Wawancara Dirjen Perhubungan Laut

Apa Kabar Proyek Pelabuhan Patimban?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 16 Jun 2016 07:22 WIB
Foto: Dok. Kementerian Perhubungan
Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Laut yang bulan lalu baru dilantik yaitu Tonny Budiono memiliki beban berat yang terpikul di pundaknya. Bagaimana tidak berbagai pekerjaan rumah menantinya mulai dari proyek pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, dwelling time, hingga askes tol laut yang bertujuan untuk menekan biaya logistik di Indonesia.

Pria yang telah mengabdikan dirinya sejak 30 tahun lalu di Kementerian Perhubungan saat ini tengah fokus dalam rencana pembangunan Pelabuhan Patimban. Pembangunan pelabuhan ini bertujuan untuk mengalihkan sebagian lalu lintas bongkar muat yang semakin padat di Pelabuhan Tanjung Priok.

Hal ini juga dilakukan untuk memberikan alternatif akses laut terdekat dari kawasan sentra industri yang berpusat di Bekasi, CIakrang, dan Karawang sehingga diharapkan dapat menekan biaya logistik dan juga menghemat waktu angkut barang dari dan menuju pelabuhan.

Pelabuhan Patimban akan dibangun dengan pinjaman dari Jepang sebesar Rp 43,22 triliun dan akan dimulai pada tahun 2017 mendatang.

Pada pembangunan tahap pertama yang akan selesai di 2019, pelabuhan ini memiliki kapasitas 250.000 mobil per tahun dan 1.500.000 TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit).

Lalu bagaimana update terkini pembanguna pelabuhan di Jawa Barat ini, simak petikan wawancara detikFinance bersama Tonny di kantornya, Selasa (14/6/2016).

Update pembangunan Pelabuhan Patimban?
Yang tertarik baru pihak Jepang. Kalau dari ktia kan sudah bawa surat ke Jepang sitilahnya Jepang silakan dengan STEP loan itu. Presiden kan juga ke Jepang kan sudah komunikasi juga dengan Perdana Menteri sana.

Jepang yang garap atau masih ada potensi negara lain?
Kalau loan-nya dari Jepang pasti Jepang.

Mulai dibangun 2017 bulan apa?
Loan-nya belum tahu. Besarannya Rp 43,22 triliun.

Langkah-langkahnya selanjutnya?
Ini kan loan-nya dulu kalau sudah kan pengerjaan konstruksi kan tergantung si pemberi dananya kalau Jepang. Kepastian dana dulu berapa baru tender kita.

Tender dalam negeri atau Jepang?
Justru nanti di agreement, kan nanti kan ada TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) berapa persen. Kita kan nggak bisa tahu kan itu leading sectornya dari Bappenas. Angka itu juga kan baru perkiraan kasar, nanti kan perkembangan fluktuasi dolar kan berpengaruh.

Pertimbangan Patimban mengalihkan sebagian traffic bisa sampai berapa persen?
Kalau berapa persen kita belum hitung itu namanya pasar kan nggak bisa nebak kan. Intinya gini sekarang kan gini di Priok kan sudah padat sekali nah otomatis dia kan nggak bisa melebar kea rah darat kan udah nggak bisa.

Kita harus cari alternatif. Kenapa kita pilih Patimban karena Patimban dekat dengan sentra industry di Karawang Bekasi sekitar situ. Sekarang kita punya pemikiran kalau bikin pelabuhan didekatkan dengan sumber perekonomian misalnya industry segala macam. Kalau dulu kan nggak asal bangun saja.

Ada perhitungan bisa berapa persen traffic yang berkurang?
Itu nggak bisa dong, tapi nanti bakal berkurang. Gini kan sentra industry di Karawang, kalau pelabuhan di Priok kan padat nggak, kalau Patimban kan tinggal gitu aja kan.

Bisa hemat waktu berapa lama?
Kalau waktu itu susah perkembangan kendaraan.

Akses jalan sudah ada dari Patimban ke sentra industri?
Kan sudah ada jalan tol segala macam kan kaya Cipali. Akses jalan Pemda bangun juga untuk ke arah pelabuhannya.

Mayoritas pengguna pelabuhan industri apa?
Kan kita untuk container sama mobil. Pabrik-pabrik mobil kan di Cikarang otomotif dan logistic juga otomatis larinya ke sana nanti.

Kapasitas Patimban?
Itu bisa sampai 250.000 mobil per tahun sama 1.500.000 TEUs per tahun untuk yang tahun pertama. Kapasitas saat sudah beroperasi itu 7.500.000 TEUs pada tahun 2037, total kendaraannya 500.000 kendaraan.

Pembangunan sampai selesai memakan waktu berapa lama?
Tahap pertama selesai kan 2019 dengan kapasitas 1.500.000 TEUs jumlah mobilnya 250.000.

Pembangunannya bertahap?
Sampai 3 tahap. Diharapkan 2037 maksimal.

Bisa menampung kapal apa saja?
Kapal-kapal yang besar-besar.

Kedalamannya?
Kedalamannya minus 12 sampai minus 14 meter. 2019 itu 1.500.000 TEUs mobilnya 250.000 di tahap pertama.

Berapa persen industri yang beralih dari Tanjung Priok ke Patimban?
Yang jelas yang lokasinys di Cikarang dan Karawang, kan nggak mungkin dia ke Priok kan macet biaya logistiknya berapa.

Perhitungannya?
Aku kalau persentase nggak bisa, kan perkembangan industri nggak bisa ditebak. Yang jelas pasti biaya logistiknya akan lebih murah karena lokasi pelabuhannya lebih dekat ke sentra industri, dekat banget.

Tahun 2019 beroperasi apa semua pihak langsung dilibatkan kaya bea cukai karantina dan yang lainnya?
Itu nanti otomatis kan CIQ kan harus ada di sana. Targetnya nantinya bakal jadi kaya Priok. Tetapi kalau internasional CIQ itu harus ada, sama persis kaya Tanjung Priok.

Bisa diceritakan soal lelang jabatannya bagaimana?
Saya daftar, tadinya kan Direktur Navigasi terus ke Direktur Pelabuhan dan Pengerukan karena yang selevel itu nggak perlu assessment. Waktu itu saya jadi Staf Ahlli Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan terus saya daftar.

Persyaratannya apa saja?
Minimal kalau dari sipil itu golongan IV D, terus kalau dari TNI Angkatan Laut itu harus Laksamana Muda, kalau TNI Angkatan Laut harus pernah Danlantamal (Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut).

Apakah ada kuota pendaftaran?
Tidak dibatasi, kemarin yang daftar 8 orang terus cek administrasi nggak lulus 2 tinggal 6.

Tes administrasinya apa saja?
Umur itu nggak boleh 58 tahun saat mendaftar. Terus harus ada bukti pembayaran pajak, harus rutin bayar pajak. Terus ada laporan kekayaan pejabat negara kemudian mendapat persetujuan dari pimpinan. Itu kemudian diseleksi bener nggak, ada nggak kalau nggak ada ya gugur. Kalau lolos administrasi kemudian ikut assessment di UI (Universitas Indonesia).

Tes assessment seperti apa?
Seperti tes psikologi, seperti masuk Perguruan Tinggi kan ada.

Setelah assessment?
Setelah assessment nanti dicek yang lulus siapa, yang lulus itu ada lagi yang namanya Pansel, panitia seleksi ada 5 orang. Kita di ruangan ditanya visi misi kita.

Panselnya siapa?
Dari dalam itu Pak Irjen dan Pak Sesjen. Dari luar ada dari akademisi Bapak Profesor Danang Parikesit, ada dari BUMN Pak Wimbo Dirut AP I. Terus dari Kemenpan RB Bapak Ateh. Mereka itu tanya satu persatu bareng kaya siding skripsi persis.

Berapa lama tes pansel?
Tergantung kalau kita mampu cepat ya cepat, tapi kalau kita jawabnya berbelit-belit ya lama.

Pertanyaannya seputar apa?
Tentang visi misi kita ke depan mau jadi apa. Misalnya saya mau jadi Dirjen Laut mau bikin apa. Yang ditanya itu soal tol laut itu apa, nawacita itu apa, terus dwelling time itu apa, terus bagaimana menangani dwelling time, terus visi kamu apa, apa yang dipunyain kita.

Jawabannya bagaimana pak?
Saya jawab cuma dua pertama integritas sama bekerja keras udah itu aja. Mosal pertama kan integritas, kalau nggak punya integritas bahaya. Yang kedua harus mau bekerja keras, kalau mau santai-santai ya nggak usah jadi Dirjen jadi staf aja.

Berapa lama dari daftar sampai ke Pansel?
Prosesnya sekitar 2 mingguan. Daftar terus assessment terus pengumuman seminggu lagi, terus kan dikirim ke Presiden TPA kalau eselon I, di sana diseleksi lagi di Tim Penilai Akhir. Abis dari pansel jadi 3 besar terus dikirim ke Presiden.

Yang menyeleksi siapa saja di Tim Penilai Akhir?
Kan para Menteri, Presiden, Wakil Presiden, terus dari BIN, dari KPK, dari PPATK.

Totalnya berapa lama dari daftar sampai dilantik menjadi Dirjen?
Cepat sekitar satu setengah bulan. (ang/ang)