Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 26 Sep 2018 13:24 WIB

Alsintan Jawab Tantangan SDM di Sektor Pertanian

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: dok. Kementan Foto: dok. Kementan
Jakarta -

Pergeseran pola pikir dan perkembangan teknologi membuat generasi muda saat ini yang dikenal dengan istilah milenial enggan bekerja di sektor pertanian. Mereka lebih memilih merantau ke kota besar untuk menjadi pekerja di sektor jasa hingga buruh pabrik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian lantaran sdm di sektor pertanian pun muali berkurang.

Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh pemerintah lewat program bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi petani yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan).

Menurut Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, tenaga buruh tani mulai tergantikan alsintan. Ini terjadi secara alamiah seiring menyusutnya jumlah buruh tani, karena banyaknya pemuda yang lebih memilih menjadi buruh ketimbang petani.

"Akhirnya petani meminta alsintan seperti alat panen combine harvester dan alat tanam trasplanter. Bantuan alat itu pun turun atas usulan para petani," kata Cellica dalam keterangan tertulis, Kamis (26/9/2018).

"Kalau ada kelompok tani yang belum kebagian bantuan, mungkin hanya persolan waktu. Atau mungkin juga persyaratan administrasinya kurang lengkap," tambahnya.
Hingga kini Kementerian di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman ini telah menggelontorkan lebih dari 300 ribu alsintan ke seluruh pelosok tanah air.

Widodo, petani cabai di daerah Tegalrejo Magelang mengatakan, bantuan alsintan dari Kementan sangat terasa manfaatnya.

Selain mempercepat pengolahan lahan juga menekan biaya pengolahan lahan hingga 90%.

"Biasanya kalau dengan nyangkul, kami harus keluarkan biaya 1 juta tiap 1.000 meter persegi lahan. Dengan kombinasi handtraktor dan cultivator, kami cukup keluar 4 liter solar dan ongkos operator 50 ribu per 1.000 meter persegi," kata Widodo di Magelang.

Ia menambahkan, jika menggunakan buruh cangkul, biaya pengolahan lahan cabai yang dikeluarkan sebesar Rp 10 juta per ha. Namun, dengan menggunakan alsintan, biaya turun drastis yakni hanya Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per ha.

Biaya buruh cangkul yang semakin mahal, memang menjadi beban tersendiri bagi petani. Susiono - petani bawang merah di Desa Pasir Mijen Demak, mengaku bantuan cultivator meringankan beban biaya produksi, terutama saat pembuatan atau pengolahan bedengan.

"Sangking mahalnya upah buruh cangkul, kadang penghasilan mereka malah lebih gede daripada petaninya sendiri. Selain cultivator, petani bawang di sini juga butuh instalasi sprinkle untuk penyiraman sekaligus mengusir hama bawang merah," tuturnya.

Modifikasi Maksimalkan Pemanfaatan Alsintan

Manfaat dan kegunaan yang dirasakan bagi petani, membuat Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) memodifikasi alsintan. Khususnya yang sudah tidak lagi bisa difungsikan. Bengkel UPJA Mandiri di Kabpaten Way Kanan, Provinsi Lampung memodifikasi traktor roda dua, roda empat, dan combine harvester.
Modifikasi dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan alsintan.

"Ada juga modifikasi yang kami lakukan untuk menekan biaya perawatan," ujar Rasid Wahyono, Ketua UPJA Mandiri, beberapa waktu lalu.
Traktor roda dua yang sudah tak optimal bisa dimodifikasi untuk menaruh dan membawa mesin pompa air ke sawah.

"Pompa air ini kalau dipanggul berat. Selain itu, jarak antara rumah dan sawah jauh, sehingga setelah dilakukan modofikasi traktor roda dua bisa dipakai untuk mengangkut pompa air," jelas Rasid.

Selain itu traktor roda dua juga bisa dimodifikasi sebagai alat pencacah pelepah sawit, alat pencacah rumput (glagah), hingga mesin penanam jagung yang mempu menanam 4 deret sekali jalan.

Selain memodifikasi, UPJA Mandiri juga mengajarkan cara operasionalisasi alsintan ke petani, kelompok tani dan penyuluh. Bagi Rasid pelatihan ini sangat penting untuk mendukung mekanisasi pertanian yang dilakukan Kementan.

"Kebetulan kami dipercaya sejumlah penyedia alat dan pemerintah daerah (Pemda) setempat untuk melakukan pelatihan cara mengoperasikan alsintan ke sejumlah poktan dan gapoktan," jelasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed