Kisah Inspiratif

Jalan Panjang Eric Yuan Temukan Zoom hingga Jadi Miliarder Dadakan

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 09 Feb 2021 08:00 WIB
a
Foto: istimewa

Sesampainya di Amerika, Eric tak bisa pilih-pilih kerja, karena bahasa Inggrisnya juga tidak lancar-lancar amat saat itu, belum lagi aksen China nya masih begitu kental. Kelebihannya ada pada penulisan kode komputer.

Oleh karena itu, dia akhirnya menjadi teknisi di WebEx, sebuah startup konferensi web, yang akan dijual ke Cisco 10 tahun kemudian pada tahun 2007. Sebagai salah satu dari 20 karyawan pertama, dia adalah angkatan perintis.

"Saya tidak bisa bergabung dengan tim pemasaran atau tim penjualan. Saya harus kembali menulis kode. Saya tahu dua hal dari ayah saya: terus bekerja keras, tetap rendah hati, dan suatu hari nanti Anda akan baik-baik saja," katanya.

Benar saja, dia tetap setia dengan WebEx. Saat WebEx diakuisi Cisco senilai US$ 3,2 miliar, ia akhirnya menuai hasil. Dia menjadi sangat kaya. Namun, tidak seperti beberapa staf lainnya, yang setelah menikmati keuntungan itu lalu pergi, Yuan tetap bertahan dengan perusahaan itu.

"Dia belum siap untuk pergi. Dia memiliki banyak loyalitas," kata David Knight, Wakil Presiden di WebEx pada saat akuisisi.

Yuan begitu terikat dengan perusahaan Amerika pertamanya sehingga dia menyebut WebEx sebagai bayinya.

"Dia tulus, hampir naif karena dia selalu peduli dengan pelanggan WebEx dan bahwa mereka tidak dilayani," ujar Subrah Iyar, salah satu pendiri WebEx.

Ketika WebEx merayakan IPO-nya di NASDAQ pada tahun 2000, Eric Yuan ada di sana bersama mentornya Subrah Iyar. Setelah dibeli oleh Cisco, Yuan naik pangkat menjadi Wakil Presiden bidang teknik Cisco. Gajinya melejit sangat tinggi mencapai 6 digit. Tapi entah mengapa dia tidak bahagia.

"Setiap hari, ketika saya bangun, saya tidak terlalu bahagia. Saya bahkan tidak ingin pergi ke kantor untuk bekerja," ungkap Eric Yuan.

Dia tidak melihat satu pun pelanggannya puas dengan produk video conference yang telah dia bantu kembangkan selama bertahun-tahun. Jadi pada tahun 2011, Yuan menawarkan sistem video conference yang ramah dengan smartphone untuk manajemen Cisco.

Sayangnya, ide itu ditolak oleh bos barunya. Bos barunya masih betah menggunakan kode buggy yang sama dengan yang dia tulis untuk WebEx kira-kira 20 tahun yang lalu.

Eric pun meninggalkan Cisco untuk mendirikan perusahaannya sendiri yaitu Zoom Video Communications.

"Cisco lebih fokus pada jejaring sosial, mencoba membuat perusahaan Facebook. Cisco membuat kesalahan. Tiga tahun setelah saya pergi, mereka menyadari apa yang saya katakan itu benar," katanya.

Namun, bukan berarti setelah keluar dari Cisco dan mendirikan Zoom, urusannya langsung mulus, langsung cuan. Di awal mengembangkan Zoom, dia kesulitan meyakinkan investor untuk mendukung usaha barunya tersebut. Akhirnya ia terpaksa meminjam uang dari teman dan keluarga.

Kesulitan-kesulitan itu membuat istrinya ragu dengan keputusan Eric keluar dari Cisco dan memilih mendirikan Zoom. Namun, dengan sabar ia meyakinkan istrinya bahwa pilihannya itu sudah tepat.

"Saya tahu ini perjalanan yang panjang dan sangat sulit, tetapi jika saya tidak mencobanya, saya akan menyesalinya," kata Yuan.

Tak lama, lebih dari 40 rekan insinyur WebEx mengikutinya mengembangkan Zoom. Namun, perjalanannya mengembangkan Zoom tetap tak mulus begitu saja. Zoom sempat dituduh tak jujur oleh salah satu pelanggannya. Akhirnya, Eric mampu meyakinkan pelanggannya tersebut bahwa tuduhan itu tidak benar. Perlahan, Zoom mulai berkembang pesat.

"Saat saya memulai Zoom, saya mulai menghubungkan titik-titiknya. Rasanya seperti wow, saya pernah memikirkan itu sebelumnya, tapi teknologinya belum siap, tapi idenya ada di sana," imbuhnya.