Follow detikFinance
Kamis, 19 Jul 2018 18:30 WIB

Wawancara Khusus Dirut Inalum

Habiskan Rp 55 Triliun untuk Rebut Saham Freeport

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin/ Foti:Rachman Haryanto/detik.com Foto: Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin/ Foti:Rachman Haryanto/detik.com
Jakarta - Setelah melewati proses negosiasi panjang, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah sepakat mendivestasikan 51% saham ke pemerintah Indonesia. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah, PT Inalum (Persero) nantinya akan menjadi pemegang saham mayoritas di PTFI.

Inalum juga punya strategi dan rencana bisnis ke depan untuk Freeport. Bagaimana ceritanya, berikut wawancara selengkapnya detikFinance dengan Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin.

Bisa diceritakan sedikit soal pembelian saham Freeport mulai dari negosiasi yang panjang, sampai terakhir tanda tangan seperti apa?
Saya mulai terlibat sebenarnya waktu mejadi Dirut Mandiri tahun 2015, itu memang diminta oleh Ibu Menteri (BUMN Rini Soemarno) atas arahan dari Bapak Presiden (Jokowi) untuk bisa mengkaji proses divestasi untuk ini sendiri dimulai mengkaji memakai konsultan melihat alternatifnya seperti apa kemudian saya akan pensiun dari Dirut Mandiri di 2016 kemudian diminta juga oleh Ibu Rini tetap melanjutkan tugas ini sebagai staf khusus ibu menteri.

Jadi saya melanjutkannya terus jadi staf khusus, kemudian kita membentuk holding industri pertambangan salah satu tujuannya juga supaya kita memiliki balancing yang cukup untuk melakukan transaksi ini terjadinya di November 2017. Kemudian saya jadi Dirut Inalum. Nah jadi Dirut, kemudian prosesnya berjalan sampai sekarang Sehingga akhirnya kemarin kita menandatangani Head of Agreement dengan PT Freeport.


Itu kan nilainya banyak yang bilang fantastis US$ 38,5 miliar atau sekitar Rp 54 triliun. Itu ada yang bilang kemahalan, bagaimana menurut Anda?
Memang kita bisa mulai dari cara perhitungan yang paling susah, paling rumit, sampai perhitungan yang paling sederhana.

Kalau dari paling rumit sudah ada standarnya cara valuasi perusahaan seperti itu, jadi berapa earning after tax-nya sampai akhir dihitung sehingga keluar angkanya berapa. Angka itu sebenarnya yang kita dapatkan adalah sekitar 18% dari perhitungan secara scientifik. Tapi karena ini sulit, saya lebih suka memakai angka yang lebih gampang.

Misalnya kita beli US$ 3,85 miliar itu untuk 45%. Jadi 100%-nya itu sekitar US$ 8,25 miliar. Untuk informasi, ebitda-nya freeport dalam kondisi sustain, kan sempat ada naik turun ya, tapi rata-ratanya, kisarannya itu US$ 4 miliar. Profit after tax-nya atau earning after tax-nya dia, kondisi normal, itu kan juga ada naik turun karena pada tahun 2022 itu akan habis, itu sekitar US$ 2 miliar.



Jadi kalau enterprise value, atau harga perusahaan US$ 8 miliar, maka enterprise value per ebitda itu sekitar 2 kali, karena ebitda-nya kan US$ 4 miliar. Ini enterprise value-nya US$ 8 miliar. Kalau dibandingkan earnings, enterprise value dibagi earnings itu 4 kali.

Nah di kalangan keuangan, kita sering melihat price to earning ratio ini sebagai suatu standar yang bisa dibandingkan. Nah kalau kita mau pakai rata-rata perusahaan terbuka di Indonesia kan kita lihat di Jakarta Stock Exchange, memang saya agak ketinggalan, karena saya sudah keluar dari perbankan agak lama.

Dulu sih sekitar 16-17 kali rata-rata price to earning rationya. Sekarang kan mungkin karena udah turun, mungkin di sekitar 12-14 kali. Tapi kita untuk perbandingan belinya itu di angka 4 kali. Nah 4 dibandingkan dengan 12-14, jadi itu jauh kan di bawah rata-rata valuasi harga di Bursa Efek Jakarta.

Yang kedua yang lebih gampang teman-teman juga sudah bikin resource atau cadangan terbukti freeport yang ada sekarang di Papua itu US$ 150 miliar. Jadi kalau kita beli US$ 3,85 miliar, ya bisa dibandingkan dengan angka itu tadi.

Atau cara perbandingan ketiga yang juga gampang, Freeport itu pernah menawarkan ke pemerintah Indonesia waktu itu diminta divestasi waktu itu 30%, 10%-nya US$ 1,6 miliar. Jadi kalau 10% US$ 1,6 miliar, kita beli 45%, itu kan jadi sekitar 4,5 dikali 1,6 jadi sekitar US$ 8 miliar, dibandingkan dengan US$ 3,85 miliar. Padahal harga yang ditawarkan itu hanya Freeport tanpa memperhitungkan porsi Rio Tinto. Kalau memperhitungkan porsi Rio Tinto itu kan harga yang US$ 8,5 berapa ini mesti dibagi 0,6 lagi jadi akhirnya US$ 12 miliar.

Jadi dengan itu, kita perbandingan price to earning ratio-nya 4 dibandingkan dengan 12. Yang kedua, kita beli US$ 3,85 miliar, nilai potensi cadangannya US$ 150 miliar. Kemudian yang ketiga, Freeport saja sudah pernah menawarkan equivalen sekitar US$ 12 miliar, kita dapat US$ 3,85 miliar.

Atau kalau yang lebih gampang lagi, profitnya itu setiap tahun kan US$ 2 miliar. Jadi kalau saya pegang 51% kan saya dapatnya US% 1 miliar lebih, jadi kalau ini US$ 3,85 miliar (harganya), ya 4 tahun balik modal.

Ada juga pertanyaan Rio Tinto, jadi kenapa tiba-tiba ada Rio Tinto di Freeport, bisa dijelaskan? Lalu kenapa harus beli Rio Tinto, nggak langsung ambil Freeport?
Jadi sejarahnya Freeport itu dia ada tambang yang pertama kali namanya Erstberg, itu ditemuin di tahun 1960-an. Jadi dari sini, Freeport bikin kontrak karya yang pertama, itu dari 1967 sampai 1997.

Di tahun 80-an dia nemu tambang lagi yang lebih besar, yang namanya Itu Grasberg, yang sekarang, ini jauh lebih besar dari Erstberg. Karena nemu ini, sebelum ini habis, karena tahun 80-an nemunya, dia minta ke pemerintah Indonesia untuk tanda tangan kontrak karya yang kedua, itu dari tahun 1991 sampai 2021. Grasberg ini kan besar sekali, karena besar, dia nggak punya uang untuk bangun.

Jadi dia nggak ada uang untuk bangun, corebody-nya itu mulai dari atas sampai ke bawah. Dia mau ambil yang atas, karena dia nggak punya uang untuk bangun, maka tahun 1985 dia tanda tangan yang namanya implementation agreement dengan Rio Tinto. Yang intinya dia ijon, Rio Tinto dapat bagian dari sini, tapi bantu juga bagian dari Capex (Capital Expenditure)-nya.

Jadi dikasih ke Rio Tinto 40%, kalau produksinya di atas produksi tertentu, tapi Capex-nya bagi-bagi juga 40%. Dan ini tahun 1996, ini diubah jadi Participation Agreement. Ini sudah disetujui sama pemerintah Indonesia. Intinya dia bagi 40% itu Rio Tinto, lalu 60% Freeport. Cuma, kalau sebelum 2022 di bawah metal strip (tanpa memperhitungan kondisi produksi berada di atas level yang disepakati) itu 1% buat Freeport. Baru di atas metal strip, bagi dua. Tapi di atas 2022, 40:60 rata.

Logikanya, Freeport bilang, waktu ketemu (tambang) sebelum 1996, ini jatahnya Freeport. Begitu ketemu sama Rio Tinto, ini yang dibagi. Cuma kan ini satu hole body produksinya. Jadi totalnya ini dibagi sejak 1996 sampai 2041 kalau nggak salah. Kalau di bawah metal strip produksinya, itungannya punya Freeport. Tapi kalau itungannya di atas, ini bagi-bagi 60:40.

Akibatnya apa? Akibatnya kalau sekarang kita lihat dari sisi saham equiti interest yang kelihatan di publik, ini kam freeport punya 90,64%. Pemerintah Indonesia atau Inalum punya 9,36%. Rio tinto punya 0%, nggak ada. Tapi kalau dari sisi economic interest, ini (Rio Tinto) punya 40%. Jadi ini (Freeport) cuma 60%. Jadi ini yang orang sering salah.

Kalau orang bilang, belinya beli Freeport, 51%, ngapain beli Rio Tinto, yang didapat itu cuma 51% dari ini (gambar), cuma 30% sebenarnya yang kita punya. Karena yang ini (gambar) ada di haknya Rio Tinto, cuma yang kelihatan ke dokumen publik yang ini (gambar). Itu sebabnya kenapa kita harus beli yang Rio Tinto punya. Karena kalau nggak, tujuan kita kan maunya Pemerintah Indonesia 51%, ini (Freeport) 49% kan, ini (Rio Tinto) harus masuk, kalau nggak, nggak bakal dapat 51%. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed