Wawancara Khusus Wamenhan Wahyu Trenggono

Benarkah Asing Boleh Garap Bisnis Senjata di RI?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2020 07:15 WIB
Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono
Foto: Herdi Alif Al Hikam

Beralih ke rencana food estate, kenapa Pak Menhan Prabowo Subianto menyebut food estate singkong cuma back up?

Jadi gini, saya sebutkan tadi soal makan itu kedaulatan juga, ketahanan pangan kita itu kuat berapa lama, kalau terjadi bencana panjang, perang panjang bisa kuat berapa lama. Misal gini deh sekarang pandemi, kita aja susah impor, karena negara-negara yang memproduksi makanan juga mereka memilih untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

Itu lah yang mendasari kita bahwa kedaulatan pangan jadi bagian penting yang harus disiapkan, makanya Kementerian Pertahan mendesain supaya negara siapkan cadangan pangan buat generasi yang akan datang. Jangan sampai lahan-lahan yang seharusnya untuk pangan, jadi berubah fungsi tumbuhan industri, jadi kita mesti punya back up. Mesti ada cadangan, jadi nggak tergantung negara lain. Basic-nya begitu.

Kenapa harus bangun singkong juga, kan sudah ada padi dari Kementerian Pertanian?

Pada dasarnya kita kan butuh karbohidrat, asalnya kan dari padi, umbi-umbian, kemudian sagu, jagung. Indonesia yang ditanam masyarakat kan padi. Tapi banyak komoditi lain belum disentuh, kalau semua padi butuh effort besar, karena dia butuh bendungan, irigasi, jenis tanahnya khusus. Sementara yang lain alternatifnya banyak, yang semuanya tanaman utama belum tersentuh. Nah itu lah yang penting buat cadangan.

Makanya kita ambil yang paling efisien yang paling mudah, tapi penting. Apa itu? Ya singkong, kita fokusnya ke situ. Sementara itu, Kementerian Pertanian ya sesuai dengan tupoksinya untuk tanaman rakyat, makanya kan yang umum padi, konsepnya rakyat. Kalau yang di kita konsepnya cadangan, jadi negara yang memiliki lahan buat cadangan.

Nah kenapa singkong? Karena kita bisa modifikasi jadi turunan tepung. Turunannya itu bisa dibikin mie, roti, dan sebagainya. Apalagi gini, impor tepung kita itu US$ 3 miliar setahun, Rp 45 triliunan. Nah itu yang nikmati siapa? Produsen gandum. Kan asing semua itu gandum, karena nggak tumbuh di Indonesia. Nah gantinya ini tepung umbi-umbian, supaya kita juga bisa tekan impor. Nah itu lah kedaulatan pangan.

Apa saja yang mau dibuat di food estate?

Sebanyak mungkin kita akan bikin kebunnya. Kita mau bikin cadangan makanan kita, kalau ada lahan sejuta hektar dua juta hektar kita bikin. Fasilitas pengolahan juga akan dibikin. Semua akan dibikin di sana. Akan menarik tenaga kerja lokal juga, pokoknya ini juga akan gerakkan ekonomi.

Progress-nya sendiri sudah sampai mana sekarang, apakah lahan sudah ada dan sudah mulai proses penggarapannya?

Kalau lahannya ada, kita tinggal jalan, masalahnya ini kan lahannya belum ada. Masih diproses. Kalau ada lahannya mah dari kemarin juga bisa saja kita mulai. Tergantung lembaga lain aja kita, tergantung pemerintah daerah juga, mana lahan yang kosong dan bisa digarap. Semua proses aja, cuma sampai hari ini belum ada lahannya.

Kalau bicara target, kita pengin 1 juta hektar, nggak bisa tapi kita targetkan tahun. Lahannya aja ini susah, ini saja sudah 6 bulan ini lahannya belum dapat-dapat. Kapan atau di tahun berapa sampainya ya wallahualam, kalau bisa sampai 2-3 tahun ya alhamdulillah. Pada prinsipnya kami sudah siap.

Investasinya sendiri berapa banyak, sudah disiapkan?

Kurang lebih investasinya sekitar Rp 30 juta per hektar. Anggaran pokoknya sudah ada dari negara lah, itu aja yang bisa saya sampaikan dulu.


(eds/eds)