Wawancara Khusus Dirut TransJakarta

Buka-bukaan Soal Halte Jadi Korban Kericuhan Demo Omnibus Law

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 06:00 WIB
Dirut Tj, Sardjono Jhony
Foto: Dirut Tj, Sardjono Jhony (Dok.TransJakarta)

Seberapa besar dampak demo penolakan Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja terhadap operasional Transjakarta?
Kalau dampak operasional sebenarnya kecil. Operasional Transjakarta tidak sampai setop, tidak betul-betul terganggu hingga tidak melayani masyarakat. Layanan tetap kita lakukan, tetap full. Hanya saja, karena halte-halte terdampak tidak bisa digunakan pada saat itu, kita mengambil jalan luar. Jadi bis-bis high entry itu kita ganti dengan bus low entry, mengambil jalan raya biasa, bukan busway, untuk berhenti di halte-halte yang sudah disediakan. Tapi secara rute, secara pelayanan sebenarnya tidak berdampak.

Bagaimana proses mensterilkan halte ketika ada demo besar mulai 6 Oktober 2020 itu? Apakah terkendala dengan banyaknya pendemo? Ataukah masih ada bus yang melintas ketika pendemo sudah berkumpul?
Tidak ada, waktu demo dimulai itu ya kita setop pelayanan. Jadi belum crowded. Kemudian terjadilah itu 'sate halte', bakar-bakaran.

Ketika mulai demo apakah masih ada penumpang di halte?
Tidak ada, sudah bersih.

Berapa jumlah halte yang terdampak demo penolakan Omnibus Law Cipta Kerja?
Fasilitas yang terdampak 46 halte. Kita kategorikan dari sangat ringan yaitu vandalisme saja, ringan-kerusakan kaca sedikit, lalu sedang, kerusakan berat, dan berat terbakar. Halte yang berat terbakar itu ada 6 halte, di Sarinah, Sawah Besar, Harmoni, Bundaran HI, Tosari, dan Senen.

Apakah 6 halte dengan kondisi berat terbakar sudah proses diperbaiki?
Yang kita utamakan adalah pelayanan. Jadi ketika kita menghadapi permasalahan itu, 72 jam kita perbaiki untuk bisa digunakan secara full. Setelah itu semuanya berjalan normal lagi. Tapi apakah ini harus kita rubuhkan dan kita bangun ulang, itu sedang kami kaji.

Dari kerusakan tersebut, berapa total kerugian Transjakarta?
Orang bilang 46 halte, terus buat membangunnya butuh Rp 65 miliar, bukan, bukan begitu. Dari 46 halte yang rusak ini kerugiannya Rp 65 miliar. Bangunnya berapa ya kita belum tahu, lagi kita hitung.

Perhitungan kerugiannya itu dari mana saja?
Karena tidak bisa dipakai, dan kerugian asetnya, kan ada yang terbakar, tidak bisa dipakai. Padahal baru setahun, seperti Tosari itu. DIbakar sampai sedemikian rupa, sampai bajanya melenting. Nah itu kerugian total Rp 65 miliar.

Tapi untuk memperbaiki seluruh halte yang rusak kebutuhan dananya berapa?
Tergantung kerusakannya, ada yang kita perbaiki bertahap, ada yang kita lockdown lalu kita rebuild, atau ada yang sekadar kita touch up saja, kita cat ulang seperti yang vandalisme saja.

Halte yang paling ikonik dan disorot itu kan di Bundaran HI dan Tosari, mungkinkah akan kembali ke bentuk semula? Atau diperbaikinya beda nanti?
Oh tentu lebih indah, lebih bagus. Pasti lebih bagus. Kita akan mulai (renovasi) segera. Tapi yang pasti kita targetkan di kuartal III-2021 itu sudah beroperasi. Nanti di atasnya ada viewing gallery, ada tempat untuk restoran, atau mungkin untuk franchise coffee shop, dan lain sebagainya. Di bawahnya halte, dan itu rencananya akan dilakukan di 4 halte besar seperti di Sarinah, Bundaran HI, Tosari, dan Dukuh Atas 1.

Apakah rencana membuat halte dengan model tersebut baru tercetus setelah dirusak pendemo, atau sebelumnya sudah ada dalam rencana kerja Transjakarta?
Tidak setelah rusak. Memang kami sudah ada rencana itu. Kalau rusak kan memang tidak bisa dipakai sebenarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4