Wawancara Khusus Wamenhan Wahyu Trenggono

Benarkah Asing Boleh Garap Bisnis Senjata di RI?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2020 07:15 WIB
Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono
Foto: Herdi Alif Al Hikam

Jadi untuk investor swasta ini bisa nasional, bisa juga pihak asing?

Iya, sah-sah saja. Tapi bukan asing bisa masuk industri pertahanan, sekarang gini, yang bikin pesawat tempur siapa di sini, Indonesia bisa nggak bikin pesawat tempur?

Nah sekarang apa masalahnya? Kalau dia dari asing bisa masuk bikin pesawat tempur di sini, bagus nggak? Jadi apa persoalannya, misalnya F35, Indonesia belum mampu bikin, semua di Amerika. Kan kalau bisa itu dibikin di PTDI kan bagus juga.

Jadi jangan lihat konotasi asing masuk, lihatlah konteksnya apa? Investasi. Kan kalau dia masuk juga mesti izin juga. Kami kalau dia sensitif, atau bagaimana, ya bisa aja nggak dikasih izin. Jadi walaupun bisa dijalankan pihak swasta, proses kontrol dan perizinannya ada di Kemenhan.

Kalau contoh pengawasannya sendiri seperti apa dari Kementerian Pertahanan untuk investor swasta yang mau masuk industri pertahanan?

Misalnya ada mau masuk pesawat, kita lihat dulu buat kepentingan apa? Kan bisa juga kepentingan lain juga dong. Tentu dari sisi desain dan segalanya karena dia dibuat di sini kita bisa kontrol, misal tenaga kerjanya wajib tenaga kerja kita. Teknologinya dia bawa kemari, tenaga kerjanya dari kita, kan ada nilai manfaat juga di situ.

Kalau pihak swasta, khususnya pihak asing, masuk ke industri pertahanan, apakah kedaulatan negara bisa terancam?

Gini deh, coba lihat senjata yang ada di kita sekarang, ada nggak selama ini yang dari luar negeri? Ada kan. Selama ini nggak kenapa-kenapa kan kita. Nilai manfaatnya ini lebih tinggi nggak dari mudharatnya kok. Lah wong kita selama ini masih beli juga kok dari luar, tapi kan kedaulatan kita nggak dikontrol sama mereka.

Jadi melihatnya saya pikir harusnya gini, bahwa di situ ada transfer knowledge, transfer teknologi, dan investasi di dalamnya justru bisa bikin negara kita makin kuat di kemudian hari. Di situ ada blending, jadi pemerintah sedemikian rupa kalau memang swasta mau melakukan itu punya kemampuan itu. Tujuan kita adalah putra putri terbaik Indonesia bisa melakukan itu semua. Kita berikan ruang di sini, jadi itu esensinya kenapa swasta boleh masuk. Jadi jangan lihat asingnya aja yang mau masuk, kita lihat keuntungannya lah.

Kalau ternyata justru lebih banyak swasta asing yang masuk ke dalam industri pertahanan bagaimana?

Kan kembali lagi saya bilang, kalau mau masuk, tetap kita yang izinkan, makanya kita bakal kasih syarat dong yang ketat. Misalnya kita minta kamu gunakan 100% engineer Indonesia, kemudian marketnya kamu itu bukan market buat kita aja tapi juga ekspor, kan bisa begitu.

Bila dilihat kondisi saat ini, apakah investasi dalam industri pertahanan sangat darurat dibutuhkan?

Kalau industri pertahanan menurut pandangan saya ini kan basic seluruh industri, handphone aja diawali dari kepentingan pertahanan kan. Itu diciptakan dari kebutuhan militer Amerika, sampai akhirnya dikomersilkan. Makanya justru ini akan jadi kemaslahatan manusia. Nah industri pertahanan pasti akan riset, nah di sini yang dibutuhkan. Kalau assembling aja bukan industri pertahanan namanya.

Jadi pentingnya itu tadi di situ, know how, knowledge-nya ini kita belum sampai, maka butuh lah kita orang lain, orang yang bisa bawa konteks bisnis, konteks riset juga. Jadi kita bisa belajar bersama, itu di-blending jadi satu. Makanya kita bisa punya kemampuan.

Pada industri pertahanan, sektor apa yang paling membutuhkan investasi?

Paling esensial sekarang menurut saya adalah di bidang food dan bidang kesehatan. Jadi pertahanan itu jangan lagi dilihat cuma melulu bangun alutsista. Bicara juga makanan, misalnya riset suatu tumbuhan yang hidup di negara climate tropis kemudian dia memancarkan energi maksimum, nah itu ketahanan.

Nah, kita terus terang saja dalam konteks dari luar kita butuh riset tentang itu. Kalau alutsista itu mudah lah bikin senjata, misalnya senjata lebih ringan dengan teknologi dan material tertentu itu biasa saja, tapi boleh juga. Kalau itu bisa dilakukan di sini dengan investasi baik dari dalam dan luar negeri, kalau itu bisa dilakukan kan negara lain bisa saja mau menggunakan.

Namun itu kan senjata ketahanan fisik. Tapi ketahanan manusianya juga penting. Contohnya obat-obatan, 95% bahan baku obat kita impor, kalau bisa dibuat dalam negeri itu kedaulatan ketahanan juga. Jadi definisi industri pertahanan sekarang harus luas, jangan cuma pertahanan dalam senjata saja.

Jadi kita misalnya punya PTDI, kita bikin pesawat dari dulu CN235 saja, CN235 aja dari dulu nggak bisa-bisa komersil lho. Coba bayangkan kalau dia bisa transformasi jadi pesawat antar pulau, maka ATR72 itu nggak mesti berkeliaran lagi di langit kita, itu ketahanan juga. Bisa buat transportasi nggak cuma tempur aja. Itu kan pesawat angkut militer yang mesti dimodifikasi jadi pesawat komersil, tapi nggak berkembang. Kalau jarak pendek kan naiknya ATR-72, kan itu dari luar juga produksinya.

Bila dilihat kapasitasnya, seberapa besar produksi industri pertahanan dalam negeri yang saat ini digunakan negara?

Sebenarnya banyak produk dalam negeri, gini deh yang dibuat dalam negeri itu, senjata ringan dibuat Pindad, itu namanya SS1 dan SS2. Itu seluruh produksi Pindad digunakan sama kita. Jenisnya itu aja. Ada juga tank Anoa. Nah selama ini produksi ada, tapi bahan bakunya impor.

Terus ada juga kendaraan taktis dan tempur bisa diproduksi tapi masih impor. Nah di mana itu kalau keahlian bisa dibawa dengan investasi ke sini, maka bahan bakunya itu di Indonesia bisa dipenuhi.

Saat ini produk dalam negeri apa saja yang rencananya mau dibeli dan digunakan pemerintah, terakhir kan Maung dari Pindad?

Iya itu kan kendaraan operasional, misalnya untuk komandan kodim, komandan koramil, itu namanya Maung. Itu mesinnya dari Toyota yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan si Maung ini. Tapi, sampai sekarang ya belum jadi. Baru itu saja yang lagi dia buat. Sama satu lagi ada Anoa, terus senjata ada dua SS1 dan SS2. Apa yang diproduksi Pindad kita beli semua, tentu juga sesuai dengan kebutuhan. Dari BUMN lain pun juga begitu.

Kalau dari luar negeri, ada lagi nggak alutsista yang mau dibeli pemerintah?

Alutsista luar negeri ini kita masih dalam kajian semua lah, pak Menhan pun sedang keliling dalam rangka diplomasi pertahanan, melihat mana yang cocok sama pemerintah Indonesia. Bahwa kita mau beli apa, belum bisa ditentukan. Kita kaji lah semua, kita kaji yang cocok sama negara kepulauan kayak kita begini. Jadi bukan berarti lho ya setiap kita keluar negeri, artinya mau beli sesuatu. Kalau tawaran, seluruh dunia juga kasih tawaran, tapi kan apa yang kita perlukan ya mesti dikaji.