Usul KEIN ke Jokowi Agar Ekonomi RI Tumbuh 6% di 2018

Fadhly F Rachman - detikFinance
Kamis, 15 Jun 2017 15:30 WIB
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah bertemu dengan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Istana Negara, Rabu (14/6/2017) lalu. Dalam pertemuan itu, KEIN menyampaikan berbagai hal kepada Jokowi.

Wakil Ketua KEIN, Arief Budimanta, mengatakan KEIN melaporkan sejumlah hal mulai dari melaporkan hasil roadmap industrialisasi Indonesia 2045 yang telah dirampungkan, serta masukan-masukan agar pemerintah dapat menjaga target pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan investasi.

"Yang paling utama itu rekomendasi KEIN untuk menjaga agar di tahun 2017 ini kita bisa capai Pertumbuhan Ekonomi 5,3%, kemudian di tahun 2018 itu kita bisa mencapai tumbuh 6%, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan serius," kata Arif di kantornya, Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Arif mengatakan untuk dapat menjaga target pertumbuhan ekonomi tahun ini, pemerintah perlu menjaga momentum ekspor yang saat ini tengah membaik. Itu perlu dilakukan, kata Arif, karena mitra-mitra dagang RI, seperti China, Eropa, dan beberapa negara Eropa besar lainnya juga tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Dengan begitu, harga komoditas akan terus mengalami perbaikan dan menjadi momentum pertumbuhan ekonomi RI.

"Sehingga diplomasi perdagangan, produktifitas, kemudian efisiensi produksi maupun dalam konteks birokrasi harus dijaga, sehingga volume atau nilai ekspor kita lebih baik lagi dibandingkan triwulan satu. Ya syukur-syukur ekspornya bisa di atas 5% sampai akhir tahun 2017," terangnya.

Selain menjaga momentum ekspor, investasi juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Arif mengatakan agar investasi bisa masuk, maka pemerintah perlu menyediakan skema penawaran investasi yang jelas terhadap para investor. Pemerintah juga dinilai perlu menjaga stabilitas politik dalam negeri.

"Ini ekuitynya harus datang dari market apa itu private ekuity yang dalam negeri atau luar negeri. Supaya ekuity ini datang masuk ke Indonesia dan investasi datang, maka harus dilembangkan skema-skema dan menu-menu yang atraktif terhadap investor," katanya.

"Dan ini sudah biasa dilakukan dengan negara-negara lain. Apakah itu misalnya konsesi, bagi hasil, perpanjangan, dan ini semua membutuhkan satu hal, yaitu stabilitas politik. Tanpa stabilitas politik maka aktivitas investasi akan ragu-ragu masuk," sambung dia.

Tak hanya itu, Arif mengatakan, pemerintah juga perlu menjaga laju inflasi menjadi lebih rendah, khususnya inflasi terkait harga komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

"Karena kalau inflasinya tinggi pasti akan berpengaruh secara tidak langsung pada suku bunga, dan daya beli masyarakat. Jadi inflasi khususnya bahan pangan strategis harus dapat benar-benar dijaga, sehingga inflasinya kita harapkan di bawah 2%"

"Ini yang kalau kita bicara mengenai PE dan jaga momentum negara mitra, harga komoditi baik, stabilitas politik baik, ini harusnya dapat mengungki PE RI lebih berkualitas dan lebih baik lagi," katanya.

Lebih lanjut Arif mengatakan, Jokowi tak meninggalkan catatan terhadap masukan serta roadmap yang telah dibuat oleh KEIN.

"Beliau kalau untuk pilihan-pilihan ini udah bagian daripada aktivitas ekonomi rakyat. Tinggal kemudian kita harus mempercepat agar bergerak lebih terstruktur sehingga memberikan kontribusi yang maksimal bagi kesejahteraan rakyat," katanya. (dna/dna)