Bawa Petani Naik Level, Ini Startup Perikanan Terbesar di Dunia

ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus CEO eFishery Gibran Huzaifah

Bawa Petani Naik Level, Ini Startup Perikanan Terbesar di Dunia

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 19 Jul 2022 08:00 WIB
CEO eFishery, Gibran Huzaifah
Foto: Dok. eFishery
Jakarta -

Gibran Huzaifah menjadi salah satu rising star dalam dunia startup dalam beberapa musim terakhir. Startup eFishery yang digawanginya sejak 2013 tersebut kini menjelma menjadi perusahaan rintisan terbesar di dunia untuk bidang teknologi budi daya perikanan.

eFishery merupakan perusahaan rintisan yang menjual alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang. Kesuksesannya membawa petani budi daya perikanan naik level lewat eFishery menjadi alasan detikcom membedah profil anak muda kelahiran 31 Desember, 33 tahun yang lalu tersebut.

Berawal dari mimpi memiliki 100 kolam, kini eFishery berhasil memiliki 200 ribu kolam dari seluruh mitranya di Indonesia. Gibran bahkan menargetkan mitra 1 juta kolam pada tahun 2025.

"eFishery sekarang jadi perusahaan teknologi perikanan terbesar di dunia. Karena kita memang startnya duluan," kata Gibran.

Kepada detikcom, Gibran bercerita mengenai keberhasilan eFishery membawa petani budi daya perikanan naik level hingga misinya membawa sektor budi daya perikanan dalam negeri ekspansi ke tingkat global. Berikut wawancara selengkapnya:

Apa yang menginisiasi seorang Gibran Huzaifah mendirikan eFishery?

Sudah sejak kuliah punya kolam ikan sendiri, dari tahun 2009. Dari kuliah itu ada mata kuliah Agrikultur. Dan akhirnya mata kuliah itu terinspirasi bikin kolam ikan. Jadi dari 2009 saya buka kolam ikan sendiri. Dari tadinya satu kolam, nambah jadi 10 kolam, nambah jadi 20 kolam, sampai pas saya lulus kuliah, saya punya 70-an kolam.

Ide awal sebenarnya nggak bikin teknologinya, cuma ngelihat banyak orang budi daya ikan saya pengin belajar, pengin gimana caranya punya kolam yang banyak. Saya punya ide, saya pengin 1.000 kolam, belajar dari pebisnis lainnya. Dari ngobrol situ sih, saya belajar caranya membesarkan budidaya ikan. Sampai pas saya ngobrol, sharing soal masalahnya, saya ngelihat masalahnya cukup seragam. Jadi mulai masalah pakan kan mahal, 70-90% biayanya dari petani.

Lalu pemberian pakan kan manual. Kalau males ngasih makan atau pakannya dijual ke orang lain terus dijadiin beras, itu sering kejadian. Nggak ada solusinya, itu masalahnya.

Belum lagi masalah soal pasar, naik turun. Penjual harus kuat, harganya. Makanya dari masalah-masalah itu, malah saya kepikiran ide lain. Ternyata masalahnya banyak dan nggak ada yang nyolusiin. Saya kepikiran gimana kalau saya nggak cuma bikin kolam sendiri, tapi juga bikin bisnis yang menyolusikan masalah-masalah para pembudidayaan ikan. Makanya waktu ide awalnya sebenarnya dari celetukan, ngobrol sama pembudi daya ikan, saya nyeletuk, gimana kalau saya bisa bikin alat dan ngasih makan ikan dari HP (handphone).

Dan akhirnya pas ngobrol sama pembudi daya ikan, mereka langsung tertarik 'boleh deh karena masalah pakan besar, biayanya mahal, pemberian pakannya manual, dan lainya'. Itulah ide awalnya pembuatan eFishery, di mana produk awalnya eFishery Feeder.

Potensi dan peluang budi daya ikan di Indonesia?

Potensinya besar sekali. Dan ini yang saya lihat banyak yang meremehkan potensinya. Padahal Indonesia itu secara potensi, negara nomor satu yang punya potensi perikanan budi daya di dunia. Karena yang pertama, dari segi potensi alamnya, kita punya garis pantai terpanjang dunia setelah Kanada. Tapi kalau Kanada garis pantainya keras ya, jadi dia nggak bisa dibikin buat kolam ikan atau tambak udang. Sementara di Indonesia, itu hampir seluruh garis pantai bisa dibuat kolam ikan sama tambak udang. Jadi kita punya garis pantai terpanjang di dunia yang paling produktif. Kedua, cuacanya, Indonesia sangat mendukung.

Jadi tadi, berawal dari keresahan, banyak potensi yang belum digali begitu. Dan dari niat awalnya pengin punya 1.000, eFishery sudah berapa tahun sampai sekarang?

Sekarang di tahun yang ke 9, Jadi Oktober kita 9 tahun.

Dari 9 tahun akhirnya sudah tercapai 1.000 kolam itu?

Sudah. Sekarang kita total ada 200 ribu kolam lebih yang tergabung di eFishery.

Ada di mana saja?

Kita sudah ada di 25 provinsi di Indonesia, dari mulai Aceh sampai Nusa Tenggara Timur. Paling jauh di Minahasa utara, yang telunjuknya Sulawesi lah.

Tantangan yang paling berat itu pakan, biaya operasional didominasi kebutuhan pakan. Setelah mendirikan eFishery, melahirkan 200 ribu kolam ikan, masalah pakan ini sudah bisa ditekan? Seperti apa solusinya?

Ada tiga solusi yang kita kasih buat pakan. Solusi yang pertama itu dari pendekatan teknologinya. Kita bikin alat buat kasih makan ikan otomatis, terhubung ke sensor, terhubung dengan aplikasi, namanya eFishery Feeder. Jadi petani pakai alat ini dia bisa kasih makan ikan secara otomatis dan lebih optimal. Yang tadinya biaya pakan tinggi, sekarang lebih efisien dan pertumbuhan ikannya lebih bagus.

Simple-nya sih caranya kalau pake manual kan nggak kekontrol, kasih makannya tuh 2-3 kali sehari juga. Karena tenaga manusia terbatas. Kalau pakai teknologi kita itu bisa kasih makannya 50 kali sehari, 100 kali sehari, jadi kasih makannya sedikit-sedikit, jadinya pakannya lebih efisien, kayak kita ngemil makannya sedikit-sedikit. Dengan alat ini, pertumbuhan ikannya meningkat sampai 30%. Itu yang pertama, jadi pendekatannya pake teknologi dengan cara kita mengoptimalkan metode pemberian makan.

Terus yang keduanya, setelah petani bergabung dengan kita dan mereka pakai teknologi, kita bisa tahu datanya. Jadi data harian kayak pakannya berapa, mereka pakai pakannya merek apa, berapa banyak, kita dapat semua informasi itu. Nah, pembudi daya ikan di Indonesia ini skalanya kecil-kecil. 90% lebih itu skalanya kecil, jadi kalau mereka beli pakan itu harus ke toko dengan harga ritel. Nah karena kita punya batas, Jadinya kita bisa menggabungkan, agregat. Akhirnya awalnya yang mereka beli pakan ke toko, kita kumpulin volumenya lebih besar jadi kita bisa beli langsung ke pabrik. Jadi petani bisa punya pakan dengan harga pabrik lebih murah. Dan ini kita bisa nurunin harganya 5-10% dibanding harga normal. Itu yang keduanya, pola distribusi. Ini namanya bisnis modern kita namanya eFishery Mall. Intinya kita bantu mereka, dari awalnya kasih pakan sekarang kita bisa menyediakan benih, petani bisa dapat harga lebih murah, lebih rendah dari harga pasar.

Sama yang ketiga, petani, peternak ikan mereka nih kalau beli pakan, mereka kan modal terbatas. Jadi mereka tuh request, bisa nggak saya tuh beli pakan, tapi bayarnya setelah panen. Nah itu akhirnya kita ngeluncurin produk namanya eFishery Kabayan atau Kasih Bayar Nanti. Di eFishery, Kabayan pasti bayar nanti ini semacam pay later-nya lah. Namanya juga kasih bayar nanti, pay later. Itu yang kita kerja sama kan dengan fintech perbankan.

Manfaatin data yang kita punya, kita bikin spot kredit, petani akhirnya bisa dapat unit Kabayan tadi, buat beli pakan tadi. Ini ngaruhnya apa, biasanya petani kalau beli pakan biasanya lewat tengkulak atau dapat pinjaman, itu bisa mahal banget. Dengan kita ada Kabayan ini, mereka bisa dapat akses pembiayaan formal yang jauh lebih murah, bisa separuh lebih murah karena cuma 16%-20% untuk beli pakan. Jadi akhirnya mereka punya modal buat beli pakan lebih mudah. Dan bayarnya bisa nanti setelah panen. Jadi nggak hanya dari segi penggunaan pakan, akhirnya jadi lebih efisien, harga pakan yang lebih mudah karena kita agregasi dengan eFishery Mall, termasuk program Kabayan kita, sehingga mereka bisa beli pakan, tapi bayarnya nanti gitu. Mempermudah dari sisi permodalan.

Petani Ikan secara turun temurun cenderung skeptis untuk bisa berdampingan dengan teknologi. Kemudian pendekatan apa yang Mas Gibran dan eFishery lakukan sehingga akhirnya mereka mau bersandingan dengan teknologi, dan menerima untuk bisa maju bersama teknologi tadi?

Pasti susah, Mas. Apalagi di awal-awal 9 tahun lalu, 8 tahun lalu waktu kita pertama kali mulai. Para pembudi daya bilang, kita udah ngelakuin ini 20 tahun, 30 tahun dengan cara yang biasa. Tapi kalau pun kita bilang, pak nanti bapak untungnya bisa lebih gede loh, 'Ya segini aja saya udah cukup mas, sudah bisa kasih makan anak istri', jadi mentality-nya itu yang agak susah buat kita dorong.

Ini terinspirasi sebenarnya dari awal waktu pertama kali bikin, eFishery yang jualan produk langsungnya itu saya langsung. Jadi saya keliling-keliling, dari satu kolam ke kolam yang lain gitu. Terus aja setiap hari tuh keliling-keliling. Pertama di daerah-daerah. Dan waktu saya keliling-keliling, petani, banyak pembudi daya yang akhirnya, yang awalnya nggak mau, lama kelamaan mau. Dan waktu saya tanya ke 10 pembudi daya pertama, 'Pak kenapa sih bapak mau pakai', dan alasannya itu bukan karena teknologinya apa, bukan karena inovasinya, nggak sama sekali. Alasannya karena Mas Gibran datang terus katanya. Saya kasihan sama mas Gibran, saya mau bantu Mas Gibran. Jadi alasannya sangat personal sekali. Tapi di situ bermulanya.

Terus saya menemukan bahwa bukan hanya menemukan teknologinya saja, tapi harus ada pendekatan komunitasnya. Kita harus bisa bangun kepercayaan mereka ya. Kita harus bisa memperlihatkan bagaimana kita bisa ada di keseharian mereka. Makanya cara kita sekarang ada dua cara. Pertama kita bangun eFishery Point. Kita bangun semacam community center atau cabang-cabang di daerah-daerah, itu semacam ya area di mana pembudi daya bisa datang ke sana, jadi kita berikan edukasi. Jadi edukasi ini bagian terpenting sih.

Kita juga perlu ngasih liat, karena mayoritas penduduk Indonesia itu, main source income mereka itu dari kolam. Jadi kalau kolamnya nambah, atau panennya lebih besar, ya duitnya bakal lebih banyak, bisa lebih sejahtera. Dan siapa yang nggak mau lebih sejahtera, itu yang harus kita perlihatkan.

Cuma, kita perlu memperlihatkan dengan ngasih lihat bukti, para pembudi daya yang ada di sana. Jadi petani yang nyeritain 'Oh saya bisa nih, dari eFishery, dari 3 kolam saya bisa jadi punya 10 kolam. Dari saya punya enam kolam sekarang punya 18 kolam'. Cerita -cerita yang langsung datang dari pembudi daya lagi-lagi masuk ke poin pertama dibanding komunitasnya, itu akhirnya yang bikin percaya. Jadi bukan urusan teknologinya yang kita jual, tapi bagaimana peningkatan kesejahteraan. Karena pendekatan komunitas ini yang selalu kita utamakan.

Kan selama 9 tahun ini berhasil menciptakan 200 ribu kolam ikan. Pertanyaannya, sudah puas belum dengan capaian 200 ribu itu dalam 9 tahun? Atau masih belum sesuai dengan ekspektasi yang diusung di awal?

Sebenarnya kalau kita bandingin dengan visi di awal sih, visi kita waktu itu nggak muluk-muluk karena saya pengin punya kolam sendiri 1.000. Jadi kalau sekarang pembudi daya yang tergabung di eFishery ada 200 ribu kolam, itu udah jauh melebihi ekspektasi awal. Karena ekspektasinya, mimpinya rendah lah waktu itu. Tapi kalau kita melihat potensinya ya. Di Indonesia ini ada 3,4 juta pembudi daya, orangnya. Yang di kita budi daya ikan ada 3,4 juta. Dari kolamnya sendiri itu ada 13 juta kolam. Jadi sebenarnya potensinya masih gede banget, dan kita cuma 200 ribu kolam. Makanya eFishery punya mimpi di 3 tahun ke depan, kita punya 1 juta kolam yang masuk ke kita sampai tahun 2025. Jadi memang masih besar lah yang mau ke depan.

Target hingga ke 2025 berarti satu juta kolam ya. 1 Juta kolam itu kalau misalnya dikonversi setiap bulannya, dalam rupiah bisa menghasilkan omzet berapa?

Kalau buat pembudi daya sih, satu kolam bisa panen sekitar Rp 40 juta-45 juta per siklus atau Rp 15 juta per bulan untuk para pembudidayanya. Cuma dari eFishery kan, kita ngambil business model kita ya macam-macam. Ya dari hasil panen kan kita ambil juga, kita jualan pakan ke mereka, kita kasih teknologi ini, eFeedernya, kita sewakan ke mereka, mereka bayar biaya sewa. Itu beda-beda sih. Tapi di titik itu kita bisa mengoptimalkan kurang lebih hampir sekitar Rp 20 triliun - Rp 30 triliun lah, total market yang udah kita capture gitu ya. Tapi bukan omzet eFishery.

Rp 20 triliun - Rp 30 triliun itu apa?

Itu total dari value dari pembudidaya yang sudah tergabung ke kita. Dari pakannya, dari hasil panennya, itu setara dengan Rp 30 triliun.

Jadi istilahnya total aset dari yang dimiliki?

Betul-betul, jadi total apa ya, mungkin total omzetnya petani yang tergabung ke kita lah. Sekitar segitu lah.

Itu per apa, Rp 20 triliun - Rp 30 triliun?

Per tahun.

Terakhir kali eFishery dapat pendanaan apa?

Seri C, itu akhir tahun lalu.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT