RI Punya 270 Ahli Perdagangan Internasional, China dan India 7.000

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Rabu, 05 Apr 2017 14:20 WIB
Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance
Jakarta - Menurut data International Chamber of Commerce (ICC) Indonesia, sampai saat ini orang Indonesia yang memegang sertifikasi internasional di bidang Trade & Guarantee, yang tersebar di berbagai Bank Devisa masih sekitar 270 orang.

Jumlah ini masih sangat kurang bila dibandingkan dengan negara lain seperti China dan India, yang memiliki lebih dari 7.000 orang pemegang sertifikat international trade yang dikeluarkan oleh the institute of banking and finance, Inggris, bekerja sama dengan ICC Academy.

Demikian diungkapkan oleh Chair Banking Commission ICC Indonesia, Herry Hykmanto dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (5/4/2017).

"Hal ini menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian dalam pertemuan tahunan ICC Banking Comission yang diadakan di Jakarta, karena bisa mendukung kegiatan usaha yang berkaitan dengan perdagangan internasional dan menjadi tolok ukur atau standar industri bagi para profesional," katanya.

Baca juga: Pengusaha Dunia Kumpul di RI Bahas Pembiayaan Perdagangan

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Haddad mendukung adanya peningkatan jumlah SDM yang tersertifikasi dalam hal pembiayaan perdagangan internasional.

"Ini penting untuk mempermudah akses kita. Saya kira alasannya kuat kenapa kita harus punya kapasitas di dalam trade finance ini, karena itu mendukung kegiatan ekonomi kita, maka kualitas pengembangan SDM akan jadi fokus antara kita dengan ICC Indonesia," ungkapnya.

Seperti diketahui, Certified International Trade and Finance (CITF) menjadi sertifikat profesi di bidang International Trade and Finance yang akan menunjang profesi, karena mencakup pengetahuan secara menyeluruh proses international trade financing dan mitigasi risiko dalam program pembiayaan.

"Jadi tantangannya kita harus melengkapi bank dengan kapasitas orang-orangnya yang punya keterampilan ini. Kita ingin fasilitasi para bankers Indonesia yang paham trade finance, terutama untuk buka akses UMKM ke keuangan harus kita perbanyak. Makanya pertemuan ini menjadi penting, bagaimana ada keterampilan khusus untuk trade financing," tukasnya. (hns/hns)