Kisah Inspiratif

Cita-Cita Jadi Dokter Gigi, Jahja Kini Jadi Bos BCA

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 08 Apr 2021 05:31 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menggelar seminar soal tantangan dan strategi digital branding. Hal itu disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.
Foto: Istimewa

Setiap minggu Jahja datang ke tempat teman-temannya untuk membawa kaset baru. Nah dari kegiatan inilah dia kenal dengan Direktur kalbe Farma Rudy Capelle (saat ini sudah almarhum). Saat itu Rudy adalah pelanggan setia Jahja. Siapa sangka kala itu Kalbe membutuhkan karyawan.

Akhirnya Jahja masuk menjadi asisten manajer. Setelah masuk Kalbe Farma, Jahja berhenti menjadi tukang sewa kaset video. Pada 1982 Jahja akhirnya berhasil menyelesaikan skripsi yang tertunda dan dia mengantongi gelar Doktorandus.

Dua tahun setelah itu dia menjadi manajer keuangan hingga 1988 dan ketika usianya 33 tahun Jahja menjadi Direktur Keuangan Kalbe Farma.

Selang satu tahun, Jahja pindah ke Indomobil sebagai Direktur Keuangan. Tak lama kemudian dia diminta untuk pindah ke BCA.

Di BCA Jahja tak memulai sebagai direktur, dia menjadi wakil kepala divisi atau setingkat general manajer. Hal ini karena BCA lebih besar dibanding perusahaan pendahulunya.

Pada 1996 jahja menjadi kepala divisi treasury sampai 30 April 1999. Kemudian saat BCA diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Jahja diangkat menjadi direktur.

Ia mengemban jabatan direktur hingga 2005 dan ia diangkat menjadi wakil presiden direktur.

"Saya diminta bantu pak Setijoso untuk jadi wakil. Kemudian 2009 pak Setijoso memutuskan jadi Komisaris Utama saja, saya diminta jadi Presiden Direktur dan resmi menjabat pada 2011 sampai sekarang," imbuh dia.

Keluarga Paling Utama

Keluarga adalah segalanya untuk Jahja. Ia saat ini selalu berupaya untuk membahagiakan anak dan istrinya. Caranya adalah dengan menyempatkan setiap waktu luang untuk bisa bersama mereka.

Jahja mengaku sedih, ia tak bisa maksimal membahagiakan kedua orang tuanya. Ibu Jahja meninggal pada 1983 silam sebelum ia menikah. Kemudian sang ayah meninggal pada 1995.

"Saya sedih, dulu hanya bisa mengajak dia jalan-jalan ke puncak, tapi memang waktu itu kemampuan saya segitu karena saya mulai dari zero. Itu juga saya baru selesai melunasi utang KPR dulunya papan sejahtera, harus bereskan itu semua. Jadi saya belum terlalu bisa menyenangkan mereka, kalau sekarang mungkin saya bisa ajak mereka keluar negeri atau ke mana saja yang mereka mau," kenang dia.


(kil/zlf)