Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 22 Jul 2019 13:38 WIB

Mau Jadi Negara Maju, RI Perlu Tingkatkan Angkatan Kerja Perempuan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Danang Sugianto/detikFinance Ilustrasi/Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Indonesia diproyeksi masuk dalam lima besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia pada 2045 mendatang. Di usia yang ke-100 tahun tersebut, Indonesia diramal akan menjadi salah satu taring ekonomi di dunia dengan sejumlah potensi yang dimilikinya saat ini.

Namun ada sejumlah tantangan yang tak mudah dan perlu diantisipasi Indonesia dalam mewujudkan misi tersebut, salah satunya masih tingginya ketimpangan gender dalam partisipasi ekonomi di Indonesia. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan jumlah angka angkatan kerja perempuan Indonesia saat ini jauh lebih rendah dibanding laki-laki.

Tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki di Indonesia saat ini tercatat sebesar 83,18%, sedangkan perempuan 55,5%. Ditargetkan pada 2045 mendatang, partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia bisa naik di level 65%.

"Labor force wanita di Indonesia masih rendah. Di negara maju minimum 70-80%, tapi kita masih 50%," katanya dalam acara IDF 2019 di JCC Senayan, Jakarta, Senin (21/7/2019).


Dia bilang, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia perlu ditingkatkan guna mengoptimalisasi capaian target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Salah satu cara yang dilakukan saat ini kata dia adalah dengan menciptakan lapangan kerja yang tidak diskriminatif.

"Atau lewat internet, kerja digital dari rumah. Sehingga tetap kerja produktif menghasilkan income tapi tidak meninggalkan keluarga. Saya lihat digital ini bisa meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi maupun difabel" ungkapnya.


Dengan angkatan kerja perempuan yang lebih tinggi di masa mendatang, serta peningkatan angkatan kerja yang bekerja di sektor formal, pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa terus meningkat. Bappenas memproyeksi pertumbuhan ekonomi di 2024 bisa dicapai di level 5,5-6% dengan angka kemiskinan mendekati 5%.

"Kita perbaiki lebih banyak yang bekerja di sektor formal. Baik sebagai pengusaha maupun bekerja. Upahnya semakin baik dan kurangi kemiskinan. Jadi nggak cuma kurangi angkanya tapi juga kualitasnya ditingkatkan," katanya.

Simak Video "Di Aturan Baru, Posisi untuk Pekerja Asing Makin Banyak"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com