, Arnault langsung membuat gebrakan besar untuk perusahaan ini. Ia langsung memecat sebanyak 9.000 pekerja di sana. Hal itu cukup ekstrem di Prancis sampai-sampai ia mendapat julukan 'Serigala Berjubah Kasmir' karena kebijakannya tadi.

Selanjutnya
Halaman
1 2