Follow detikFinance
Selasa 16 May 2017, 18:09 WIB

Ambisi China Itu Bernilai Rp 13.000 Triliun

Wahyu Daniel - detikFinance
Ambisi China Itu Bernilai Rp 13.000 Triliun Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta - Akhir pekan lalu, China mengumpulkan pimpinan sejumlah negara dunia dalam acara One Belt and One Road Forum for International Cooperation atau yang dikenal dengan sebutan jalur sutra modern.

Acara yang digelar di Beijing ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam acara tersebut, Presiden China, Xi Jinping, berjanji menggelontorkan investasi hingga US$ 1 triliun atau lebih dari Rp 13.000 triliun, untuk membangun infrastruktur yang luas di 60 negara di dunia.

Dari jumlah itu, sebanyak US$ 124 miliar atau sekitar Rp 1.649 triliun dihabiskan untuk membangun jalur sutra, yang menghubungkan China dengan negara di berbagai belahan dunia.


Ambisi China memang keras untuk mendorong perekonomiannya yang saat ini trennya tengah turun. Lewat jalur sutra dan investasi ini, China bisa mendorong perekonomiannya lebih kencang lagi. Kondisi ekonomi China berpengaruh terhadap perekonomian dunia. China merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.


Lewat janji investasi US$ 1 triliun, China ingin memperkuat pengaruhnya secara global.

Seperti ditulis New York Times, China saat ini tengah membangun rel kereta di Laos. Rel ini bakal menghubungkan 6 negara di Asia dengan panjang 260 mil. Nilai proyek US$ 6 miliar atau sekitar Rp 80 triliun.

Untuk proyek ini, para pekerja banyak didatangkan dari China. Artinya penyerapan tenaga kerja di negara tersebut juga terjadi.

Kemudian, China juga sedang membangun pembangkit listrik di Pakistan untuk menyelesaikan masalah kekurangan listrik di negara tersebut. Nilai investasi China mencapai US$ 46 miliar.

Belum selesai, China juga berencana untuk membangun rel kereta yang menghubungkan Budapest dan Belgrade di Serbia. Rel ini menjadi penghubung pengiriman barang asal China ke Eropa.

Selain melancarkan jalur perdagangan, pembangunan infrastruktur juga dilakukan agar perusahaan konstruksi China bisa mendapatkan proyek di luar negaranya.

Kemudian juga, permintaan industri di China bakal terus ada dengan pembangunan infrastruktur tersebut. Industri seperti semen, baja, dan permesinan akan berkembang.

Langkah China menggelontorkan banyak investasi di negara luar dinilai bertujuan mencari kawan baru untuk menjadi sekutunya, tanpa perlu melakukan invasi militer.

Ekspansi China bahkan meluas hingga ke Afrika. Contoh saja Kenya. Di negara tersebut, China melakukan investasi peningkatan kapasitas rel kereta dari pelabuhan di Mombasa ke Nairobi.

Indonesia juga kebagian jatah. Seperti diketahui, China memenangkan proyek pembangunan kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung.

Presiden Jokowi dalam pertemuan di Beijing menawarkan sejumlah proyek infrastruktur kepada China. Ada tiga mega proyek yang ditawarkan Jokowi kepada Presiden Xi Jinping.


Sementara dilansir dari Chinadaily, ASEAN-China akan terus meningkatkan kerja sama perdagangannya. Di 2020, nilai perdagangan ASEAN-China ditargetkan mencapai US$ 1 triliun.

Untuk Indonesia, perdagangan dengan China tidak menguntungkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia selalu mengalami defisit perdagangan dengan China.

Pada 2015, defisit perdagangan yang dialami Indonesia dengan China adalah US$ 15,96 miliar, sementara di 2016 mencapai US$ 15,59 miliar. (wdl/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed