Listrik PLN Hidupkan Petani Beras Organik Kesukaan Sultan Brunei

Advertorial - detikFinance
Kamis, 07 Nov 2019 00:00 WIB
Warga Krayan saat menjemur padi adan di Desa Ba'sikor (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Jakarta - Nama Krayan memang masih terdengar asing di telinga. Bak hidden gem, wilayah di Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini punya kekayaan alam dan keaslian suku Dayak Lundayeh yang sangat unik.

Tak berhenti sampai di situ. Krayan juga terkenal dengan produksi beras organiknya yang tersohor hingga ke negara tetangga. Konon, beras organik asal Krayan yang bernama beras adan ini adalah kesukaan keluarga Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.

Hal ini terungkap dari penuturan Ketua Komisi Ekowisata Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) Alex Balang saat ditemui tim detikcom beberapa waktu lalu. Alex mengatakan beras adan hanya dapat tumbuh di Krayan. Begitu pun dengan kerbau yang digunakan untuk membajak sawah, semuanya organik.

"Jadi di sini ada beras adan namanya. Berasnya organik, tidak mengandung bahan kimia. Dan beras ini hanya bisa tumbuh di Krayan," kata Alex.

Adapun, beras adan punya tiga varietas, di antaranya merah, putih dan hitam. Ketiganya punya kandungan masing-masing. Untuk beras adan putih memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi. Sementara yang berwarna merah dan hitam punya kandungan mineral dan protein yang lebih tinggi.

Sejak 2012, beras Adan sudah diakui sebagai hasil produksi Krayan. Melalui Sertifikat Indikasi Geografis Beras Adan Krayan dengan nomor ID G 000000013 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Ditemui dalam kesempatan terpisah, petani sekaligus Kepala Desa Ba'sikor Long Midang Krayan, Yeukab, mengatakan saat ini para petani di desanya tengah menunggu masa panen. Uniknya, ketika musim tanam tiba para ibu rumah tangga lah yang bertugas menebar benih. Sementara para suami yang memanennya.

"Kalau sekarang kami sedang tidak ke sawah karena baru di tanam bulan sembilan (September) kemarin," tuturnya.

Listrik PLN Hidupkan Petani Beras Organik Kesukaan Sultan Brunei

Beras Adan Krayan berwarna Hitam (Foto: Pradita Utama/detikcom)

Yeukab mengatakan saat musim panen tiba ia bisa mendapatkan produksi beras adan hingga 500 kaleng. Harga jual per kalengnya pun bervariasi. Untuk yang 5 kilogram harganya dipatok Rp 350 ribu. Sedangkan per kilogramnya dipatok sebesar Rp 78 ribu untuk yang sudah dikemas.

Petani menanam ketika musim hujan tiba. Umumnya pada Agustus hingga September. Jadi, hanya sekali dalam setahun. Pernah ada penelitian yang mencoba dua musim panen di Krayan Barat namun tidak berhasil. Kata Yeukab, ini dipengaruhi oleh jenis padi dari beras adan.

"Saat padi biasa dibawa ke Krayan dan ditanam, tidak tumbuh begitu pula sebaliknya, padi Krayan tak mau tumbuh juga bila ditanam di daerah lain. Padi adan ditanam di Nunukan, Malinau, tak mau harus di tanah Krayan," jelasnya.

Sebelum datangnya listrik di Desa Long Midang, Yeukab mengaku kerap terganggu akan adanya hama. Biasanya setelah panen para petani beras adan menaruh padi mereka di lumbung-lumbung yang letaknya ada di bawah rumah.

Seperti petani pada umumnya, setelah memanen padi biasanya warga menjemur di halaman rumah. Sore harinya, mereka menggiling padi untuk disimpan di lumbung. Rumah orang Dayak Lundayeh kebanyakan adalah rumah panggung. Mereka menjadikan basement rumah mereka menjadi lumbung.

Listrik PLN Hidupkan Petani Beras Organik Kesukaan Sultan Brunei

Kepala Desa Ba'sikor Long Midang Krayan, Yeukab (Foto: Pradita Utama/detikcom)

"Listrik sangat pengaruhi kegiatan kami. Waktu belum ada listrik biasanya padi sebelum digiling dimakan tikus-tikus itu. Tapi kalau terang malam hari, pakai lampu sudah tidak ada lagi tikus datang," jelas Yeukab.

Selain membantu penerangan, adanya listrik juga memecah aktivitas keluarga di desa saat malam hari. Yeukab mengaku saat listrik belum masuk di Long Midang, biasanya malam hari tak ada aktivitas apa-apa. Sekarang anak-anak dan cucunya bisa belajar dan menonton televisi hingga larut malam.

"Sekarang sudah enak, ada pekerjaan jauh. Sebelum ada listrik hanya siang saja kami bekerja, sekarang bisa bekerja malam," ungkapnya.

Ia mengaku senang kehadiran listrik yang disediakan oleh PLN bisa mempemudah pekerjaannya. Yeukab pun berharap seiring dengan masuknya listrik, ke depannya ada juga bantuan dari sisi pengairan. Diungkapkan Yeukab musim kemarau yang telah terjadi beberapa bulan terakhir membuat padi adan menjadi mati alias ada yang gagal panen.

"Beberapa bulan ini kemarau masyarakat ada yang mengeluh padinya setelah menanam lalu kemarau sehingga mati tak ada air. Sehingga (pengairan) itu yang sangat diperlukan oleh masyarakat karena kan mata pencaharian utama di Krayan adalah di bidang pertanian," tuturnya.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!


(adv/adv)