Blak-blakan Rahasia di Balik Dominasi JNE hingga Lahirkan Paxel

ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus Pendiri JNE, Djohari Zein

Blak-blakan Rahasia di Balik Dominasi JNE hingga Lahirkan Paxel

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 31 Agu 2022 08:35 WIB
Founder JNE, Djohari
Foto: Dok. Paxel
Jakarta -

Siapa tak kenal JNE atau PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir? Keberadaan perusahaan ekspedisi ini seolah telah menjadi bagian penting di kehidupan masyarakat Tanah Air saat ini.

Kehadiran abang-abang kurirnya dengan seruan 'Permisi paket!' kerap dinanti, khususnya bagi mereka yang sering belanja online.

Di balik besarnya JNE saat ini ada sosok Djohari Zein. Pria kelahiran Medan, 16 April 1954 ini merupakan salah satu sosok pendiri JNE.

Dalam wawancara khusus detikcom, ia bercerita mengenai kisah perjalanan hidupnya hingga membangun JNE. Tak cuma itu, ia juga mengungkap alasannya membangun perusahaan rintisan atau startup Paxel yang sama-sama bergerak di bidang logistik.

Berikut wawancara Djohari dengan detikcom di Kantor Pusat Paxel, Jatinegara, Jakarta belum lama ini:

Sukses membangun JNE dan kini membangun Paxel, bagaimana kisah masa kecil Bapak?

Saya pernah mencoba-coba mengingat-ingat sebetulnya saya ini passion-nya apa ya, kok sekarang ada di logistik? Padahal pendidikan saya waktu itu kuliah ya di perhotelan, pariwisata di Tri Sakti. Kemudian kok saya jadi tukang anter barang ya, kok bisa begitu.

Jadi mengingat-ingat sejarahnya, ingat mentor-mentor yang pernah saya kenal, saya ingat itu ya, kalau saya mundurin sampai ke kakek saya. Kita ini kan ada kakek istilahnya kalau kita orang Chinese ada kakek dalam, kakek luar. Kakek dalam itu dari pihak ayah saya, kakek luar dari pihak dari ibu saya.

Rupanya dua orang kakek saya ini punya latar belakang entrepreneurship yang berbeda-beda. Walaupun mereka dari masa lalu saya, tahun 1900 waktu kakek saya dari pihak ibu datang ke Indonesia. Ini ceritanya panjang, jadi naik kapal, dia cuma bawa terigu. Jadi orang susah rupanya. Waktu itu dia mendaratnya di Belawan, di Medan. Mulailah kisahnya dia itu, kalau kamu tahu tentang film Squid Game, itulah perjuangannya di situ. Squid Game itu kan semacam perjuangan kita mencapai sukses, kakek saya dari ibu saya, dia waktu datang ke Medan nggak punya kerjaan, akhirnya dia bekerja waktu zaman itu Belanda.

Dia itu mendapat kerja buka restoran, tapi kan di zaman susah itu nggak ada gaji. Dijanjikan 'Kamu kerja sini cuci apa yang kamu bisa cuci, tapi nggak dikasih gaji ya. Terus saya mau bagaimana makannya? Kalau kamu mau makan sisanya aja kalau ada' katanya gitu.

Hidup dengan kesulitan semacam itu kakek itu bekerja sebagai tukang cuci piring, akhirnya dia belajar di dapur itu bagaimana memasak, sampai dia bisa membuat kue. Akhirnya dia itu bisa punya toko di pusat pasar di Medan itu. Saya masih ingat, saya juga jaga tokonya waktu kecil. Itulah modal kehidupan yang bukan kehidupan yang kaya raya tapi juga penuh perjuangan.

Memang sebuah perjuangan, modalnya dia itu menjalankan ritel service business dan sebagainya. Dari situ saya banyak mengikuti dan melihat bagaimana menjalankan bisnis dengan menghargai waktu, disiplin, produksi, dan sebagainya. Di situ belajar dari kakek saya. Mungkin pengaruh itu cukup kuat juga.

Cerita lain, di mana ayah saya itu berbeda pula latar belakangnya. Kalau kakek dari ayah saya itu termasuk orang kaya dia. Di Medan itu kan di zaman Belanda ada macam-macam, kalau kakek saya yang satu itu dari pasar hidupnya, perjuangannya dari ritel, sedangkan kakek saya dari pihak ayah saya itu dia datang ke Indonesia lebih duluan.

Di zaman itu, zaman Belanda dia dapat apresiasi yang lebih tinggi, terus dia kerjanya di bank termasuk orang kaya. Tapi bukan karena soal kayanya bagaimana, tetap sederhana tapi di zaman yang berbeda.

Kakek saya dari pihak ayah saya itu bukan orang yang jualan ritel seperti kakek saya dari ibu saya. Yang satu dunianya dunia Belanda, buka bank, bikin toko, dan sebagainya. Itu dua sisi yang berbeda, tapi dua-duanya memberikan ilmu yang sangat kita butuhkan.

Jadi makanya entah bagaimana di zaman sekarang ini saya waktu mulai masuk bisnis saya cukup enjoy, bisa membuat pekerjaan selesai dengan memberikan nilai tambah pada orang-orang seperti model kakek saya. Ritel cukup sibuk tapi memberikan manfaat.

Itu jadi latar belakang, salah satu, kok cocok ya kalau saya di bagian logisitik pekerjaannya delivery. Kalau delivery buat saya adalah model your destination is our goal, tujuan hidup kita adalah tujuan mereka juga, membantu mereka. Makanya di Paxel ini sering ada semacam moto yang kita pakai itu adalah hashtag Antarkan Kebaikan itu sebagai sebuah awal yang akan membuka pintu kita.

Jadi dua kakek ini yang menginspirasi?

Inspirasi, selain yang lain-lain, mentor itu harus banyak, kalau mentornya cuma satu nggak cukup.

Dari kecil apakah kehidupan bapak sudah mapan?

Saya rasa tentu masing-masing punya pilihan dengan model hidupnya masing-masing. Menurut saya secara umum dengan usia saya 68 tentu saya sudah melihat banyak juga. Mungkin bagus ya kalau kita sebagai seorang manusia menjalankan kehidupan kita dalam lingkungan yang dalam posisi minoritas kalau menurut saya, tanda kutip kekurangan lah, tidak mayoritas.

Kalau mayoritas cenderung memiliki segala-galanya, kalau kita muslim kalau mendapat rezeki biasanya kita senang padahal di situ ujiannya sangat besar. Kalau mendapat musibah umumnya manusia itu berdoa karena dia menderita.

Saya lebih senang kalau kita dalam kondisi yang cobaan, ujian membuat kita manusia yang lebih kuat fighting-nya, karena kalau orang terlalu senang-senang terus kurang punya kesempatan untuk belajar. Kalau kita minority dalam kondisi kurang itu membuat kita lebih gigih.

Mengambil contoh itu, saya rasa dalam kehidupan saya sendiri melihat kakek saya, dua-duanya juga punya perjalanan yang cukup berat jadi tidak kekurangan, kita bukan orang yang minta-minta fakir miskin, nggak juga, tapi kita tidak pernah merasa wah saya sudah cukup, jadi kita selalu fight, itu yang membuat saya rasa gaya hidup saya pun begitu, terhadap juga saya mendidik anak-anak saya dan mungkin nanti cucu-cucu saya.

Zaman dulu waktu saya masih kecil, saya masih ingat, kita kalau kita ulang tahun makan kentucky aja udah happy banget, bukan soal uang tidak punya uang, tapi apresiasi dengan apa yang kita sudah bisa dapat.

Minority itu membuat kita lebih mampu, tidak menyerah. Jadi saya sering juga ngajarin teman-teman, karyawan kita juga. Jadi kalau kita sedang happy ingat kita bersyukur. Kalau kita lagi cobaan, jangan lupa sabar dan bersyukur dalam doa yang akhirnya kita jadi tidak menyerah. Dua kondisi itu yang harus menjadikan kita mudah dalam kehidupan kita.

Minoritas itu seperti apa?

Jadi kalau kita minority kita bisa ambil contoh penduduk kita ini 270 juta, yang majority kita tahu lah muslim paling banyak jumlahnya. Tapi yang kita dengan mudah bisa melihat minority adalah mungkin suku-suku tertentu di daerah tertentu.

Mungkin orang Sunda banyak, tapi juga ada orang yang minority di Sunda itu, ada suku tertentu lah di keturunan tertentu. Misalnya, kalau saya bilang yang paling mudah orang Chinese itu selalu minority. Tapi sering sekali orang menganggap orang Chinese itu orang kaya. Kenapa dia bisa begitu, apakah otaknya berbeda, nggak juga. Padahal yang membuat mereka berbeda mungkin cara memandang hidup, menjalankan hidup, mungkin lebih hemat, atau cara dia menghargai waktu. Itu membuat minority itu menonjol secara tidak langsung.

Dulu waktu kecil katanya sering di-bully, kenapa?

Mungkin keadaan ya, kondisi di zaman itu, saya waktu sekolah tahun 1950 sekian lah, saya masih di SD, TK aja saya sudah sekolah sebetulnya waktu itu barangkali salah satunya karena saya sekolah di bawah umur.

Di TK aja saya masih umur 4 tahun atau 3 tahun. Kembali lagi ibu saya itu orang susah dalam tanda kutip kakek saya buka toko di pasar. Ibu saya itu guru, guru bahasa Inggris. Dia sangat concern dengan pendidikan saya, mungkin itu salah satunya. Jadi saya TK aja sudah sekolah, itu di gereja sekolahnya. Akibatnya waktu SD ya saya paling kecil di kelas. Itu saya satu kemungkinan yang menurut saya karena saya terlalu kecil di kelas.

Kadang-kadang ada nakal berisik, yang kena hukuman kita aja berdua, karena kita paling kecil, ada di satu kelas dua orang paling kecil.

Yang lainnya komunitasnya, waktu itu saya di Medan, saya itu, selain ibu saya, saya juga anak dari ayah saya. Ayah saya ada Belanda-belandanya dalam tanda kutip. Karena dia kerjanya di bank, ayah saya itu orang dalam tanda kutip orang dianggap istilahnya barang kali Indo. Dia agak Indonesia, Chinese tapi bukan Indonesia. Ada orang yang melihatnya ini Chinese, ada orang Chinese yang melihatnya Indo.

Jadi saya termasuk keluarga di lingkungan saya di Medan itu adalah keturunan yang nggak bisa diterima orang Chinese, nggak bisa diterima orang pribumi juga. Jadi makanya saya nggak punya teman, di lingkungan teman-teman sekolah saya, karena banyak orang Chinese-nya. Di lingkungan rumah tangga saya kebanyakan orang pribumi. Karena di rumah saya di belakangnya ada warung kopi, ada orang Aceh, ada orang Padang, ada orang Jawa.

Saya di lingkungan yang dianggap jenis yang tidak bisa diterima sini, nggak terima situ. Jadi di-bullying lah, gampang lah, apalagi anak sekarang sudah pakai celana dalam, zaman itu saya nggak ada celana dalam, celana dari karet, paling sering diplorotin.

Kalau berantem saya nggak punya siapa-siapa, saya anak paling sulung. Sedangkan orang tua saya banyakan di pasar, yang satu ikut kapal biasanya.

Dalam lingkungan yang mungkin kondisinya bukan jagoan di tempat saya, maka saya di-bully abis. Tapi itu membuat saya bersyukur sih dalam arti tidak membuat saya merasa upper, ataupun punya teman banyak, saya selalu merasa rendah diri. Makanya saya bersyukur di semua tempat saya bekerja saya selalu melihat diri saya bukan sebagai owner, saya selalu melihat saya itu one of the helper, saya membantu siapa saja bisa saya bantu dengan mudah, karena memang culture saya begitu.

Walaupun kemudian bisa buka bisnis, punya perusahaan, punya saham, tapi selalu lebih melihat diri saya itu one of the manager, sehingga saya bekerja itu tidak merasa saya yang punya, saya ini harus kerja keras, nah itulah culture-nya, minority itu seperti itu.

Sikap itu membuat Bapak bisa terus bertahan?

Dengan sikap seperti itu kita bisa diterima oleh siapa saja, banyak temen, yang bos kita terhadap kita baik, temen kita juga baik, tapi ternyata membuat diri kita punya banyak kemampuan.

Simak juga Video: Putra Mahkota JNE Memulai Karier dari Kurir

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT