Perhatian! Ini Tips Cari Kerja di Tengah Pandemi

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 08 Okt 2020 07:06 WIB
BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2019 berada di level 5,01%. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2018.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Situs pencarian kerja Jobstreet melakukan survei terhadap lebih dari 5.000 pekerja di Indonesia selama pandemi virus Corona (COVID-19). Survei itu mencatat 54% di antaranya kena pemutusan hubungan kerja dan juga dirumahkan.

"Pekerja yang sudah bekerja di industri di Indonesia yang terkena dampaknya sekitar 54%, atau secara spesifik, yang diberhentikan permanen 35% dan dirumahkan sementara 19%," kata Country Manager Jobstreet Indonesia Faridah Lim dalam Bincang Virtual Jobstreet, Rabu (7/10/2020).

Dari sisi usia, justru yang paling banyak terkena PHK atau dirumahkan adalah usia produktif yakni 18-24 tahun dengan persentase 67%. Lalu, 74% di antaranya ialah pekerja dengan penghasilan rata-rata Rp 2,5 juta per bulan. Sementara, pegawai dengan penghasilan Rp 2,5-4 juta per bulan mencapai 69%, dan Rp 4-8 juta 60%.

Pandemi virus Corona (COVID-19) menyebabkan adanya lonjakan pencari kerja. Situs pencarian kerja Jobstreet mencatat peningkatan pelamar hingga dua kali lipat di tengah pandemi COVID-19. Artinya, 1 lowongan kerja diperebutkan oleh ratusan bahkan ribuan orang, sehingga kompetisi semakin sulit.

Hal itu menyebabkan jumlah pencari kerja pun melonjak drastis. Jobstreet mencatat, adanya lonjakan dua kali lipat pada jumlah pencari kerja per 1 posisi yang tersedia dalam lowongan kerja di Jobstreet. Ia menyebutkan, 1 lowongan yang biasanya diperebutkan 400 orang, kini menjadi 800 orang, bahkan ribuan untuk posisi tertentu.

Lalu, Faridah mengatakan pandemi ini menyebabkan pergantian pola perekrutan, sehingga tips-tips mencari kerja saat ini sangat penting untuk dipelajari.

"Hal paling sederhana secara umum yang bisa dilihat adalah jika perusahaan memanggil pencari kerja, atau me-review pencari kerja itu sudah berbeda dengan masa lalu. Kalau sebelum pandemi yang dilakukan adalah menelepon atau mengirimkan email, atau menghubungi pencari kerja melalui situs/aplikasi Jobstreet, memberikan notifikasi maka yang dilakukan saat ini, semua proses yang dilakukan hanya basis teknologi," terang dia.

Ia mengatakan, pelamar kerja juga harus menambahkan kemampuan di luar relevansi bidang yang dilamar, juga latar belakang pendidikan. Terutama untuk kemampuan di bidang teknologi.

Senada dengan Faridah, HR Services Assistant Manager PT Panasonic Gobel Indonesia Lilis Sukarno selaku perekrut menyatakan, kemampuan di bidang teknologi memang sangat diutamakan saat ini. Ia menjelaskan, kemampuan itu akan jadi nilai plus jika dicantumkan dalam Curriculum Vitae (CV).

lanjut ke halaman berikutnya

Selain itu, ia menegaskan seorang pelamar juga harus siap untuk menjalani berbagai cara interview. Terutama di pandemi ini, perusahaan sudah mengurangi interview tatap muka, tapi melalui aplikasi digital.

"Sekarang ini kita tidak hanya melihat dari sosok orangnya, yang terpenting, utama itu mereka untuk komunikasi harus bisa atau harus punya. Jangan ketika kita mau interview, kita menunggu, kami bisa interview nggak? Nah itu yang menurut kita sangat memakan waktu. Sudah tahu dia cari kerja, jadi dia harusnya sudah ready," imbuh dia.

Dalam kesempatan yang sama, Talent Acquisition & Scouting Manager Danone Indonesia Almer Hafiz juga menekankan kemampuan dalam teknologi sangatlah penting, apalagi melihat kebiasaan konsumen juga sudah berubah di tengah pandemi.

"Dengan behaviour konsumen sudah berubah, kita pasti juga menuntut kandidat di luar sana untuk menambah skill-nya. Contohnya mereka harus menambah skill terkait dengan digital marketing, social media, digital data, termasuk big data analytic. Itu yang harus bisa ditambahkan skill-nya, sehingga mereka bisa menjual dirinya, dan membuat mereka bisa lebih visible untuk korporasi bahwa dia punya skill itu, yang saat ini sedang booming, sedang heboh, bisa diterima dengan skill itu. Nah itu salah satu tips mencari kerja during this pandemic," kata Almer.

Namun yang jadi pertanyaan, apakah masih ada perusahaan yang membuka lowongan kerja di tengah pandem

Jobstreet mencatat, ada lima industri yang masih merekrut tenaga kerja dalam jumlah besar, antara lain:

1. Manufaktur/produksi sebanyak 5.273 lowongan
2. General Trading & Grosir sebanyak 2.703 lowongan
3. Perbankan/Layanan Keuangan 2.497 lowongan
4. Ritel/Merchandise 2.485 lowongan
5. Computer/Information Technology (Software) 2.232 lowongan

Faridah mengatakan, industri-industri di atas memang masih memiliki tenaga kerja terbanyak selama pandemi. Data tersebut diperoleh dari iklan yang ada di situs Jobstreet.

"Industri-industri berat atau yang masih membutuhkan skala power besar itu masih aktif membuka lowongan dan masih mencari pekerja," katanya.

Jobstreet juga mencatat ada 10 jenis pekerjaan yang masih dicari perusahaan-perusahaan dalam jumlah besar selama pandemi selama 6 bulan ke depan. Berikut daftarnya:

1. Sales/customer service 27%
2. Admin & HR 27%
3. Accounting 23%
4. Engineering 21%
5. IT 20%
6. Marketing/PR 18%
7. Manufacturing 15%
8. Management 15%
9. Transportation & Logistics 12%
10. Banking & Finance 10%

Dari perusahaan-perusahaan yang mencari 10 jenis perusahaan tersebut, Jobstreet mencatat 32% di antaranya memprioritaskan korban PHK, sementara sisanya tetap mengutamakan pemenuhan kriteria.

"Kita juga menanyakan apakah mereka akan memprioritaskan kepada karyawan yang kehilangan karyawan, dan ternyata 32% mengatakan iya dengan pertimbangan mereka kehilangan pekerjaan maka bisa bergabung lebih cepat tanpa waktu tunggu. Tapi 56% mengatakan bahwa itu tidak akan mempengaruhi keputusan mereka. Mereka akan tetap fokus mencari pekerja sesuai kriteria mereka cari," tutup Faridah.



Simak Video "Sri Mulyani: Tren Ekonomi Positif, Sempat Tertekan Akibat PSBB DKI"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)