Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 10 Nov 2018 08:51 WIB

Mengurai Benang Kusut Keputusan Impor Jagung 100.000 Ton

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Andhika Akbarayansyah/Tim Infografis Foto: Andhika Akbarayansyah/Tim Infografis
Jakarta - Rencana impor jagung 100.000 ton memicu polemik. Ketika rapat terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang memutuskan impor tersebut, pihak Kementerian Pertanian (Kementan) malah merilis data produksi jagung yang disebut surplus 12,9 juta ton tahun ini.

Bagaimana sebenarnya perjalanan keputusan tersebut?

Kementan Batasi Impor Jagung Sejak 2015

Mulai tahun 2015, Kementan melakukan pembatasan ketat impor jagung.

Selain membatasi impor, Kementan Juga meminta pelaku usaha skala besar untuk menyerap jagung petani. Langkah ini dilakukan untuk melindungi para petani. Pasalnya, di tahun 2015, harga jagung petani merosot sampai Rp 1.500/kg.

Akhirnya, pada tahun 2016, Kementan menjalin kerja sama dengan 41 pabrik pakan ternak yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), untuk melaksanakan skema penyerapan sesuai pembagian wilayah.

"Kita petakan dan bagi wilayah 41 perusahaan yang punya wilayah masing-masing. Charoen Pokphand dimana, Japfa dimana. Jadi pengusaha tenang, petaninya untung," ungkap Amran pada Senin (19/9/2016).

Baca Juga: Batasi Impor Jagung, Mentan Amran Ingin Lindungi Petani

Stok Jagung Dalam Negeri Menipis

Namun, produksi jagung dalam negeri belum sepenuhnya bisa memenuhi konsumsi industri pakan ternak.

Pada tahun 2017, keluhan soal minimnya pasokan jagung mulai bermunculan. Pada Maret 2017, Peternak ayam pedaging (broiler) dan peternak ayam petelur (layer) menggelar demo di depan Istana Merdeka. Mereka mengeluhkan mahalnya harga jagung untuk bahan baku pakan ternak, serta anjloknya harga telur di kandang peternak.

Koordinator Aksi Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN) Peternak Ayam Telur Blitar, Diko, mengatakan peternak layer di wilayahnya terpukul karena langkanya jagung untuk pakan ayam. Kalau pun ada pasokan jagung, harganya terbilang mahal.

"Bukan mahal lagi, langka. Kalau mahal kan ada barangnya, ini kosong, susah carinya. Ini keluhan peternak telur ayam di Blitar, bisa survey langsung ke Blitar kalau jagung itu lagi sulit sekali," ucap Diko dalam aksi yang digelar, Kamis (30/3/2017).

Baca Juga: Demo ke Jakarta, Peternak Ayam Curhat Pasokan Jagung Minim

Minta Impor Jagung Diberi Izin Impor Gandum

Kelangkaan jagung rupanya tak hanya dialami kalangan peternak kecil. pada Agustus 2018, pelaku usaha memberikan peringatan ke Menteri Pertanian bahwa pasokan jagung lokal mulai menipis.

Mereka pun mengajukan rekomendasi izin impor. Namun, bukan izin impor jagung yang mereka dapat. Kementan malah memberikan rekomendasi impor gandum.

"Kita sudah usulkan tiga bulan (Agustus) yang lalu, kita warning, ini lho jagung agak berkurang. Oleh karena itu butuh solusi dan baru sebulan yang lalu memberikan lampu hijau ada impor gandum," kata Penasihat Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman Kepada detikFinance, Rabu (7/11/2018).

Solusi dari Kementan dengan memberikan rekomendasi izin impor gandum tentu saja tak serta merta melegakan pelaku usaha.

Nilai dolar Amerika Serikat yang tengah tinggi, waktu yang belum masuk masa panen gandum di negara asal impor, hingga dampak penggunaan gandum pada menurunnya kualitas daging ayam menjadi alasan rekomendasi impor gandum tersebut tak segera direalisasikan.

"Pakan ternak itu pakai jagung saja yang bagus. Kalau pakai gandum itu warnanya pucat dan perlu ada tambahan zat lagi kan kalau pakai gandum. Sedangkan jagung itu nggak perlu tambahan," kata Sudirman.

Baca Juga: Alasan Perusahaan Pakan Ternak Tak Impor Gandum

Keputusan Impor Jagung 100.000 Ton

Melihat kondisi tersebut, Kementan lantas berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian untuk membahas masalah kelangkaan jagung di dalam negeri.

Pada Jumat (2/11/2018) Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi yang dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, dan beberapa pejabat lain.

Rapat tersebut pun menghasilkan keputusan impor jagung segera sesuai dengan usul Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

"Ya jadi jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan, dan Menteri Pertanian mengusulkan kita impor dan perlu cepat," kata Darmin di kantornya, Jakarta, Jumat (2/11/2018).

Baca Juga: Setelah Beras, Kini Pemerintah Mau Impor Jagung 100.000 Ton (dna/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com