Wawancara Khusus Bos J&T

Buka-bukaan Bisnis Ekspedisi di Tengah Pandemi, Untung Atau Buntung?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 28 Sep 2020 06:39 WIB
CEO J&T Robin Lo
Foto: CEO J&T Robin Lo

Bagaimana J&T Express menangani peningkatan transaksi selama pandemi ini? Sempat kewalahan nggak?
Enggak sih. Bagi kita sebenarnya kita tidak kewalahan, mungkin cuma di awal-awal karena ketika itu kan gara-gara, karena gini, pengiriman J&T express itu banyak menggunakan mode pesawat terbang. Nah di awal-awal itu, di awal April itu banyak jalur-jalur pesawat yang karena tidak ada penumpang itu banyak yang tidak terbang. Nah itu kita agak sedikit kewalahan. Tapi perlahan-lahan kemudian sebenarnya dari pihak airlines-nya sendiri sudah memberikan solusi. Misalnya mereka menggunakan pesawat penumpang itu dijadikan jadi pesawat kargo.

Itu kan juga solusi. Jadi bagi kita ketika solusi itu sudah ada, ya kita tidak terpengaruh sih.

Bagaimana J&T Express menangani peningkatan transaksi pada jenis barang tersebut (yang paling banyak ditransaksikan selama pandemi)?

Jadi untuk menangani peningkatan itu, ya sebenarnya bagi kita hal biasa ya. Jadi ketika misalnya setiap tahun menjelang idul fitri atau menjelang natal dan tahun baru itu kan peningkatannya luar biasa. Nah itu kita selalu menyediakan misalnya infrastruktur kita yang lebih baik lagi. Misalnya, dua bulan sebelumnya kita sudah mulai tambah karyawan, kita sudah mulai tambah mobil. Kita sudah mulai, misalnya kalau tempat lebih kecil kita sudah mulai perluas. Nah itu sebenarnya 3 hal penting bagi ekspedisi supaya ketika pengiriman tambah banyak itu kita terjadi yang namanya overload.

Saat orang PHK, J&T malah nambah karyawan?
Benar. Justru kita di bulan April, Mei, Juni itu kita nambah terus karyawan kita. Karena kan memang itu peak seasonnya bagi kita.

Berapa banyak penambahan karyawan?
Biasanya penambahan kita bisa kurang lebih 20%

Dengan peningkatan transaksi sepanjang pandemi ini, berapa target pertumbuhan J&T Express secara keseluruhan sampai akhir tahun 2020 nanti?
Sampai saat ini tidak ada perubahan target. Target kita masih tetap sama, setiap tahun itu biasanya target kita peningkatan 100% dari tahun sebelumnya.

Sudah sampai 100% dari tahun sebelumnya?
Belum

Apa saja strategi J&T Express untuk memastikan bahwa barang yang dikirim terbebas dari kontaminasi pandemi COVID-19?
Jadi ketika mulai terjadi pandemi COVID-19 ini kita sudah di setiap pusat sortirnya kita, biasanya kita akan melalui proses yang namanya disinfektasi. Jadi barang-barang itu akan disemprot dengan cairan disinfektan setelah itu kita akan tempel label bahwa barang ini sudah melalui proses disinfektan.

Terus misalnya dari sisi kurir kita, dari sisi barang sortirnya kita itu biasanya kita minta mereka harus pakai masker, harus pakai sarung tangan jadi itu kan tidak ada yang namanya sentuhan-sentuhan. Dan itu kita mau memberikan satu rasa aman terhadap customer kita bahwa barang yang dikirim dari J&T itu sebenarnya sudah terbebas dari COVID-19.

Apa upaya J&T express untuk menjamin karyawan atau kurir terbebas dari penularan COVID-19?
Ya dari awal itu kita selalu menyediakan masker gratis, handsanitizer gratis, bahkan kita itu ada pemeriksaan rapid test secara berkala terhadap staf dan karyawan kita.

Dengan kesuksesan J&T express sejauh ini, apakah ada niat untuk melantai di bursa/IPO? Kalau ada kapan kira-kira mau IPO? Kalau tidak kenapa?
Sebenarnya di planning kita sendiri belum ada ke arah IPO karena menurut kita ke arah IPO itu tidak gampang ya, sebenarnya J&T itu sekarang itu lebih fokus perbaikan pelayanan dan ekspansi ke negara-negara lain dulu. Jadi kita tidak mau bahwa kita buru-buru IPO belum mau.

Pada Maret lalu kan J&T Express resmi masuk pasar China. Nah bagaimana perkembangan bisnis J&T Express di sana selama pandemi ini? Apakah sempat terkendala kebijakan lockdown di sana? Atau justru mengalami peningkatan transaksi serupa yang terjadi di Indonesia?
Jadi di China itu sebenarnya kita bulan Maret ini baru benar-benar mulai operasional. Ya sama bahwa di awal bulan Maret itu ketika kita mulai pas banget bahwa kita terkena kondisi lockdown yang waktu itu cukup ketat. Tapi sebenarnya menurut kita itu juga satu kesempatan bagi kita untuk berkembang. Di mana banyak perusahaan-perusahaan gede lainnya yang ketika terjadi COVID-19 itu mereka itu melamban dalam arti karena mereka di lock kan, jadi mereka itu melamban. Jadi ketika mereka melamban, nah kita mulai, kita jadinya punya kesempatan.

Nah perkembangan kita sampai saat ini sebenarnya cukup memuaskan ya. Karena kan di China itu sendiri sudah tidak ada lockdown dan mereka itu bahkan di sana sudah banyak yang tidak pakai masker gitu. Sudah mulai bebas jadi perkembangan kita di sana itu cukup bagus.

Berapa transaksi per hari di sana?
Transaksi di sana itu sekarang itu kurang lebih satu hari di atas 5 juta paket

Di Indonesia berapa?
Di Indonesia kita sekarang sehari itu kurang lebih 1,7 juta paket



Simak Video "Sara Djojohadikusumo: Politik Perempuan, Anak, dan Keluarga"
[Gambas:Video 20detik]