Sederet 'Biang Kerok' Tol Japek Layang Bergelombang

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 20 Des 2019 17:10 WIB
Foto: Agung Pambudhy

Mengapa jalan Tol Japek Layang ini tampak bergelombang? Sambungannya setiap 100 meter terasa mengguncang. Secara teknis seperti apa penjelasannya?
Kami juga menyikapi apa yang disampaikan teman-teman media. Jadi sebetulnya tentang permukaan jalan tol yang bergelombang itu, itu kembali dengan apa yang kita sebut dengan Alinyemen vertikal.

Tapi sebelum saya jelaskan itu, pertama saya ingin mengungkapkan bahwa Japek Elevated ini pertama itu VC rationya sudah sangat tinggi. Jadi perbandingan antara volume kendaraan dengan kapasitas jalan yang ada di bawahnya itu sudah sangat tinggi. Even kalau saat ini sudah berjalan dengan sangat baik karena memang berdasarkan pengalaman kita sendiri, banyak yang menggunakan bahu jalan.

Itu lah mengapa untuk mengeliminer kemacetan maka dibutuhkan pembangunan atau untuk mengurai kemacetan dibutuhkan pembangunan Japek Elevated. Sebetulnya opsinya memang ditambah 2 lanjut ke bawah, tapi posisinya sudah tidak mungkin, sehingga dia ke atas. Meskipun pemerintah saat ini juga sedang membangun Japek Selatan, dari Jatiasih ke Purwakarta, itu sebagai alternatif lain masyarakat yang ingin ke Bandung.

Jadi pertama adalah rasio dari volume yang melewati dengan kapasitas jalan yang ada. Kedua kita bicara klasifikasi jalan tol yang ada. Kalau kita lihat tol Japek Elevated ini adalah tipe 1 kelas II, artinya masuk dalam jalan tol dalam kota.

Kalau jalan tol dalam kota, itu punya regulasi, aturan kecepatannya 60-80km/jam. Kalau tol luar kota itu 100-120km/jam.

Kenapa ada perbedaan itu?
Karena memang kalau di tol dalam kota itu sudah ada aturannya yang dikeluarkan pemerintah bahwa untuk tol dalam kota kecepatannya 80km/jam. Karena memang bedanya kalau luar kota kan lebih panjang, kalau dalam kota kan spotnya pendek-pendek. Dari situ lah kemudian turunan desain itu keluar.

Ketiga adalah tentang kerumitan dan risiko kecelakaan yang tinggi. Bagaimana tidak rumit? karena pembangunan jalan tol elevated ini di bawahnya ada jembatan penyeberangan orang (JPO), di bawahnya lagi ada 200 ribu kendaraan/hari yang aktif, tidak boleh berhenti. Kita membangun di tengah-tengah. Jadi di bawahnya itu ada JPO, ada Simpang Susun Cibitung, ada Simpang Susun Karawang, di bawahnya lagi ada 200 ribu kendaraan yang aktif.

Ditambah, di sebelah kanannya ada kereta cepat, di sebelah kirinya ada LRT, di atasnya ada SUTET. Jadi di atas ada, di samping ada, di bawahnya ada dua. Jadi kami ini memang yang disebut Pak Presiden, pembangunan ini termasuk yang paling rumit karena posisinya seperti tadi. Jadi bagaimana kami memanfaatkan ruang yang ada untuk bangun Japek Elevated ini.

Kemudian yang keempat adalah risiko kecelakaan yang tinggi. Bagaimana kami mengelola safety yang sangat ketat karena hampir semuanya sepanjang 36 km ini bekerja di ketinggian. Dan ini 24 jam kita menjaga traffic-nya tetap lancar. Tapi kita bekerjanya di window time, yaitu jam 10 malam sampai jam 5. Tapi kembali lagi itu tidak mutlak. Itu adalah schedule yang kami miliki. Tapi manakala kemudian kita dapati traffic sedemikian macetnya, kami beri prioritas utama masyarakat untuk menggunakan jalan terlebih dahulu.

Jadi kami dalam posisi memberikan pelayanan dulu untuk tidak macet, baru kami bekerja. Banyak juga yang mana pada saat kami siapkan semua dengan baik, tapi kita batalkan karena traffic-nya sangat tinggi.

Kemudian yang terakhir adalah bagaimana bangunan ini, konstruksi jembatan ini, jalan layang terpanjang se Indonesia memiliki durability terhadap gempa. Oleh karena itu kami memiliki teknologi yang namanya Lead Rubber Bearing (LRB) ini fungsinya untuk meredam gempa yang datang, kemudian diterima oleh LRB, untuk dieliminer supaya diterima supaya strukturnya lebih rendah. Sisa daripada itu akan dihandle kembali oleh ekspansion joint. Ekspansion joint inilah yang dirasakan masyarakat setiap melewatinya menjadi seperti wave.

Soal safety, kenyamanan, keamanan, tadi belum terjawab. Kenapa jalan tol Japek 2 Elevated ini bergelombang, kenapa Priok tidak?
Jadi bisa saya sampaikan, jadi sekarang kita, jalan tol layang ini sebetulnya kalau kita lihat di bawahnya, di antaranya ini ada JPO, ada juga yang namanya simpang susun. Dan ada 200 ribu kendaraan aktif per hari. Kemudian di sampingnya ini ada KCIC, kemudian ada lagi LRT (Jabodebek). Terus ada juga SUTET.

Jadi Japek ini adanya di tengah-tengah, di median di mana dia harus dikerjakan di bawahnya dalam posisi kendaraan aktif sebanyak 200 ribu kendaraan per hari. Kemudian di bawahnya juga ada JPO dan simpang susun. 1 Hal simpang susun paling tinggi itu elevasinya 13 meter. Jadi kalau ditambah clearance maka jembatan Tol Elevated ini ditambah clearance 5,1 meter harus tingginya 18 meter.

Jadi kalau jalan tol ini kita bikin lurus semua, itu harus ketinggiannya 18 meter. Coba bayangkan 18 meter atau sama dengan 20 meter dengan ditambahkan konstruksi yang lain, itu ekuivalen dengan kalau ini ada gedung, kira-kira di lantai 5. Jadi kalau kita mengendarai di lantai 5 sebuah gedung bayangkan tanpa dinding, bagaimana perasaannya. Jadi tinggi sekali. Dan terpaan angin.

Yang kedua juga dari sisi costnya akan lebih tinggi. Karena otomatis dengan ketinggian yang ditambah lebih tinggi, dia akan lebih lebar. Itulah sebabnya ketika dia bertemu dengan JPO dan simpang susun maka dia harus menyesuaikan ketinggiannya. Setelah dia melewati JPO dan simpang susun dia kembali normal.

Kalau kita tarik flat dari ujung sampai ujung itu tinggi sekali. Kan harus berada pada level simpang susun yang paling tertinggi. Dan itu cost investmentnya tinggi sekali.

Kemudian bagaimana kita, kemarin teman-teman mungkin lihat ada kemiringan. Kemiringan ini kita pastikan tidak melebih 4%. Artinya 4 meter tinggi, per 100 meter panjang. Nah rata-rata itu hanya 2%. Jadi sepeda saja bisa mengayuh, apalagi lobster.

Kemudian pada saat mobil berada di sini (bagian tanjakan) dia mampu melihat jarak panjang hentinya itu 110 meter. Artinya seorang pengendara harus merespons dalam keadaan mendadak itu minimal 110 meter. Dan itu adalah panjang yang cukup untuk si pengendara merespons secara mendadak. Jadi parameter itu adalah akibat dari karena memang ini disebut jalan tol dalam kota. Sehingga desain speednya itu adalah 80km/jam. Di dalam regulasinya 60-80km/jam.

Karena speednya 60-80km/jam, ini membuat segala regulasi turunannya menyertai. Jadi kelandaian, kemiringannya tidak boleh melebihi 4%, dan kita harus pastikan ini tidak lebih dari 4%, dan itu harus kita pastikan aman. Kemudian jarak pandangnya juga harus 110 meter. Nah inilah yang membuat mengapa jalan tol itu menjadi bergelombang.

Tetapi ketika kita berada di lapangan, maka tidak seekstrem seperti apa yang dibayangkan. Dan itu silakan dicoba.

Selain bergelombang itu yang dikeluhkan per 100 meter ada guncangan?
Jadi ini pier head-nya. Kalau di layang yang lain, itu sambungannya ada di setiap pier. Justru lebih pendek. Kami sudah melipatkgandakan kenyamanan dengan memberikan sambungan pada span yang ketiga. Jadi kalau span pertama, span kedua, span ketiga, kami adanya di sini dan di sini, per 180 meter. Yang biasanya ada di setiap pier. Jadi kalau kami buat di setiap pier, maka jaraknya 60 meter. Tapi kalau kita bikin per 3 span, maka 180 meter. Artinya dari sisi orang yang mengendarai dia akan menjumpai sambungan itu justru lebih dari span yang ketiga, berbeda dengan tempat yang lain dia akan menjumpai sambungan di span yang pertama.

Bedanya adalah, di tempat lain itu ekspansion jointnya kecil-kecil, kenapa? karena yang kita pakai itu tipenya adalah seismic join. Jadi sambungan yang mampu mengakomodir gempa. Kemudian di bawahnya ini kalau ada girder, ini ada dudukan yang mampu menahan steell box girder, yang kita sebut LRB. LRB juga ini teknologi yang kita adopt sekarang, singkatannya itu Lead Rubber Bearing, itu untuk meredam gempa.

Jadi pada saat gempa terjadi, maka akan diterima oleh LRB, kemudian diteruskan pada struktur ini tidak maksimal. Ini teknologi baru. Nah kemudian sisanya akan diterima oleh Expansion Joint ini. Jadi pada saat diterima ini sudah tidak besar. Nah Expansion Joint ini adalah, pada saat dia terdesak, pada saat itu terjadi, maka dia mampu menahan sampai 20 centimeter pergerakan. Tapi tipe ini kita pilih, maka Expansion Jointnya tidak bisa yang kecil. Tidak bisa yang lebarnya lebih kecil, justru yang besar.

Memang potensi gempa itu ada di kajian?
Jadi gini, setiap kita mendesain itu paling tidak efisien dan aman. Nah aman ini kami juga memperhitungkan karena ini kan jalan layang, tol layang terpanjang saat ini di Indonesia 36,4 km, maka kita berpikirnya lebih visi ke depan. Sehingga akomodasinya, perhitungannya adalah gempa 1.000 tahunan periodenya yang kita akomodir untuk membuat desain ini. Nah jadi ini sebenarnya fungsi, kembali ke fungsi.

Tetapi kami mengoptimalkan kenyamanan. Kenyamanan itu kita optimalkan, nah keamanannya kita scorenya tertinggi. Jadi keamanannya kita tinggikan, kenyamanannya kita optimalkan, salah satunya adalah Expansion Joint kita jauhkan, kemudian pier-pier ini 60 meter. Padahal, yang lain 40-45 meter, kenapa? Supaya pada saat orang berkendara di bawah, apalagi saat kita membangun itu tidak menciptakan gangguan ke traffic.

Bayangkan kalau kita buat lebih dekat, maka setiap orang yang bekerja di titik ini kan akan menimbulkan disruption terhadap traffic. Dan kedua ketika orang menyetir di bawah, orang akan melihat pandangan yang lebih luas ketika ini (tiang) kita bikin lebih rapat.

Memang akhirnya pada saat dia ketemu dengan, misalnya simpang susun, dia mulai naik (bergelombang). Tapi kalau mau dibikin setinggi ini semua (jadi rata), sama dengan kita berjalan, kendaraan itu berjalan di lantai 5 sebuah gedung.

Asumsi bahwa dengan model seperti ini tuh menimbulkan guncangan di kendaraan, sehingga akan mempercepat suspensi kendaraan, itu diperhitungkan nggak?
Gini, jadi ini kan finishingnya terakhir ya, pakai blacktop, pakai aspal. Aspal ini termasuk yang lebih bersahabat dengan ban. Sebenarnya ini kembali kepada cara mengemudi. Kalau kecepatannya didesain untuk 60-80 km/jam, meskipun saya perhatikan di lapangan ada yang sudah 100-120km/jam, dan masih aman-aman saja. Jadi kembali lagi ke pengemudi.

Kalau sering berjalan dengan kecepatan yang tinggi, dan akan sering mengerem, maka akan menciptakan keausan yang lebih cepat. Jadi menurut saya kembali cara kita mengemudi, bukan kepada spesifikasi teknis dari konstruksi.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4