Kisah Inspiratif

Cita-Cita Jadi Dokter Gigi, Jahja Kini Jadi Bos BCA

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 08 Apr 2021 05:31 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menggelar seminar soal tantangan dan strategi digital branding. Hal itu disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.
Foto: Istimewa
Jakarta -

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) saat ini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Bank yang berdiri 21 Februari 1957 sekarang dipimpin oleh Jahja Setiaatmadja sebagai Presiden Direktur.

Sebagai orang nomor satu di BCA, Jahja memiliki cerita hidup yang menarik. Dia bukanlah pewaris tahta di Grup Djarum.

Dalam program Ask d'Boss detikcom Jahja menceritakan ayahnya hanya seorang kepala kasir di Bank Indonesia (BI) dan ibunya hanya Ibu Rumah Tangga biasa.

"Bank Indonesia nya keren, tapi statusnya sebagai kasir, bukan pejabat tinggi atau setingkat direktur. Saya disiplin dari melihat mereka bekerja dan mengatur waktu," ujar dia, dikutip Selasa (9/3/2021).

Hal ini turut mempengaruhi pendidikan Jahja. Dulunya dia sangat ingin menjadi dokter gigi. Namun sayang, keinginannya tak tercapai karena ayahnya tak sanggup membiayai.

Dikutip dari wawancara detikcom, ayah Jahja menyebut jika ia ingin kuliah maka harus mengambil jurusan ekonomi di Universitas Negeri.

Akhirnya dia menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi UI. Selama 2 tahun Jahja ke kampus naik bus kota dan kemudian orang tuanya mencicil sepeda motor Honda CB 100. Rute perjalanan dari rumah di Hayam Wuruk kemudian melalui jalan Antara melalui Masjid Istiqlal, Gunung Sahari sampai FE UI di Salemba.

Kemudian saat menjadi mahasiswa tingkat akhir, Jahja mulai bekerja di perusahaan akuntan publik Pricewaterhouse.

Jahja bekerja atas rekomendasi kakak kelasnya di UI bernama Idrus Munandar. Dia saat itu mendapat gaji Rp 60.000 setiap bulan karena ia menjadi akuntan junior. Dia senang bukan kepalang saat pertama kali mendapatkan gaji pertamanya.

"Waktu pertama kerja di minggu-minggu awal saya sempat disuruh fotokopi file audit. Baru deh setelah itu mengaudit," tambah dia.

Dia menceritakan walaupun sudah mendapatkan gaji dari pekerjaanya, namun masih belum cukup memenuhi kebutuhannya. Karena itu dia juga menjadi tukang sewa kaset video milik anggota Komisi Pembantu Setempat (KPS) Penabur. Ia menawarkan kaset-kaset itu ke teman sekolah dan kuliahnya.

lanjut ke halaman berikutnya