Kisah Inspiratif

Lika-liku Hidup Eka Tjipta, Jualan Biskuit Sampai Bangun 'Kerajaan' Sinar Mas

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 08:00 WIB
Eka Tjipta Widjaja/Dok Forbes
Foto: Eka Tjipta Widjaja/Dok Forbes
Jakarta -

Siapa yang tidak kenal dengan Eka Tjipta Widjaja? Sosoknya merupakan konglomerat dengan gurita bisnis di bawah bendera Sinar Mas. Pria yang telah tutup usia pada 26 Januari 2019 itu terkenal sebagai salah satu orang terkaya di Tanah Air.

Bisnis Eka Tjipta kini dipegang oleh anak-anaknya. Pada akhir 2019 keluarga Widjaja masih tercatat dalam daftar orang terkaya ke 2 di Indonesia versi Forbes dengan nilai harta US$ 9,6 miliar atau setara Rp 134,4 triliun.

Sebelum jadi konglomerat, Eka Tjipta memiliki kisah panjang dalam membangun bisnisnya. Bermigrasi dari China, dia pertama kali menginjak Indonesia di usia 9 tahun bersama sang ibu pada 1931. Hal itu dilakukan demi menyusul sang Ayah yang sudah lebih dulu tiba di Makassar, Sulawesi Selatan.

Eks Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam laman pribadinya pernah menyebut bahwa Eka Tjipta tinggal di sebuah rumah dengan dinding bambu dan beratap daun rumbia. Ayahnya memiliki usaha toko kecil-kecilan.

Saat itu, Eka Tjipta yang memiliki nama asli Oei Ek Tjhong lebih tertarik membantu ayahnya jualan ketimbang sekolah. Dia memilih untuk menjual barang dagangan dengan cara keliling kampung, bukan hanya sekadar menjaga toko.

Eka Tjipta yang saat itu hanya bisa bicara bahasa Hokkian juga sempat kesulitan untuk bersekolah Tionghoa di Makassar. Di usianya yang sudah 9 tahun, pihak keluarga memohon-mohon ke kepala sekolah agar dibolehkan masuk ke kelas 3.

Sampai tiba saatnya lulus SD, Eka Tjipta enggan melanjutkan sekolah formal dan memilih mendatangkan guru malam hari ke rumah. Alasannya, jika sekolah untuk bekerja maka dia mau bisa bekerja tanpa bersekolah.

Eka Tjipta membayar jasa guru itu dari hasil jualannya setamat SD yakni berjualan biskuit dan permen. Bahkan, agar bisa bisnis itu, dia sampai menjaminkan ijazah SD ke produsen sehingga bisa menjualnya alias menjadi distributor.

Bisnis berjalan lancar, omzet pun meningkat. Eka Tjipta bisa membeli sepeda hingga becak bekas sebagai sarana menjual dagangannya berkeliling. Dalam 4 tahun dirinya bisa mengumpulkan 2.500 gulden, dan 1.000 gulden bisa dipakai renovasi rumah orang tuanya.

Lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "120 Mangkok Per Hari, Pria di Depok Sudah Bagikan 18 Ribu Bubur gratis"
[Gambas:Video 20detik]