Kisah Howard Schultz, Anak Sopir Truk yang Sukses Besarkan Starbucks

ADVERTISEMENT

Kisah Howard Schultz, Anak Sopir Truk yang Sukses Besarkan Starbucks

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 21 Jul 2022 07:00 WIB
Howard Schultz
Howard Schultz. Foto: Istimewa
Jakarta -

Predikat coffee shop terpopuler layak disematkan kepada Starbucks. Di balik nama besarnya saat ini, ada sosok bernama Howard Schultz yang sukses mempopulerkan Starbucks.

Schultz berhasil melebarkan bisnis Starbucks ke hampir semua negara. Dari awalnya hanya 11 kedai, kini Starbucks memiliki lebih dari 30.000 kedai di seluruh dunia.

Jabatan CEO Starbucks pernah diemban oleh Schultz selama dua kali, yaitu sejak 1987 hingga 2000, dan 2008 hingga tahun 2018.

Sebelum mencapai kesuksesannya dan masuk ke dalam list orang terkaya di dunia, siapa sangka jika Schultz berasal dari keluarga sederhana. Schultz dibesarkan di perumahan bersubsidi oleh orang tua yang tidak berpendidikan.

Ayah Schultz tidak pernah lulus dari sekolah menengah, dan mencari nafkah secara serabutan, termasuk menjadi sopir truk, buruh pabrik, hingga sopir taksi.

Mengutip CNBC, Jumat (21/7/2022), penghasilan ayahnya tidak pernah lebih dari US$ 20.000 per tahun dan harus menghidupi tiga anak. Hal itu juga lah yang melatarbelakangi Schultz harus tinggal di perumahan subsidi.

Kehidupan masa kecil yang sederhana justru membuat Schultz termotivasi untuk mengejar kesuksesan. Ia pun mengagumi sosok ayahnya yang disebutnya sebagai pekerja keras dan jujur dalam bekerja.

"Keluarga kami tidak memiliki penghasilan, tidak ada asuransi kesehatan, tidak ada uang kompensasi," tulis Schultz dalam buku 'Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time'.

Mantan bos Starbucks ini harus merasakan pahitnya hidup sejak berusia 12 tahun dengan melakoni beberapa pekerjaan, termasuk menjadi loper koran. Berkat kemahirannya dalam berolahraga dirinya mendapatkan beasiswa di Northern Michigan University dan lulus sebagai sarjana komunikasi pada 1975.

Dengan modal pendidikan yang didapatkannya, Schultz mulai menata karier sebagai sales dan marketing di Xerox selama tiga tahun. Setelah itu, ia menjadi vice president and general manager di Hammarplast, sebuah perusahaan peralatan rumah tangga asal Swedia.

Lanjut ke halaman berikutnya saat Schultz jadi CEO Starbucks.



Simak Video "Kenapa Starbucks Kalengan Harganya Jauh Lebih Murah?"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT